
Pagi harinya, Jessica terbangun dari tidurnya. Semalam tidurnya sangat nyenyak, mungkin rasa lega karena kelulusannya dari Universitas yang selama ini ia agung-agungkan itu. Namun ada yang membuatnya bingung saat melihat seseorang yang masih tidur di sampingnya dalam posisi menutup seluruh tubuh dengan selimut. Jessica membelalakkan matanya menatap siapa yang sedang tidur bersamanya, ia tak percaya bisa-bisa nya membawa orang lain ke kosan nya. Seingatnya, semalam dia minum-minum bersama Sherina di bar lalu setelah itu.....
Mungkinkah Sherina meninggalkannya sendiri di bar dalam keadaan tidak sadarkan diri ? atau dirinya sendirilah yang mengajak seseorang untuk pergi dari sana dan tidur di kosan nya ? Ah. Sungguh, baru kali ini Jessica melakukan hal ceroboh seperti ini. Apakah semalam nafsunya meninggi hingga mengajak orang yang sedang tidur bersamanya saat ini ke kosan nya ? Jessica menatap tubuhnya, melihat kancing celana jeans nya yang masih melekat rapi, lalu bajunya yang seperti menandakan tidak ada adengan negatif semalam.
Perlahan Jessica membuka selimut itu dari atas, tak seperti biasanya kini keberaniannya sangat berkurang.
“H-Hah ? Sher....”
“Akh. Ini masih pagi, aku masih mengantuk.” Sherina yang merasa tidurnya diganggu menarik kembali selimut itu.
“Sherina, k-kenapa kau ad-“
“Aku tidak ada kelas pagi hari ini jangan ganggu aku,keluarlah dan tutup pintunya.” Suara serak Sherina yang seakan-akan menganggap ia sedang tidur di kamarnya sendiri membuat Jessica mengacak-acak rambutnya.
Ya Tuhan, kapan aku mengajaknya kesini ?
Batin Jessica mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam.
“Ah sial” Desis Jessica yang tak berhasil mengingat apa yang terjadi semalam sehingga membawa Sherina ke kosan nya. Ia menatap gadis yang masih terbaring nyenyak di atas kasurnya kemudian ia memutuskan untuk mandi manatau bisa mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya.
Sherina merasa terganggu karena mendengar suara-suara berisik dari luar kosan. Biasalah, kalau di kos-kosan sering ramai apalagi kosan itu bebas 24 jam jadi tidak akan ada yang marah apabila berisik setiap saat, hanya saja ini tergantung kesadaran masing-masing yang menempati kosan itu.
“Astaga, bisakah kalian tidak terlalu berisik. Aku sangat pusing, jadi tolong berhenti membangunkanku.” Sherina yang tidak kuat dengan suara berisik itu akhirnya bersusah payah mengeluarkan energinya. Pikirannya masih sama, ia sedang tidur di kamar nya. Sedangkan Jessica yang baru saja keluar dari kamar mandi sedikit terkekeh mendengar celotohan Sherina.
Bocah itu belum sadar apa bagaimana ? pasti ia mengira sedang tidur di kamarnya.
“Sherina, kapan mau pulang ? Aku mau pergi ada urusan sebentar.” Ucap Jessica sambil menggosok-gosokkan rambutnya menggunakan handuk kecil.
“Mmmhh, Pergi saja. Lagi pula kau tidak biasanya minta ijin begini.” Masih mengguman tak jelas. Namun tiba-tiba mata Sherina membelalak didalam selimut. Hah ? Itu suara wanita yang sangat ia kenali, kenapa bisa ada di kamar nya ? Tidak, tidak mungkin Sherina membawa orang lain menginap di rumah nya. Ya, meskipun ia bisa saja mengijinkan, tapi tidak mungkin Jessica mau menginap di rumah nya. Begitulah pikiran Sherina sambil menerka-nerka apa yang sedang terjadi. Namun saat ia mencium bau selimut itu, ini bukan miliknya. Ranjang yang sedang ia tempati ini bukan miliknya, lantas punya siapa ? Dengan cepat Sherina membuka selimut itu, rasa kantuknya tiba-tiba pergi begitu saja.
__ADS_1
“HAH?” Kalimat yang keluar dari mulut Sherina membuat Jessica sedikit kesal.
