KETIKA WAJAHKU BERUBAH

KETIKA WAJAHKU BERUBAH
Wanita Tersabar


__ADS_3

Di sebuah kafe yang sering dikunjungi oleh banyak pelajar terlihat Jessica dan Sherina yang sedang tertawa lepas. Sejak Jessica mulai bekerja, ia semakin jarang berkomunikasi dengan Sherina. Sherina paham akan hal itu, ia mengurangi sikapnya yang sering mengajak Jessica keluar.


“Ngomong-ngomong bagaimana dengan pekerjaanmu ? Oh iya, kau belum mengatakan padaku dimana kantor mu.” Tanya Sherina menyedot kopinya.


“Baik-baik saja, belum waktunya kau tahu.” Ucap Jessica singkat.


“Dih, sombong sekali mentang-mentang nggak lama jadi pengangguran. Aku juga tak akan datang ke kantor mu hanya untuk menemui mu kok.” Balas Sherina tertawa kecil. Merasa Jessica masih menyembunyikannya karena takut dirinya tiba-tiba muncul disana.


“Kalau memang begitu untuk apa kau terus-terusan bertanya dimana kantorku.” Ucap Jessica jengkel.


“Hahaha, aku hanya ingin tahu saja.”


“Tapi di kantor ku banyak orang yang tergila-gila pada uang.” Kata-kata itu keluar dengan santainya dari mulut Jessica.


“Maksudmu gila uang bagaimana ? pekerja keras semua ?” tanya Sherina lagi-lagi menyeruput kopinya.


“Iya, Pekerja keras. Terlalu bekerja keras memikirkan bagaimana caranya menggelapkan uang perusahaan.”


“Haaa ? Astaga, mengerikan sekali. Tapi dunia perusahaan memang banyak yang begitu, terlalu serakah.”


“Tapi bagaimana denganmu ? apa kau juga ikut-ikutan dengan mer...”


“Aku tak senaif itu. yang benar saja, apa mereka bisa tidur dengan tenang setelah menggelapkan uang yang bukan milik mereka ?” Potolong Jessica dengan lantang. karena dia memang bukan tipe orang yang seperti itu.


“Hahaha, ya kau memilih jalan yang tepat.” Sherina mengacungkan jempol kearah Jessica dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Hening.


“Kau wanita yang hebat ya”


“Semua wanita di dunia ini hebat. Bukan hanya aku saja. Lagian kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu ?” Ucap Jessica datar.


“Tapi kau selalu berdiri dengan kakimu sendiri, menopang saudaramu dengan tangguh.” Sherina mengalihkan pandangannya kearah lain.

__ADS_1


“Sa-saudara ? Maksud mu “ Jessica panik seketika, karena seingatnya ia tidak pernah membicarakan hal ini kepada siapapun. Termasuk Sherina yang sudah lama dekat dengannya. Sherina kembali menatap Jessica.


“Kau sama seperti kakak ku, Erick. Sangat menyayangi adiknya.”


“Haaa ? se-sejak kapan kau...”


“Kau lupa ? mungkin karena saat itu kau mabuk dan tidak sadar.” Jessica mengingat-ingat kembali kapan terakhir kali ia mabuk dengan Sherina.


“Hari wisudaku ?” tebak Jessica. Sherina mengangguk dengan wajah datar.


“Kenapa hal semacam itu saja kau tutup-tutupi dariku ?” Tanya Sherina sedih, merasa Jessica belum mempercayainya sebagai seorang sahabat.


“Apa saja yang kukatakan padamu waktu itu ?” Tanya Jessica panik.


“Banyak, kau bilang memiliki seorang adik laki-laki yang sedang meneruskan pendidikannya di luar negeri, orang tua mu yang...”


“Cukup.” Jessica tidak mau mendengar apa yang keluar dari mulut Sherina.


“Diam. Aku tak butuh pujian dari siapapun, termasuk dirimu.” Ucap Jessica penuh penekanan.


“Ah, ma-maaf.” Sherina menundukkan kepala, merasa bersalah.


“Lupakan saja apa yang kukatakan waktu itu.”


“Tapi kau hanya bercerita adik dan orangtuamu. Aku disini yang sudah menganggapmu sahabatku, hanya ingin tahu kesulitanmu Jessica. Apa sampai sekarang kau masih tak menganggapku ada ?”


“Lalu setelah kau tahu kesulitanku, lantas bagaimana ? kau ingin mengasihani aku dengan tatapan iba ?” Jessica tersenyum miring.


