KETIKA WAJAHKU BERUBAH

KETIKA WAJAHKU BERUBAH
Datang Padaku


__ADS_3

“Mau pesan apa ?” Tanya Wisnu membaca buku menu yang diberikan oleh pelayan restoran. Jessica hanya mengangkat bahu tanda ia tak ingin makan malam dengan lelaki itu, Wisnu tersenyum melihat respon Jessica kemudian memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka.


“Aku sudah menepati janji ku kan ?” Ucap Wisnu setelah pelayan itu pergi meninggalkan meja mereka. Jessica membuang muka tak peduli dengan ucapan lelaki yang berada didepannya itu.


“Haha... kau kaku sekali, tidak seperti di ran...”


“Cukup” Jessica memukul meja seketika mata pengunjung menatap kearah mereka, Jessica yang menyadarinya pun hanya bisa membuang nafas berat. Wisnu yang sedang menatapnya terkekeh pelan sambil mengangkat tangannya menandakan tidak terjadi apa-apa kepada orang-orang yang menatap mereka.


“Kau hanya mau bicara jika aku membahas itu kan” Wisnu melipat kedua tangan di depan dada, matanya tak pernah berpaling dari wanita dihadapannya.


“Dan apa kau tahu, topikmu tak pernah menarik untukku” Jessica ikut melipat kedua tangan didepan dada.


“Haha... Iya-iya aku mengerti” Wisnu memutuskan tidak membahas itu lagi.


Makanan yang dipesan oleh Wisnu sudah tersaji dihadapan mereka, lalu ia mengajak Jessica untuk memulai makan malam.


“Makan saja sendiri.” Jessica tetap pada pendiriannya, tidak mau makan malam bersama lelaki itu.


“Hmmm, yasudah kalau tidak mau” Wisnu mulai melahap makanan itu, terasa sangat lezat jika melihat cara Wisnu menyantapnya.


Jessica bisa merasakan aroma yang masuk kedalam hidungnya, apalagi melihat Wisnu yang menyantap lezat makanannya. Jessica memegang perutnya seakan menegur cacing-cacing yang sudah minta makan. Untung saja Wisnu tak mendengarnya, kalau sempat ia mendengar suara itu pasti dirinya sudah mengejek Jessica.


Ahh, bertahanlah. Setelah ini aku akan memberimu makan. 


“Ahhh, Aku sangat kenyang” Wisnu meletakkan gelas sebagai penutup makan malamnya. Ia menatap kearah Jessica yang tetap enggan menyentuh makanan itu.


“Kau benar-benar tak ingin makan ?” Tanya Wisnu memastikan.


“Ya” Wisnu tersenyum tipis mendengar jawaban Jessica. Tak lama kemudian ia mengajak wanita itu pergi.


Ditengah perjalanan yang bertujuan entah kemana, Wisnu memarkirkan mobilnya. Jessica tahu tempat itu, ia pun menoleh kearah Wisnu seakan bertanya untuk apa mereka berhenti disana.


“Temani aku mencari udara malam sebentar” Ujar Wisnu membuka pintu mobil.


“Cih, dia pikir dia siapa ?” gumam Jessica ikut keluar dari mobil.


Wisnu mengajak Jessica duduk di salah satu kursi taman, udara dingin malam itu membuat Jessica merutuk dalam hati.


Sial, semoga lambungku masih bisa bertahan. 


Hanya terdengar suara angin dan langkah kaki beberapa pengujung taman itu. Sehingga Jessica merasa bosan dan menganggap ini tak berguna.


“Aku pulang duluan saja.” Ucap Jessica yang sudah sangat kelaparan.


“Sebentar” Wisnu memegang lengan nya, menahan agar Jessica mau menemaninya sebentar lagi.


“Ada apalagi ? kau juga tak berhak menahanku, kau pikir kau siapa ?” Tanya Jessica ketus.


Wisnu hanya tersenyum mendengar ucapan Jessica, memang ini sudah malam sehingga bukan hak nya lagi untuk menahan wanita itu sebagai bawahannya.

__ADS_1


“Masih bekerja disana?” Tanya Wisnu tiba-tiba.


“Ya”


“Kenapa ?” 


“Bukan Urusanmu” Lagi-lagi wajah Wisnu melukis senyuman tipis mendengar jawaban Jessica.


“Hmmmm, sudah lama bekerja disana ?”


“Ya”


“Kau sudah bekerja di Dez grup, lalu kenapa masih bertahan disana ?”


“Sekali lagi kutekankan, itu bukan urusanmu.” Jessica merasa muak dengan pertanyaan yang menurutnya terlalu ikut campur dalam hidupnya.


“Berhenti saja” Wisnu tak menyerah.


“Apa ?”


“Berhenti bekerja disana, aku akan membantumu” Ucap Wisnu lagi-lagi mengundang emosi wanita itu.


“Aku tak pernah butuh bantuan siapapu.”


“Aku tahu”


“Lalu kenapa....”


