KETIKA WAJAHKU BERUBAH

KETIKA WAJAHKU BERUBAH
Masa lalu Jessica


__ADS_3

**Flashback On


Jessica menangis hebat melihat ibunya yang sekarat diatas ranjang rumah sakit. Dokter menyuruh dirinya masuk karena dipanggil oleh sang ibu. Jessica dengan cepat masuk kedalam menemui ibunya yang sudah beberapa hari sadar dari komanya. Ibunya menatap Jessica sambil mengusap-usap tangan gadis yang  baru belasan tahun itu.


“Nak, maafkan ibu.” Ucapnya terisak.


“Tidak...tidak ada yang perlu dimaafkan, ibu tak pernah melakukan kesalahan.” Ucap Jessica menggeleng.


“Nak....dengarkan ibu.” Ucapnya lagi dengan nada lemah.


“Mungkin ibu tak akan lama lagi, to-tolong jaga adikmu ya ? tolong bahagia bersamanya.”


“Tidak..Ibu pasti sembuh. Ibu pasti sehat, ayo berdoa bersama bu minta sama Tuhan biar cepat sembuh dan hidup bersama kami.” Airmata Jessica semakin mengalir deras.


“Jessi, mungkin selama hidupmu tak banyak mendapat kasih sayang dari ibu dan almarhum ayahmu. Tapi....ibu boleh kan minta tolong karena sudah melahirkanmu ke dunia ini ?”


“Ibu boleh minta tolong apa saja bu, asalkan Ibu tetap tinggal disini bersama Jessi dan Jordan. Ayo sembuh bu, kami butuh ibu.” Isaknya.


“Nak, sebagai ibu yang telah melahirkanmu, ibu ingin menitipkan Jordan padamu, tolong jaga dan bahagiakan dia nak. Tolong jangan buat dia terluka, karena dia belum tahu apa-apa. Uhuk...uhukk”


“Ka-kalau bisa, tolong usahakan agar dia bisa belajar di luar negeri. Sesuai dengan janji ibu padanya, bisa kan nak ?” imbuhnya lagi. Jessica tak bisa berkata-kata, ia hanya ingin kesembuhan ibunya saat ini.


“Kau harus bi-sa men-jadi tulang pung-gung un-tuk-nya. Uhuk-uhuk” Jessica mengeratkan genggamannya  seakan menguatkan sang Ibu.


“Sekali lagi ma-maafkan Ibu dan Ayah nak, se-selamat ting...”


“TIDAKKKKK...IBUUUUU...BANGUN IBU...IBU TIDAK BOLEH MENYUSUL AYAH, IBU HARUS TETAP DISINI...IBUUUU” Jessica yang histeris tidak mengindahkan ucapan para suster yang menyuruhnya untuk tenang. Ia menangis keras menatap sang ibu yang sudah tidak bernyawa diatas ranjang.


Julianna Romantika, usia 37 tahun dinyatakan meninggal pada tanggal 12 April 2012 jam 11.00 WIB di rumah sakit Andalankita.


“Tenang dulu ya dik, Ibu nya sudah tenang sekarang. Ibu tidak merasakan sakit lagi, sekarang Ibu sudah sembuh dan bahagia di surga. Tidak boleh menangis lagi ya ? nanti kalau adiknya lihat kakaknya nangis, dia juga ikutan nangis.” Suster berusaha menenangkan tangis Jessica.


“I-Ibu sudah tidak merasakan sakit lagi ya sus ?” Tanya Jessica menyeka air mata. Suster itupun mengangguk dengan senyuman yang selalu mengembang dibibirnya.

__ADS_1


“Tapi kenapa setelah sembuh harus pergi ke surga ? kenapa tidak disini menemani Jessica dan Jordan ?” Tanya Jessica dengan polosnya. Suster itu tersenyum tipis, hatinya juga sakit mendengar pertanyaan anak gadis didepannya ini.


“Sabar ya sayang, kamu anak yang kuat.” Mengelus wajah Jessica, tak terasa air mata suster itu ikut menetes menatap anak yang sedang berduka itu.


“Sekarang kamu pulang dulu ya, katanya tadi adiknya belum dijemput di sekolah ya ?” tanya suster itu yang sudah dipanggil oleh dokter untuk membantunya.


“Iya sus, selamat bekerja suster. Suster hebat, bisa rawat orang sakit sampai masuk surga.” Ucap Jessica dengan polosnya memberi ucapan semangat yang tulus kepada suster itu. untungnya suster itu tak mendengarnya lagi karena suara Jessica yang sudah lemah. Ia menatap kosong kearah kedepan, teringat pesan yang disampaikan oleh almarhum Ibunya. Kemudian ia berlari kecil untuk menjemput sibungsu yang sedang menunggunya di sekolah.


