
Wanita yang memiliki kulit putih, hidung mancung dan berambut panjang yang di ikat seperti kunciran kuda sedang duduk memainkan ponsel sambil menunggu pesan nya datang. Ia sengaja mengotak-atik ponselnya agar menghilangkan ketegangan dalam dirinya. Ini adalah perusahaan milik orang tua nya yang artinya akan sedikit diberikan kepada dia juga tapi kenapa ia merasa seakan-akan di intimidasi oleh banyak mata yang ada disana ? padahal dirinya tidak melakukan hal senonoh atau membuat keributan.
Ternyata Javier benar, dia memang adik presdir. Tapi kenapa dia baru muncul ? apakah baru lulus ? ah, tapi dia berteman dengan Jessica, yang artinya pasti seusia juga dengannya kan ?
Wisnu mengeluarkan teori-teori baru di kepalanya.
“Itu dia wanita yang kumaksud.” Tiba-tiba suara Yola mengagetkan lamunan Wisnu.
“Kau mengagetkan ku.” Wisnu sedikit kesal menarik bangkunya kebelakang, menghindari dunia pergosipan yang sebentar lagi akan dimulai wanita gila ini.
“Coba perhatikan, kalau dilihat-lihat wajahnya sedikit mirip dengan presdir bukan ?” Tanya Yola yang membuat sebuah pukulan keras muncul di lengannya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Bora, wanita yang selalu bertolak belakang dengan Yola jika membahas masalah orang lain.
“Aduh.. sakit bodoh.” Yola menatap tajam kearah Yola sambil mengelus lengannya.
“Ini jam makan siang Yola, kalau ingin bergosip pergi saja dari sini. Kami sedang ingin menikmati makan siang tanpa fitnah-fitnah yang keluar dari mulut mu.” Ucap Bora yang membuat Wisnu menahan senyumnya.
Ah. seharusnya aku didekat Bora dari tadi. Batin Wisnu merasa lega karena Yola ditegur.
Yola hanya mendecak kesal mendengar teguran dari Bora. Mereka memang jarang sekali akur, tapi jika sedang akur pasti mereka berdua lah yang paling berisik. Wisnu melirik kearah meja Sherina, menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka bertiga karena Jessica juga menghindarinya saat Sherina datang ke kantor.
Sepulang bekerja, Sherina bergegas melajukan mobil untuk pulang. Tadi sehabis makan siang ia melihat Erick pergi terburu-buru dengan wajah yang menakutkan. Sebenarnya Sherina penasaran, namun ia tahu walaupun bertanya pada Erick hanya akan mendatangkan amarah lelaki itu. Sherina berharap Erick bisa ia temukan di rumah entah bagaimana pun kondisinya.
“Ah, sialan.” Decak Sherina memukul stir kemudi karena mobilnya tiba-tiba mati, untung saja tadi ia cepat sadar sehingga masih bisa menepi.
“Apalagi sih ini, apa pak karto tidak memeriksanya terlebih dahulu.” Kesalnya mengingat supir pribadinya yang sedang mengambil cuti dua hari sejak kemarin. Kemudian ia keluar dari mobil itu berharap ada orang baik yang menghampirinya.
“Astaga, aku harus meminta bantuan kemana ?” Sherina mengambil ponselnya mencari kontak tukang bengkel yang bisa datang ke tempat itu. Sherina menghentikan aktivitasnya saat melihat sebuah mobil berwarna putih menepi di depan mobilnya. Ia langsung menyimpan ponsel, menatap pintu orang itu berharap ia segera keluar dan membantu dirinya.
“Apa mobilmu mogok ?” Tanya lelaki itu berlari kecil menghampiri dirinya.
“I-iya, apa kau bisa membantuku ?” Tanya Sherina dengan nada lembut.
“Hmmm... biar kulihat dulu sebentar.”
__ADS_1
Lima belas menit berlalu, Sherina yang berdiri di belakang lelaki itu hanya melirik sekilas apa yang sedang ia kerjakan.
“Ini sepertinya aki nya bermasalah.” Ucapnya membalikkan badan menatap Sherina.
“Ah, benarkah ? lalu bagaiamana ?” Tanya Sherina yang sama sekali tidak mengerti akan hal seeprti itu.
“Sebentar, sepertinya aku bawa aki cadangan di mobil.”
Setelah berhasil meminjamkan aki mobilnya, lelaki itu mencuci tangan menggunakan air mineral yang diberikan Sherina.
