KETIKA WAJAHKU BERUBAH

KETIKA WAJAHKU BERUBAH
Diskusi Artikel


__ADS_3

Keesokan harinya,bJessica terlihat bersemangat pergi ke perusahaan yang kemarin menghubunginya untuk melakukan interview hari ini. Ia berusaha menenangkan diri, ini lebih deg-degan dari sidang skripsi yang telah dilaluinya tempo hari. Jessica menatap gedung tinggi itu, matanya berbinar membayangkan sebentar lagi ia akan bekerja disana.


“Oke, kau sudah melalui banyak hal. Pada kesempatan ini tolong yakin saja pada dirimu sendiri, kau pasti bisa. Bukankah sebelumnya kau juga melawan ombak besar ? Semangat Jes.” Gumamnya menyemangati diri.


Jessica duduk di kursi ruang tunggu, ia melihat ada banyak karyawan yang juga sedang menunggu gilirannya untuk dipanggil kedalam. Jessica semakin tak percaya diri, ia melihat raut wajah para pelamar itu terlihat sangat pintar-pintar. Mungkinkah ia bisa menjadi salah satu yang diterima disana ? Entahlah, Jessica yang terbilang pemberani dan percaya diri selama perkuliahan juga tak bisa memastikan dirinya lolos atau tidak.


“Dengan ibu Jessica ?” tanya salah satu karyawan yang ada di ruang tunggu untuk melakukan sesi wawancara.


“Iya, saya Jessica.” Balasnya tersenyum terpaksa, padahal dalam hatinya sangat ketakutan.


“Oh, silahkan masuk.”


Jessica mengangguk dan menuruti perintah karyawan itu masuk kedalam ruangan. Ia menggenggam erat tasnya untuk membuang rasa takut. Entah darimana datangnya rasa percaya diri itu, kini Jessica duduk dengan tenang menatap HRD yang ada dihadapannya.


Jessica keluar dengan wajah dinginnya, melihat para pelamar yang terlihat cemas menunggu gilirannya. Sebenarnya ia juga sangat cemas menunggu hasil wawancaranya hari ini, namun itu tak akan membuahkan hasil. Malah akan membuat suasanya hatinya semakin runyam. Jessica menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan.


“Karena banyaknya pelamar yang melakukan sesi wawancara hari ini, maka akan dipending untuk pengumuman lolos atau tidak. Maka dari itu untuk informasi selanjutnya akan kami kabarkan lewat email dan telepon. Terimakasih atas kerja kerasnya hari ini.” Ucap staf itu menunduk setengah badan.


Orang-orang yang menunggu pengumuman sedari tadi menangguk tersenyum terpakasa, padahal dalam hatinya sudah berisik mengucapkan makian yang berbagai macam. Memangnya siapa yang tidak kesal diperlakukan seperti itu ? Sudah menunggu lama, namun diinformasikan agar menunggu saja lewat email, sungguh perusahaan yang tidak profesional. Begitulah isi pikiran dari orang-orang yang kemudian meninggalkan perusahaan itu.


Sherina mendengus kesal, melempar ponselnya kesembarang tempat. Ia menengadahkan kepala, menatap langit-langit kamarnya. Setelah selesai mengikuti perkuliahan hari ini, Sherina hanya berdiam diri di kamar. Sungguh membosankan, namun tidak ada pilihan lain. Walau bagaimanapun ia merasa lebih nyaman merenung sendiri di kamar daripada keluyuran tidak jelas dengan teman-temannya di kampus. Oh iya, akhir-akhir ini Sherina mencoba bergaul dengan teman kelasnya agar tidak terlihat menyedihkan di kampus. Namun ia tetap saja sulit untuk nimbrung mengenai hal-hal yang sedang di bicarakan teman-temannya. Bagimana tidak ? mereka rata-rata membicarakan tentang tas branded yang baru saja dirilis, tentang perhiasan yang baru dirilis dior, semua itu tidak terlalu menarik perhatian Sherina karena menurutnya hal itu seharusnya tidak perlu dibicarakan dengan orang yang belum terlalu dekat.


“Akh. Dasar kurang ajar, bagaimana bisa Jessica tak menjawab pesan dan teleponku ? Dia aneh sekali.” Sherina lagi-lagi memaki wanita itu.


Dering ponsel Sherina membuat dirinya langsung menyambar benda pipih itu. ia mengerutkan kening saat melihat ada nomor baru yang menghubunginya. Bukan Sherina namanya jika langsung mengangkat panggilan dari nomor yang tidak ia simpan.


Ting


Sebuah pesan masuk


Sherina, ini aku niko yang sekelas dengan mu. Kemarin kita satu kelompok kan ? aku ingin menanyakan kapan kita mengerjakan artikelnya ?