“Kalau aku cerita Jordan menangis tidak ya ? apa dia akan mencari Ibu ?” pertanyaan yang bermunculan dikepala gadis itu membuatnya sampai didepan sekolah adiknya.


“Kakak, kenapa lama sekali.” Tanya Jordan yang terlihat sudah kelaparan sambil memegang tas gendongnya.


“Aku dari rumah sakit melihat Ibu.” Jawabnya mengambil tas Jordan, lalu menggandeng anak lelaki itu agar mengikuti jalannya.


“Ahh, ibu kenapa tidak bangun-bangun ? apa dia tidak mau melihat kita lagi ?” Tanya Jordan ngasal.


Jessica hanya diam, tak ingin membuat sang adik menangis dijalan. Sebelum pergi ke rumah, Jessica mengajak Jordan makan di kaki lima. Ia memesan mie ayam kesukaan lelaki itu. Jordan yang tadinya telihat lemas, kini tersenyum lebar mendengar apa yang dipesan kakak nya.


“Wahhh.. kita makan mie ayam lagi ? apa Ibu tidak marah jika tahu kita memakan mie lagi ?” Tanya Jordan sumringah.


Aku sudah membuat dia bahagia kan Ibu ? Bahkan di hari kematianmu aku bisa membuatnya tersenyum seperti ini. Batin Jessica dengan perasaan hampa.


Flashback Off**


Kini Jessica berhasil mengabulkan pesan-pesan Ibu, merawat Jordan dengan baik, memberinya pendidikan hingga keluar negeri, tidak pernah sekalipun Jessica melewatkan kiriman biaya untuk si bungsu. Bahkan ia sering mengirimkannya walaupun belum tepat tanggal kiriman, ia paham betul biaya kehidupan di luar negeri tidak murah.


“Bagaimana bu ? apa aku sudah cukup baik menjadi seorang tulang punggung untuk Jordan ?” Isak nya.


Disisi lain, Sherina yang baru saja kembali dari kafe berjalan gontai ke arah kamarnya. Namun Sherina tidak sengaja mendengar obrolan kakaknya dengan seseorang lewat sambungan telepon, menghentikan langkahnya didepan kamar Erick. Ia mendekatkan telinganya ke pintu kamar lelaki itu dengan wajah penasaran. Tidak biasanya Sherina menguping pembicaraan Erick, tetapi kali ini entah apa yang membuat wanita itu terlihat ingin tahu.


Apa yang sedang ia bicarakan ? kenapa terdengar kakak sangat marah ? apa masalah kantor ? Batin Sherina mendengar sang kakak memaki orang yang sedang bicara dengannya. Entah apa yang diucapkan orang itu sehingga membuat Erick murka.


Sherina langsung bergegas pergi ke kamarnya saat tidak mendengar suara apapun, lebih tepatnya ia tahu bahwa sambungan telepon itu telah terputus karena mendengar umpatan dan ancaman Erick terakhir kali kepada lawan bicaranya.

__ADS_1


“HUH” Sherina berdiri dibalik pintu setelah menutup pintu kamar sambil memegang dada. 


“Untung sa...”


Tok...tok...tokk...


Jantung Sherina seakan berhenti berdetak saat mendengar ketukan dari balik pintu kamarnya.


“Sherina...Sherin...” Panggil seseorang dari luar.


Dengan cepat Sherina membuka pintu itu dan memasang wajah seperti tidak tahu apa-apa.


“Kakak ? Ada apa ?” Tanyanya tersenyum lebar.


“Kau baru pulang ?” Erick melipat kedua tangan di depan dada.


“Eeee... iya kak,kenapa ? Tumben kakak kesini hanya bertanya itu.” Ucap Sherina dengan wajah bingung.


“Tidak ada apa-apa, istirahatlah.” Ucap Erick sambil pergi meninggalkan Sherina. Sherina menatap bingung kepergian kakaknya yang menurutnya ada yang aneh.


“Tumben dia turun kebawah lagi.” Gumam Sherina yang melihat Erick pergi ke lantai 1.


Dengan cepat Sherina berlari kecil ke arah jendela kamarnya, mengintip kearah luar tepatnya dimana mobil Erick berada.


“Dia mau pergi kemana malam-malam begini ?” Gumamnya lagi saat melihat Erick masuk kedalam mobil.


“Aneh. Kenapa sikapnya aneh sekali ? apa hanya perasaanku saja ? Tadi juga dia marah-marah di telepon.” Sherina duduk di tepi ranjang sambil memikirkan kenapa kakak nya pergi malam itu dengan terburu-buru.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa feedback nya sayang 😘


__ADS_2