KETIKA WAJAHKU BERUBAH

KETIKA WAJAHKU BERUBAH
Butuh Bantuan Mu


__ADS_3

Jessica pulang dengan terburu-buru, mengabaikan pesan yang dikirimkan Wisnu padanya lewat WhatsApps. Ia melambaikan tangan kepada salah satu taxi yang sedang menunggu penumpang. Wisnu tak sengaja melihat Jessica pergi dengan buru-buru pun berinisiatif mengikuti wanita itu. ia menarik pedal menjalankan mobilnya agar bisa mengikuti taxi Jessica.


Dia mau pergi kemana ? kenapa buru-buru sekali ? bahkan pesanku juga tidak di balas.


Maafkan aku Jessica, ini memang bukan urusanku. Tapi aku sangat penasaran padamu. Batinnya dan tetap fokus mengikuti taxi itu.


Taxi yang ditumpangi Jessica turun disebuah bangunan tinggi dan megah, siapapun bisa menebak bahwa itu adalah hotel terbaik di kota itu. Dengan langkah buru-buru Jessica masuk kedalam dan melakukan check in agar bisa naik ke rooftop dan tidak di curigai.


Hah ? Dia check in ? apa dia ingin ber.... ah tidak mungkin. Melihat raut wajahnya sepertinya dia sedang buru-buru menemui seseorang. Batin Wisnu bersembunyi di balik tembok lalu ikut melakukan check in.


Wisnu mencari Jessica yang sudah lebih dulu pergi naik lift, untung saja Wisnu sudah bertanya nomor kamar wanita itu kepada front office dan tentunya dengan sedikit sogokan.


Entah apa yang dipikirkan Wisnu sehingga bisa-bisanya mengikuti Jessica sampai sepeti itu. Akhirnya ia bisa menemukan Jessica yang sedang menaiki tangga agar bisa naik ke rooftop.


Untuk apa di ke rooftop ? Batin Wisnu tetap mengikuti wanita itu dengan hati-hati.


Jessica menarik nafas lega saat melihat seorang wanita yang sedang duduk membelakanginya entah apa yang ia lakukan Jessica juga tidak peduli, yang penting wanita itu baik-baik saja. Dengan hati-hati Jessica mendekati wanita itu dan duduk disampingnya.


“Kenapa disini ?” Tanya Jessica menatap pemandangan yang ada di depannya. Jessica bisa mendengar sisa isakan tangis wanita itu, namun dirinya hanya menunggu jawaban atas pertanyaannya.


“Kau sendiri untuk apa kesini ?” Wanita itu balik bertanya.


“Kau menelponku kalau kau lupa” Jessica mengingatkan wanita itu. Wanita itu menoleh sebentar, lalu membuang muka sambil terkekeh pelan.


“Haha, sudah kuduga juga.” Wanita itu merogoh sakunya, kemudian mengeluarkan sebungkus rokok dan mancis. Jessica yang melihatnya membelalakkan mata, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Sherina ? sejak kapan kau merokok ?” Tanya Jessica dengan nada tinggi sangking terkejutnya.


“Bukan urusanmu” Balas Sherina mengisap rokoknya. Sungguh ini bukan pemandangan yang enak dilihat, sepertinya ini bukan Sherina yang biasanya ia kenal, Sherina wanita yang selalu bersikap kekanak-kanakan itu kini menghembuskan asap rokok dengan ekspresi mengerikan.


“Sekarang kau juga sudah bisa membalikkan ucapanku.” Jessica tersenyum tipis.


“Aku stress, tidak berguna.” Ujar Sherina lagi-lagi menghisap rokoknya. Jessica menoleh sebentar, lalu menatap kembali lampu-lampu yang kelap kelip.


“Sudah berapa lama ?” Tanya Jessica


“Sebulan lalu.”


“Pacarmu tahu kau begini ?”


“Tidak”

__ADS_1


“Bagaimana kalau dia tahu kau berubah seperti ini ?”


“Biarkan saja, memang sudah seharusnya orang-orang tidak perlu menerimaku.” Asap yang menggumpal didepan Sherina membuat Jessica merasa miris melihatnya.


“Berikan aku satu” Jessica membuka tangan kearah Sherina. Gadis itu memberinya tanpa ada rasa ragu.


“Sudah lama sekali aku ingin merokok lagi” Jessica menghembuskan asap yang keluar dari mulutnya.


“Hahaha, sejak kau bekerja aku tidak pernah lagi melihatmu merokok.” Sherina lagi-lagi menghisap rokoknya.


“Sejak kapan kau tahu aku merokok ?” Tanya Jessica terkejut, karena ia sangat teliti jika ingin merokok membuang penatnya.