“Hah hoh hah hoh. Cepat pulang, aku mau pergi.” Ucap Jessica cuek sambil mengeringkan rambut menggunakan hair dryer.
“Kena-“
“Seharusnya aku yang bertanya padamu kenapa kau bisa ada di sini ? atau jangan-jangan semalam kau sengaja membiarkanku mabuk dan....” tubuh Jessica berbalik, mata tajam nya menatap Sherina yang masih duduk diatas ranjang.
“Apaan sih, kau bicara apa ? kita mabuk semalam ?” Sherina memastikan ucapan Jessica dengan santai.
“HAH ? KITA MABUK SEMALAM DAN TIDUR DI KOSAN MU ?” Sherina membelalakkan mata mengulang kalimatnya sendiri.
“Mati aku, kenap... Akh” Sherina mencari ponselnya yang kebetulan ia letakkan di balik bantal. Melihat notif di ponselnya, lagi-lagi Sherina merutuki dirinya sendiri sehingga membuat Jessica bingung.
“Ada apa ?” Jessica yang mulai kepo mendekati dan duduk di tepi ranjang.
“Yasudah, cepat siap-siap pulang. Jelaskan apa yang terjadi semalam sehingga kau tidak pulang ke rumah.” Ucap Jessica memberi saran seakan-akan tahu apa yang dibicarakan Erick padanya lewat chat. Sherina mengangguk cepat, dan keluar dari kamar Jessica setelah berpamitan.
Sherina menghempaskan tubuhnya di kursi kemudi, menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Mencoba menenangkan dirinya sendiri yang sedari tadi gelisah, setelah itu Sherina menarik pedal gas meninggalkan kosan Jessica.
“Tuan putri sudah pulang ? Tumben.” Sapaan Erick pagi itu saat melihat Sherina muncul. Yang disapa hanya cengengesan sambil mendekati Erick yang sedang duduk di sofa, jari dan matanya sibuk dengan tab yang ada di tangan nya.
“Pagi kakak ku yang tampan seduniaaa” Ucap Sherina bergelendot disebelah Erick.
“Lagi apa sih ? serius banget kayanya, kalau begitu aku mandi dulu ya. Bye” Sherina bangkit dari duduknya dan hendak pergi ke kamar, namun langkah nya terhenti saat Erick memanggil namanya.
“Sherina Fernandez”
Gila. Sherina benar-benar tak bisa berkutik sekarang, kalau Erick sudah memanggil namanya dengan nama panjang begitu berarti ada sesuatu yang menurutnya bahaya untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
“Ah, kenapa kakak ku sayang” Sherina mencoba mencairkan suasana, meraba bulu kuduknya yang sudah merinding sejak Erick memanggilnya.
“Selesai mandi turun kebawah, kakak ma....”
“Iya, kakak mau sarapan sama Sherin ya ?
Astaga gampang itu mah.” Ucap Sherina tertawa paksa.
“SHERINA FERNANDEZ”
Wah, Sherina benar-benar habis kali ini. Erick sudah memanggil namanya dua kali, berarti ia tak boleh memberi kesempatan ketiga agar Erick memanggil nama panjang nya lagi.
“Iya kak, kenapa ?” masih dengan senyum paksa.
“Selesai mandi turun kebawah sarapan. Setelah itu temui kakak di ruang kerja.” Erick memberikan penekanan pada kalimatnya.
Temui di ruang kerja ? Ah, Sherina benar-benar tak bisa bergerak sama sekali. Ia sudah menduga kakak nya itu pasti akan mengintrogasinya saat kembali ke rumah. Bukan Erick namanya jika tak memberi hukuman kepada orang yang melanggar perintahnya, hanya saja selama ini Sherina mendapat keringanan dari Erick. Jika ditanya kenapa keluarga itu sangat seram, mungkin hanya Erick lah yang bisa menjawabnya.
Ya Tuhan, tolong bantu hamba mu ini. aku tidak melakukan apapun yang membuat kakak marah kan ? Batin Sherina, mengingat-ingat pembicaraannya terakhir kali bersama Erick di kosan Jessica.
.
.
.
.
Jangan lupa feedback nya sayang 😘
__ADS_1