“Apa yang kau lakukan ?” Jessica melepas paksa kemudian mengelap bibirnya yang basah.


“Kau sangat cerewet, jadi harus di cium agar diam.” Wisnu terkekeh.


“Aku tahu kau juga tidak menikmati pekerjaanmu itu, kau terpaksa melakukannya kan ?”


Deg


Baru kali ini ada orang asing yang paham akan dirinya, orang yang beberapa tahun lalu sempat bermain dengannya di atas ranjang kini hadir dengan segala pengertinnya. Jessica diam sebentar, lalu bersikap tenang kembali.


“Bukan urusanmu, lagian aku tidak memberatkan siapapun.”


“Kau tak memikirkan anak dan istri mereka yang datang padamu ? Aku yakin yang datang padamu bukan hanya laki-laki lajang saja.” Ucap Wisnu lagi.


“Mereka yang harusnya memikirkan itu, bukan aku. Disana aku hanya melayani yang datang padaku.”


“Tapi bagaimana setelah bertemu denganmu orang itu tak bisa berubah ?”


Deg


Lagi-lagi ucapan Wisnu membuatnya bungkam seribu bahasa, ia semakin merasa bersalah atas pekerjaannya selama ini.

__ADS_1


“Tapi  itu tidak terlalu penting menurutku” Ujar Wisnu lagi, Jessica bisa mendengar hembusan nafas lelaki itu.


“Kau harusnya lebih memikirkan dirimu sendiri” 


“Aku tidak tahu seberapa besar masalah dalam kehidupanmu, mungkin kau juga memendam itu sendirian dan malah memilih melakukan hal-hal yang merugikan dirimu sendiri. Kau pasti capek kan ?” Suara lembut Wisnu membuatnya ingin menangis keras, namun bukan Jessica namanya kalau menunjukkan sisi lemahnya kepada orang lain.


“Kau tidak perlu menjawab, tapi aku boleh minta satu hal ?” Wisnu menoleh kearah Jessica yang ada disampingnya. Ia bisa melihat mata wanita itu sudah ingin mengeluarkan air.


“Datang padaku jika kau kesulitan, aku akan membantumu tanpa banyak bertanya.”


Hati Jessica seperti teriris pisau tajam, ia merasa sikap Wisnu membuatnya semakin ingin berteriak. Selama ini ia memang sangat jarang meminta bantuan orang lain karena selalu bertanya untuk apa ? kenapa ? sehingga pembicaraan semakin menjuru kearah privasinya. Namun lelaki asing ini membuatnya mulai nyaman, padahal dia bukan siapa-siapa.


“Mau kan ?” Tanya Wisnu lembut.


Jessica sudah tidak kuat lagi, ia menitikkan air mata menatap Wisnu yang juga sedang menatapnya dengan tatapan sendu, berharap agar Jessica mau menerima tawarannya.


“Menangislah Jessica, kau tidak harus selalu tampil tangguh, selalu kuat, kau juga berhak menangis atas ketidakadilan dunia padamu.” Wisnu tersenyum menarik tubuh Jessica kepelukannya. Wanita itu pasrah, ia menangis hebat dipelukan Wisnu hingga membuat kemeja lelaki itu basah.


“Ada aku disini, kau boleh meminta bantuanku kapan saja jika sedang tidak baik-baik saja. Aku akan selalu menjadi pendengar yang baik untukmu.” Wisnu mengelus rambut panjang milik wanita itu.


Tiga puluh menit berlalu, Jessica menyadari sikap bodohnya saat berada dipelukan Wisnu. ia segera menarik dirinya dan duduk seperti semula. Jessica menarik nafas panjang, merapikan rambutnya yang berantakan.


“Maaf” Ucap Jessica melihat kemeja lelaki itu basah karena ulahnya.


“Sama-sama” Wisnu terkekeh melihat wajah Jessica memerah serta lupa mengucapkan terimakasih.


“Tidak apa-apa, aku akan senang jika kau melakukan ini kepadaku.” Ucap Wisnu tersenyum.


Setelah merasa lebih baik, Wisnu menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Jessica menyetujuinya dan mengarahkan Wisnu ke kosannya. Di mobil mereka hanya diam, Jessica tak mendengar suara apapun dari bibir Wisnu yang biasanya sibuk bertanya ini itu kepadanya. 


“Kau menetap disini ?” Tanya Wisnu saat Jessica memberi perintah untuk berhenti.


“Iya” Jessica membuka pintu mobil, namun ia membalikkan tubuh menatap kearah Wisnu.


“Terimakasih” Ucapnya lalu buru-buru keluar dari sana. Wisnu yang mendengarnya terkekeh pelan sambil mengangguk.


“Sampai jumpa bes....”


Brak


Belum selesai bicara, Wisnu terkejut mendengar suara pintu mobil yang ditutup oleh Jessica. Ia tersenyum tipis melihat wanita itu, sepertinya dia salah tingkah, pikirnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa feedback nya sayang 😘


__ADS_2