“Sudah lama, sebelum mengenalmu juga aku sudah sering melihat mu merokok di rooftop kampus.” Ucap Sherina mengingat ketika pertama kali ia melihat Jessica merokok di rooftop kampus mereka dulu.


Ahh, sialan. Jadi aku ketahuan selama ini ? Jessica tak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Sherina.


Kedua manusia itu sedang asik dengan pikirannya masing-masing sambil menikmati hembusan angin dan sebungkus rokok yang hampir habis. Sungguh, sedari tadi mereka tidak ada henti-hentinya menghisap obat penenang bagi mereka.


“Jadi apa yang bisa aku bantu ?” Tanya Jessica mematikan bara rokoknya.


“Kau yakin bisa membantuku ?” Sherina menoleh, meminta kepastian kepada wanita yang sedang bersamanya.


“Maybe ?” Jessica sendiri ragu, karena selama ini ia juga tidak bisa membantu dirinya sendiri untuk berubah.


“Hah ?”


“Kenapa ? kau tidak mau ?” Sherina tersenyum miring, ini benar-benar bukan Sherina yang Jessica kenal. Wajah wanita yang didepannya ini sungguh menyeramkan seperti dirasuki iblis.


“T-tapi untuk apa ? kau ingin tahu mengenai apa tentang kakak mu ? bukankah kau sangat dekat ? jadi sepertinya kau lebih tahu banyak tentang saudaramu.” Tekan Jessica.


“Dia sangat berubah.”


Hening. Entah Sherina yang ragu melanjutkan kalimatnya atau Jessica yang terlalu lama mencerna kalimat yang disampaikan Sherina.


“Aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku.”


Aku juga merasa begitu sejak dulu. Batin Jessica mengingat hari kelulusan Sherina.


“Bukankah itu wajah ? Sekalipun dia orang terdekatmu, bukan berarti semua hal harus diceritakan padamu.” Jessica masih ragu mengiyakan permintaan Sherina.


“Kau tidak tahu Jessica. Dia seperti iblis sekarang.” Sherina menatap tajam kearah Jessica. Namun yang ditatap bisa mengartikan dimata tajam itu terdapat kepedihan yang ia pendam sendiri.

__ADS_1


“Dia seperti ibu tiri jahat.” Sherina mengalihkan pandangannya, tak kuat menahan pedihnya.


“Kalau aku boleh tahu, kenapa kau bilang seperti itu ?” Tanya Jessica dengan tatapan penuh selidik.


“Dia jarang pulang ke rumah bahkan disaat pulang pun hanya ingin memukuli ku. Kau tahu betapa sakitnya dipukuli oleh saudaramu sendiri ? d-dia....dia bahkan..hiks...dia bahkan hampir meniduriku.” Sherina sudah tak bisa membedung air matanya. Ia teringat kembali betapa terkejutnya melihat sikap Erick padanya tempo hari.


“Sherin” Lirik Jessica menarik wanita itu ke pelukannya.


Sherina sudah tidak peduli lagi, ia menangis keras di pelukan Jessica. Mungkin pelukan itu adalah pelukan ternyaman yang pernah ia rasakan selama hidupnya. Seperti pelukan seorang ibu yang menenangkan putri kecilnya saat dimarahi ayahnya. Sangat nyaman.


“Jangan takut, aku akan membantumu.” Ucap Jessica akhirnya, Sherina yang masih kalut menarik dirinya dari pelukan Jessica. Menatap wanita itu seolah-olah memintanya mengulang kalimat yang baru saja ia ucapkan.


“Aku mau membantumu, jangan menyerah ya.” Jessica tersenyum tulus menatap Sherina, yang ditatap mengangguk dengan wajah tersenyum.


“Terimakasih”


“Tapi aku punya permintaan”


“Apa ? katakan padaku, aku akan mengabulkannya.” Balas Sherina sumringah. Baru kali ini Jessica meminta imbalan jika dibantu.


“Kembali seperti dulu.” Sherina mengangkat sebelah alisnya, bingung dengan permintaan Jessica.


“Kembali hidup seperti dulu, jangan begini.” Sherina melirik bungkus rokok didepan mereka.


“Ta...”


“Kita belajar sama-sama, ini tidak baik Sherina.” Tegas


“O-oke, akan kucoba.” Anggukan Sherina membuat Jessica menarik simpul di bibirnya. Seperti seorang ibu yang ceramah lalu sang anak menurut karena mengerti.


Ini sungguh gila...... bahkan wanita seperti mereka sudah merasakan tembakau.


Tanpa disadari oleh kedua wanita itu, ada mata yang sedang memantau pembicaraan mereka dengan wajah penuh kebingungan.


Tapi siapa wanita itu ? aku seperti pernah melihatnya.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa feedback nya sayang 😘


__ADS_2