“Terimakasih, ngomong-ngomong aku harus membayar berapa ?” Tanya Sherina dengan polosnya.
“Hahaha... tidak apa-apa, aku senang bisa membantu mu.”
“Ah, iya.”
“Wisnu” Ucapnya sambil mengulurkan tangan.
“Sherina” menjabat tangan Wisnu dengan tersenyu ramah.
“Hah ? Eh...I-iya, itu memang aku.”
“Aku kepala keuangan, kapan-kapan datang saja ke bagian keuangan jika kau sedang free.” Tawar Wisnu tersenyum tipis.
“Ah, baiklah. Terimakasih atas tawarannya. Besok aki nya akan ku kembalikan lagi.” Wisnu mengangguk dan menyuruh Sherina pulang terlebih dahulu. Melihat mobil Sherina menjauh, Wisnu melipat tangan di depan dada.
“Lumayan juga. Terlihat polos, tapi aku sudah tahu sebenarnya ia bagaimana.” Gumam nya sambil tersenyum miring.
Sherina melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, tidak sabaran ingin segera sampai di rumah. Ia menapaki ruang tamu dengan wajah gelisah, karena tak menemukan mobil kakak nya ada di garasi padahal dari siang lelaki itu sudah pulang tanpa mengabarinya.
“Mbak, kak Erick kemana ?” Tanya Sherina kepada wanita yang sedang beres-beres di meja makan.
“Tuan muda belum pulang non, bukankah kalian pulang bersama ?” Tanya wanita itu terlihat kebingungan.
__ADS_1
“Ah, tadi aku ada urusan sebentar jadi tidak pulang bareng. Berarti sejak pagi kak Erick belum ada ke sini ya ?” Tanya nya lagi.
“Iya non, sejak kalian pergi tadi pagi Tuan muda belum pulang sama sekali.” Sherina mengangguk paham mendengar penjelasan dari asisten rumah itu.
Jadi kak Erick pergi kemana ? Batin Sherina menerka-nerka kemana lelaki itu pergi.
Ah, mungkinkah terjadi sesuatu dengan...... Tanpa banyak berpikir Sherina bergegas kembali ke dalam mobil menuju suatu tempat yang mungkin bisa menemukan sang kakak disana.
“Astaga kenapa aku baru kepikiran.” Gerutu Sherina sambil menelepon seseorang, namun yang di telpon tidak menjawab sama sekali sehingga membuat Sherina semakin panik.
“Ya Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa.” Gumamnya berharap semuanya baik-baik saja.
Sherina memarkirkan mobil di sebuah bangunan yang tidak terlalu besar namun terlihat mewah dan elegan jika nampak dari luar. Ia memegang gagang pintu, dadanya berdebar berharap tidak terjadi sesuatu yang membuatnya semakin down. Setelah berhasil memasuki rumah itu, Sherina tak menemukan siapapun di ruang tamu. Design rumah yang elegan dan unik terasa sangat nyaman di matanya, setiap kali menginjakkan kaki di rumah ini hatinya terasa damai apalagi mengingat berbagai kenangan yang pernah ia rasakan disini.
Apa tidak ada orang disini ? Batin nya berjalan kearah kamar.
“Apa-apaan ini ? kenapa papa tiba-tiba seperti ini ?” Teriakan seorang lelaki dari dalam kamar itu mengagetkan Sherina, pemilik suara itu tak lain adalah kakaknya sendiri, Erick Fernandez.
“Uhuk...uhuk... Erick....papa hanya menginginkan itu saja sebelum papa pergi meninggalkan dunia ini.” Ucap lelaki yang disebut papa oleh Erick.
“Tidak. Sekalipun papa mati sekarang aku juga tidak masalah. Aku tak akan mau lagi ambil pusing dengan semua ini.” Balas Erick semakin murka.
“Nak....papa ingin melihat kau aman sebelum papa pergi....uhuk...lagian ini juga pesan dari bunda mu...uhuk... aku hanya takut dimarahi bunda jika datang tanpa menepati janji ku dulu padanya.”
“Pa ? papa bisa berpikir tidak ? Erick sudah dewasa, erick sudah mampu mengelola perusahaan dengan baik. Lantas kenapa masih saja mengkhaawatirkan ku ? Aku baik-baik saja pa.” Erick menahan suaranya agar tak membuat lelaki tua itu takut.
“Nak... papa harap kau bisa mengabulkan keinginan orang tua mu. Tolong pikirkan itu baik-baik.” Ucap lelaki itu dengan nada yang semakin melemah.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa feedback nya sayang 😘