__ADS_1


“Astaga, aku lupa ternyata tugas itu dikerjakan secara kelompok.” Gumamnya, kemudian ia mengetikkan balasan untuk pesan Niko.


“Akh, apakah harus sekarang ? gila, aku malas banget perginya. Tapi tak apa, aku juga bosan di kamar terus” Sherina mendengus kesal saat menerima balasan niko, bukannya ia tak bisa menolaknya. Tapi menurutnya tidak ada salahnya pergi dari tempat tidur yang sudah seperti surga baginya.


Sherina menyarankan agar bertemu di kafe, dimana banyak pelajar yang sering berdiskusi tentang pendidikan mereka disana. Sherina melajukan mobilnya setelah mengirim pesan kepada Erick, bisa kacau jika Erick tiba-tiba tahu dia bersama lelaki lain dan kemudian salah paham.


“Huh!! Dia sudah sampai saja.” Gumam Sherina menatap lelaki yang dimaksud dari pintu masuk.


“Hai, sudah lama ?” Tanya Sherina tersenyum tipis, ia tipe orang yang murah senyum apalagi kalau orang yang didepannya ini merupakan anggota kelompoknya.


“Belum, baru beberapa menit yang lalu.” Balas lelaki itu dengan senyum merekah di bibirnya.


“Ah, okeoke. By the way, Karel dimana ? apa kau sudah memberitahunya ?” Tanya Sherina membuka laptop.


“Hmmm, dia tidak bisa datang hari ini. mungkin dia bagian mengerjakan ppt saja.”


“Oke, jadi kita mulai darimana dulu ?” Tanya Sherina terlihat santai.


“Aku sudah menyiapkan beberapa jurnal, coba kau baca dulu mana yang menurutmu lebih cocok.” Menyerahkan beberapa kertas.


“Hahaha, mau pesan apa ? aku ingin memesan minum.” Ucap niko menawarkan.


“Emmm, aku pesan kopi saja.” Balas Sherina tanpa menoleh.


Menunggu lelaki itu selesai memesan minuman, Sherina mencoba memahami jurnal yang sudah diambil oleh Niko. Ia sangat salut dengan kemampuan lelaki itu merangkum jurnal-jurnal yang ia ambil.


“Wahh, dia sangat rajin, aku mana sempat merangkum sedetail ini.” gumamnya kagum.


Setelah beberapa jam berdiskusi, Niko dan Sherina akhirnya menarik nafas lega. Tugas yang akan dikumpulkan minggu depan itu ternyata sudah selesai, keduanya saling memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Sherina tak henti-hentinya mengagumi kemampuan Niko yang diluar batas.


“Ahh, akhirnya selesai juga. Tinggal buat ppt, setelah itu kita pelajari lagi agar tidak lupa.” Ucap Sherina menutup laptopnya.

__ADS_1


“Iya, nanti aku suruh Karel membuat ppt nya dan segera mengirimkannya padamu.” Niko memasukkan laptop kedalam tas nya.


“Okay, senang berdiskusi denganmu Niko.” Sherina siap hendak mengangkat tubuhnya dari kursi itu, namun tiba-tiba niko menahannya.


“Eh, sebentar.” Sherina duduk kembali.


“Ada apa ? apa masih ada yang perlu didiskusikan ?” Tanya Sherina heran.


“Emmm.... Bukan itu” Niko terlihat gugup, Sherina memandanginya dengan perasaan bingung.


“Huh!! Ayo kuantar pulang.” Ucap Niko mengeluarkan kata-kata yang ia tahan sedari tadi.


“Haaa ?”


“Bukannya apa-apa, aku hanya ingin memastikanmu selamat sampai rumah.”


“Oh, tidak apa-apa Niko. Aku bisa pulang sendiri kok, aku membawa mobil tadi. Hehe” Sherina menolak halus taawaran lelaki itu.


“Lagian ini juga masih sore, masih terang.” Sherina tersenyum lebar sambil beranjak dari duduknya.


“Sampai jumpa Nik”


Sherina perlahan menghilang dari pandangan Niko, ia menghempaskan tubuhnya di kursi mobil. Ia merasa senang bisa berdiskusi dengan orang yang menurutnya asik, namun disisi lain ia juga tak merasa enak akan niat baik Niko. Andai saja Erick tidak memarahinya diantar jemput oleh lelaki, mungkin bisa saja Sherina pura-pura tidak membawa mobil dan menerima tawaran Niko.


“Akh, apa yang kupikirkan.” Sherina memukul jidatnya, kemudian menyalakan mesin mobil meninggalkan kafe itu.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa feedback nya sayang 😘


__ADS_2