“Jessica, aku sama sekali tak berniat seperti itu. Justru aku ingin membantu jika aku mampu....”


“Jika tidak ? lagian kenapa sibuk mencari tahu kesulitanku ?aku memang sudah dekat denganmu, tapi bukan berarti kau harus tahu semuanya tentang diriku.” Ucap Jessica tajam.


“Maafkan aku, aku hanya ingin berbuat baik dengan orang terdekatku.” Sherina menundukkan kepala.

__ADS_1


“Sudah hampir malam, aku pulang dulu.” Jessica beranjak dari kursi sambil menenteng tasnya.


“Ohiya, besok kau harus pergi bekerja. Pulanglah, hati-hati dijalan.” Ucap Sherina menatap wanita itu. Perlahan Jessica menghilang dari pandangannya, Sherina memasang wajah sendu mengingat pembicaraannya dengan Jessica. Andai saja ia tak membahas ha itu, mungkin mereka masih tertawa lepas sekarang atau bahkan sudah sampai di mall. Berbelanja layaknya wanita gila yang berdebat untuk memperebutkan produk keluaran terbaru.


Apa aku memang tidak pantas menjadi orang baik bagi orang-orang terdekatku? Aku ingin sekali menjadi orang yang ia hubungi saat kesulitan, aku sangat menyayanginya seperti kakakku sendiri, tapi mungkin aku terlalu berlebihan. Batin Sherina sedih.


Jessica mengehempaskan tubuhnya diatas ranjang, menenggelamkan wajahnya kedalam kedua telapak tangan sehingga rambut panjangnya terurai berantakan. Tak terasa air mata yang sedari tadi ditahan-tahan olehnya mengalir begitu saja. Seperti sedang bertarung dengan rintik-rintik hujan yang kian turun semakin deras bersamaan dengan air mata yang mengalir dari pelupuk mata wanita itu. Jessica si wanita dingin dan ambis itu bisa-bisanya menangis sendiri ditepi kasurnya, ia teringat dengan ucapan Sherina tadi di kafe. Baru kali ini Jessica merasakan kasih sayang dari orang terdekatnya, baru kali ini hatinya terasa sakit saat ada orang lain yang ia temui di kantin kampus bisa membuatnya merasa dicintai. Sherina, gadis itu mampu membuat Jessica merasa hidup kembali setelah kepergiaan kedua orangtuanya. Selama ini ia hidup sendiri, mencari nafkah demi sibungsu yang kini melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Mungkin orang-orang akan bertanya-tanya kenapa sibungsu disuruh keluar negeri untuk melanjutkan pendidikan ? padahal ia disana bukan karena beasiswaa atau bantuan dari orang lain melainkan hasil jerih payah dari sang kakak. Sudah hidup susah kok dibuat makin susah ? Entahlah, mungkin hanya Jessica yang dapat menjawabnya dan kalaupun ditanya mungkin ia hanya bisa marah karena tidak suka dicampuri.


Kau wanita hebat ya, kau selalu berdiri dengan kakimu sendiri, menopang saudaramu dengan tangguh.


Jessica tersenyum tipis mengingat ucapan yang dilontarkan Sherina di kafe tadi. Namun tiba-tiba senyum tipis itu perlahan hilang, air matanya kembali mengalir.


Jessica, aku ingin sekali membantumu jika aku mampu.


Kata-kata itu mendukung pecahnya tangis Jessica yang kian mengeras seiring dengan derasnya hujan yang turun diluar sana.


“Ma-maafkan aku Sherin...maafkan aku.” Ucapnya terisak, menyesali bagaimana caranya merespon ucapan Sherina.


Bukannya Jessica tak tahu berterimakasih atau basa-basi seperti yang dilakukan orang-orang jika sedang mendapat pujian. Namun, ia merasa pujian itu tak pantas untuknya karena merasa itu semua tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh orang-orang, sebenarnya dia tidak sehebat itu, tidak sekuat itu.


"Sherina... kau orang baik, anak baik, wanita yang sangat hebat. Aku baru pertama kalinya bertemu dengan wanita sesabar dirimu dalam menghadapi ku. Padahal...." Jessica mengalihakan pandangannya kearah jendela, menatap rintik hujan yang berjatuhan


"Aku tak sebaik yang kau kira." Jessica semakin sakit hatinya mengingat wanita yang terakhir kali menyakiti hatinya.


.


.


.


.


Jangan lupa feedback nya sayang 😘

__ADS_1


__ADS_2