
Jessica mempercepat langkah kakinya menuju kamar kos nya yang ada di lantai 2. Ia membuka pintu dan langsung mendudukkan dirinya di tepi kasur miliknya menenggelamkan wajah di kedua telapak tangan.
“Setelah ini apa yang harus kulakukan ?” Gumamnya mengingat sebentar lagi ia akan sah keluar dari kampus, ia bingung harus bekerja dimana nantinya.
Ting
Satu pesan masuk, Jessica langsung mengambil ponsel yang ia taruh di tas.
Sudah sampai ? kabari aku jika ada apa-apa.
Merasa terlalu diperhatikan, mata Jessica berbinar. Baru kali ini ada orang yang menanyakan kabarnya setelah bertemu.
Kenapa sikapmu seperti ini ? aku takut merasa hutang budi padamu, aku takut jika nantinya tak bisa meninggalkan mu begitu saja.
Batin Jessica mengingat sikap dan perlakuan yang diberikan Sherina padanya selama ini.
Jessica mengaibaikan pesan itu dan langsung mematikan ponselnya. Ia sedang tak ingin diganggu malam ini, ini adalah malamnya. Cukup ia nikmati sendiri.
** Beberapa minggu kemudian **
Hari ini merupakan hari bahagia untuk mahasiswa semester akhir yang telah menyelesaikan sidang skripsi nya. Hari yang akan menjadi hari bersejarah dalam dunia perkuliahan, namun bagaimana dengan Jessica ? terlihat gadis itu meringkuk malas diatas kasurnya, untung saja Sherina tak henti-hentinya menghubungi dirinya sehingga bisa bangun lebih pagi.
“Akh, aku tiba-tiba malas sekali pergi kesana.” Gumam Jessica sambil duduk di tepi kasur. Bagaimana mungkin ia tidak bersemangat di hari-hari bahagia seperti ini ? yang benar saja, semua orang pasti menganggapnya gila.
Perlahan ia mengusap rambutnya kebelakang, mengucek-ucek mata agar tidak mengantuk lagi. Ia mencoba memaksakan dirinya agar punya semangat untuk pergi ke acara wisuda nya.
Jessica melihat Sherina berdiri di depan aula dimana acara wisuda hari ini akan dilakukan disana. Jessica mengernyitkan dahinya, bingung kenapa wanita yang berdiri disana memasang wajah kesal, marah seakan-akan ingin melahap dirinya.
“Sedang apa kau disini ?” Tanya Jessica basa basi, padahal ia sudah tahu alasan kenapa Sherina berdiri disana.
“HAH ? KENAPA AKU ADA DISINI ? APAKAH PERTANYAANMU INI MASUK AKAL ? AKU SUDAH MENGHUBUNGIMU DARI TADI, INGIN MENJEMPUTMU DATANG KESINI, TAPI KENAPA KAU SAMA SEKALI TIDAK PEDULI ?” Ucap Sherina berapi-api.
“Memangnya siapa menyuruhmu seperti itu ? aku tidak minta kau menjemputku.” Ucap Jessica dingin. Sherina memutar bola matanya, menatap Jessica malas. Kemudian melihat tubuh manusia didepannya itu dari atas sampai bawah.
__ADS_1
“Jangan menatapku seperti itu, memangnya aku punya hutang apa padamu ?” Jessica merasa tak nyaman dengan tatapan Sherina.
“Kau datang sendirian ?” Tanya Sherina dengan mata penuh kecurigaan. Jangan-jangan wanita ini tak mengundang satupun keluarganya untuk hadir disini. Begitulah isi kepala Sherina.
“Menurutmu ?” Jessica malah melemparkan pertanyaan padanya.
“Jessica, aku tahu kau sangat susah untuk didekati. Tapi bagaimana mungkin kau hadir disini tanpa ada orangtua mu ? Jangan bilang kau tak memberitahu mereka ?” Mata Sherina menatap wanita itu lekat-lekat.
“Bagaimana bisa aku mengundang orangtua ku saat raga mereka sudah tak terlihat lagi di dunia yang nyata ini ?” Kalimat Jessica berhasil membuat Sherina terdiam, salah tingkah, merasa tak enak.
Demi apapun, tolong tarik kata-kata ku tadi ya Tuhan. Batin Sherina tak bisa berkata-kata.
“Ma-maafkan aku” ucap Sherina tertunduk, merasa bersalah.
“Lain kali tidak perlu menceramahi ku, memangnya kau siapa ?”
Deg
Seperti terkena sambaran petir, jantung Sherina berdegup, merasa sakit yang teramat dalam. Sakit hati ? ya, tentu saja ia sakit hati dengan perkataan Jessica. Memang nya kau siapa ? Ya Tuhan, demi apapun Sherina tak mampu menggerakkan bibirnya. Ia hanya diam mematung menundukan kepala, ingin sekali menangis sekencang-kencangnya, namun ia sadar bahwa ini adalah murni kesalahannya. Tapi walaupun kesalahannya apakah Jessica harus bertanya seperti itu ? Memangnya kau siapa ? jadi selama ini Jessica tak menganggapnya apa-apa ? Berbagai pertanyaan ingin Sherina lontarkan, namun menahannya, karena jika berbicara wanita itu mungkin saja menangis.
Tidak, aku pulang saja. Begitulah kira-kira jawaban yang ada di otak Sherina.
