KETIKA WAJAHKU BERUBAH

KETIKA WAJAHKU BERUBAH
Bingung


__ADS_3

Sudah dua hari sejak Wisnu meminta anak buahnya untuk mencari tahu siapa lelaki yang berada di unit apartemen itu, sampai sekarang belum ada tanda-tanda dari suruhannya. Wisnu hanya bisa membuang nafas kasar saat melihat ponselnya, sudah berkali-kali ia menelepon anak buahnya namun tidak diangkat bahkan ia juga mengirimi banyak pesan tetapi hasilnya  nihil.


“Jessica nanti mau makan mal...”


“Maaf pak Wisnu, saya ada keperluan lain. Terimakasih atas tawarannya.” Jessica tak mengubah sikapnya kepada lelaki itu, semakin hari semakin datar saja sehingga membuat Wisnu merasa sedikit kesal.


“Oh ya ? sayang sekali, kalau begitu lain kali saja.” Ucap Wisnu kecewa.


Kemudian ia pulang ke apartemen nya dengan perasaan kosong, ingin marah karena Jessica selalu menolaknya terasa lucu karena dia bukan siapa-siapa wanita itu. Saat membuka apartemen Wisnu dikagetkan dengan seseorang yang duduk santai di sofanya.


“Javier ?” Wisnu terkejut melihat lelaki itu sudah berada didalam apartemennya.


“Hei” yang disapa hanya tersenyum tipis sambil menghisap rokok ditangan kirinya tanpa beban seakan-akan itu adalah unit miliknya sendiri.


“Apa-apaan kau ? kenapa bisa disini ? lalu itu rokokmu, berani-beraninya kau merokok sembarangan di apartemenku.” Wisnu melepar bantal ke kepala lelaki itu dengan segala emosi yang ada dalam dirinya.


“Aishh.... Dasar pelit.” Javier membuang rokoknya kedalam asbak yang ada diatas meja, melihat hal itu mata Wisnu semakin melotot.


“Sejak kapan di apartemenku ada asbak rokok ?”


“Ya tidak tahu” Javier tersenyum penuh kemenangan melihat Wisnu emosi padanya. Padahal asbak itu sudah ia sembunyikan di rak bawah tv tanpa sepengetahuan Wisnu saat berkunjung ke apartemennya.


“Kenapa tiba-tiba kesini ?” Tanya Wisnu mengesampingkan emosi perihal rokok.


“Ya sudah pasti numpang mandi dan numpang makan” Javier terlihat bahagia saat mengatakan itu karena perubahan raut wajah Wisnu semakin bahaya, ingin menerkam lelaki itu.


“Yaelah, santai aja kali bos” Javier mengubah posisi duduknya menatap Wisnu dengan tatapan serius.


“Jangan kebanyakan bercanda, aku sedang stress.” Ucap Wisnu menstabilkan ketenangan batin dan raganya.

__ADS_1


“Masalah lelaki yang membeli unit disebelahku.” Mendengar itu Wisnu pun mengubah posisi duduknya, terlihat ingin mendengarkan lebih banyak cerita dari Javier.


“Ternyata dia orang penting bahkan kau tak akan percaya bahwa kau mengenalinya” Wisnu menaikkan sebelah alisnya, menerka-nerka siapa maksud Javier.


“Erick Fernandez” Javier meneguk segelas air putih yang sedari tadi berada di atas meja itu, ia menatap Wisnu dengan bibir tersenyum puas.


“Erick ?”


“Iya. Erick Fernandez presiden direktur Dez grup. Bos mu sendiri, hahaha” Javier semakin puas dengan informasi-informasi yang ia dapatkan, apalagi melihat wajah Wisnu yang tampak tidak percaya.


“Hah ?”


“Kau pasti kaget kan ? aku juga seperti itu saat melihatnya masuk kesana, aku yakin itu dia.” Javier menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sambil menyalakan tv.


“Javier apa kau benar-benar yakin itu Erick ? lalu wanita yang kemarin mas...”


“Nah, itu dia.” Javier kembali mengubah posisi duduknya menajdi tegap, bersiap menjelaskan apa yang ia dapatkan beberapa hari ini.


“Ya”


“Astaga, kenapa kau rela mencari tahu itu semua ? kau pasti punya maksud terselubung.” Javier melipat tangan didepan dada, matanya tak lepas dari wajah lelaki yang ada di hadapannya itu.


“Kenapa malah kau yang mengintrogasiku sekarang ? kau lupa siapa yang bekerja disini ?” Wisnu kesal melihat sikap Javier yang terkadang tidak tahu diri.


“Oh iya, aku lupa ternyata disini kau bosnya.” Javier terkekeh pelan, takut melihat sang bos semakin marah.


“Lanjut.”


“Lanjut apanya ? kan sudah jelas, staff mu itu tidur dengan bos nya sendiri. Hah ?” Javier juga terkejut mendengar apa yang  baru saja ia ucapkan.

__ADS_1


“Jadi.... Jessica dan Erick... Wahhh, aku tak menyangka ternyata staff mu sangat beruntung. Tapi kenapa dia menangis saat keluar dari apartemen Erick ?” Javier berkecimpung dengan pikirannya sendiri.


“Apa karena Erick terlalu kasar saat bermain ?” Javier mengeluarkan apa saja yang ada di kepalanya sehingga membuat Wisnu menatapnya tajam.


“Jessica masuk kesana bukan berarti mereka tidur.” 


“Siapa yang tahu ?” Javier lagi-lagi berpendapat seenaknya sehingga satu bantal melayang ke wajahnya.


“Aku curiga Erick mengancamnya diam-diam” Wisnu terlihat serius,


“Jadi kita harus apa sekarang ? kau tahu sendiri kalau Erick itu sangat berkuasa.” Javier pasrah akan tugas selanjutnya yang akan diberikan Wisnu padanya.


“Tidak. Dia tidak sehebat itu.” Wisnu tersenyum miring.


“Tapi aku penasaran, kenapa kau melakukan ini.” Javier akhirnya mengeluarkan unek-uneknya sedari tadi.


“Apa itu penting sekarang ?”


“Ya. Untuk apa kita harus mati-matian kerja keras kalau tidak tahu tujuannya untuk apa.” Javier 


“Aku hanya ingin tahu saja.” Balas Wisnu 


“Apa kau yakin ?” Mata Javier menatap sinis Wisnu yang terlihat kebingungan.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa feedback nya sayang 😘


__ADS_2