“Emmm, aku mau ikut” Tak sesuai isi kepala, mulutnya bisa-bisanya mengatakan kalimat itu sambil tersenyum kaku. Sherina mengutuki dirinya sendiri, merasa harga dirinya diinjak-injak.
Tanpa banyak bicara, Jessica masuk kedalam aula bersama Sherina. Didalam aula itu sudah diisi banyak orang dengan berbagai wajah yang dihiasi dengan make-up serta tertawa bersama keluarganya. Jessica menatap teman-teman seangkatannya yang sedang berselfie ria bersama kedua orangtua nya dengan mata berbinar, namun segera ia buang jauh-jauh rasa sedih itu dengan memainkan ponselnya. Sherina yang disampingnya merasa iba melihat wanita ini, ia juga bisa merasakan bagaimana perasaan kakak tingkatnya ini. Namun Sherina tidak mau bicara apa-apa, bahkan untuk menyemangati wanita itu saja ia tidak berani, karena Sherina sangat yakin bahwa wanita itu tak suka dikasihani.
Acara wisuda berlangsung saat MC memberi kata sambutan untuk pada hadirin. Yang hadir bersorak, bertepuk tangan meriah saat MC mengucapkan kata-kata lucu. Namun tidak bagi Jessica, matanya memang sedang menatap kedepan, akan tetapi jauh dari lubuk hatinya ia juga menginginkan orangtua yang menemaninya saat merayakan hari dimana ia sudah berhasil menyelesaikan perkuliahannya, saat kerja kerasnya selama ini diakui oleh pihak kampus.
Tak terasa air matanya menitik, sungguh hatinya merasa sakit, mulutnya ingin berteriak menangis, mengatakan bahwa ia merasa iri dengan orang-orang yang masih memiliki keluarga yang utuh. Sherina menyodorkan tissue kepada Jessica, Jessica pun menerimanya dengan sedikir malu.
“Jangan menangis, nanti make-up mu luntur.” Bisik Sherina mencoba menghibur wanita yang tengah dirundung kesedihan itu. Jessica membalas dengan senyuman tipis, ucapan Sherina berhasil membuatnya tersenyum disaat menahan tangis seperti ini. Lagi-lagi Jessica memperhatikan Sherina, wanita yang sudah sibuk sejak kemarin bahkan sampai tadi pagi. Jessica merasa menyesal sudah membuat Sherina sakit hati dengan ucapannya, padahal masih untung Sherina datang bersamanya jika tidak, bisa saja Jessica pulang saat ini karena tak tahan dengan keharmonisan teman-teman nya bersama kedua orangtua nya.
Sherina menatap para wisudawan yang sedang berfoto di atas panggung, ia membuka kameranya, ikut memotret momen itu. Setiap momen Jessica diabadikan oleh Sherina tanpa sepengetahuan wanita itu, entah mengapa wanita ini begitu menyukai Jessica.
__ADS_1
Sherina tersenyum lebar saat Jessica mendekatinya, mata wanita itu berbinar dibarengi dengan senyum indah di bibirnya, senyuman yang sangat manis bahkan Sherina baru sadar ternyata Jessica semanis itu.
Brak
Jessica menabrakkan tubuhnya dengan Sherina, Sherina yang terkejut karena tiba-tiba dipeluk erat hanya diam sambil memikirkan apa yang sedang terjadi. Namun bibirnya tersenyum karena merasa Jessica terharu atas pencapaiannya sendiri.
“Selamat ya, kamu hebat banget.” Gumam Sherina sambil mengelus-elus punggung wanita itu.
“Ayo kita abadikan momen ini dengan foto bareng.” Ucap Sherina melepas pelukannya. Ia menatap Jessica yang menghapus tetesan air matanya. Bibir Sherina kembali mengembang.
“Yuk” Sherina menggandeng Jessica, entah kenapa kali ini Jessica tak menolak sedikitpun. Ia hanya mengikuti keinginan Sherina berfoto dengannya.
Setibanya diluar aula, Jessica terkejut karena supir Sherina datang dengan membawa sebuah buket bunga. Kali ini Sherina memberikan buket gabungan dari beberapa bunga tulip, Jessica terpukau dengan keindahan bunga itu.
“Terimakasih” Ucap Jessica menerima bunga itu, ia mencium aromanya sebentar lalu tersenyum lebar.
“Ohya, pak boleh minta tolong fotoiin kami ?” tanya Sherina kepada supir yang mengantarkan bunga itu.
“Tentu saja nona”
Ya..... 1 2 3 ckrek....
Beberapa foto mereka abadikan disana, senyum Jessica tak pernah lepas dari bibirnya sejak turun dari panggung. Sherina yang menyadari itu pun ikut merasa bahagia, setidaknya masih ada dirinya saat Jessica kesepian.
Sherina apakah kau sudah berhasil membuatku merasa takut kehilanganmu ? aku bingung bagaimana harus menyikapimu, tapi aku juga tidak ingin kamu terluka karena aku ataupun orang-orang yang ingin mencelakakanmu. Apakah mungkin aku sudah menyayangimu ?
Berbagai pertanyaan dibenak Jessica bermunculan saat ia menatap Sherina yang sedang makan lahap didepan nya. Tanpa sadar, bibir Jessica kembali mengukir senyuman menatap gadis itu.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa feedback nya sayang 😘