KETIKA WAJAHKU BERUBAH

KETIKA WAJAHKU BERUBAH
Rahasia Kantor


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Jessica sudah siap pergi ke kantor dengan pakaian yang rapi dan sesuai dengan aturan perusahaan. Dua minggu yang lalu, ia mendapat panggilan dari perusahaan Dez Grup dan mengkonfirmasi bahwa ia diterima bekerja disana sebagai salah satu staf bagian keuangan. Jessica tak henti-hentinya mengucap syukur atas rezeki yang selalu ia dapatkan dalam hidupnya.


Sedang asik mengerjakan tugas yang telah dibebankan kepadanya, Jessica tiba-tiba mendapat panggilan dari atasan. Wajah wanita itu panik seketika saat mendengar panggilan itu, memikirkan kesalahan apa yang telah ia lakukan. Namun Jessica menenagkan diri dan pergi ke ruangan bos nya dengan wajah datar.


“Ibu memanggil saya ?” Tanya nya menunjuk diri.


“Ya, masuk.” yang ditemui terlihat sibuk mengetikkan sesuatu di komputernya. Jessica yang kebingungan hanya menuruti perintah dan duduk didepan sang atasan.


“Emmm, kinerja mu bagus. Walaupun masih beberapa minggu, aku melihat laporanmu tak kalah jauh lebih baik dari yang lainnya.” Pujinya sambil melihat laporan yang dibuat oleh Jessica tempo hari.


“Terimakasih bu” Senyuman yang terlukis di bibirnya merupakan senyuman terpaksa, dimana ia masih curiga akan kalimat berikutnya yang akan keluar dari mulut wanita di depannya itu.


“Oke, namun jangan besar kepala dulu.”


Itu kan, perasaan Jessica akan kalimat berikutnya tidak pernah melenceng. Baru saja membawa terbang tinggi namun tiba-tiba terhempas ke bumi. Ah, memang sudah menjadi rahasia umum orang-orang di kantor tidak ada yang benar-benar baik. Hari ini mungkin saja kau ditraktir makan-makan di restoran mewah, namun hari berikutnya bisa saja mereka membawa mu hanya untuk mentraktir barang-barang branded nya. Tetapi bukan berarti semuanya seperti itu, hanya saja butuh logikamu sendiri untuk menyikapi berbagai orang-orang yang berbaik hati padamu.


“Karena laporan ini sangat rapi dan rinci, kau akan ku perintahkan untuk mengubah beberapa hal.”


Apa ? Kepala Keuangan itu bicara apa ? Bukankah jika sebuah laporan sudah rapi dan rinci tidak perlu mengubahnya lagi ? Jessica bingung mendengar kalimat dari orang itu. Aneh. Pikirnya.


“Hmmm.... karena kau masih anak baru, mungkin kau belum terlalu paham cara kerja bagian keuangan.”


Apalagi ini ? Bukankah katanya tadi laporan itu tak kalah lebih baik dari yang lainnya ? lalu ini apa ? dia membahas tentang Jessica yang masih anak baru ? Sungguh, bicara Kepala Keungan itu sulit dimengerti.


“Ini sudah menjadi rahasia bagian keuangan , jauh sebelum kau ada disini.” Menatap Jessica dengan tatapan tajam.


“Kita memang harus membuat laporan kepada atasan dengan rinci dan rapi. Tapi yang kau buat ini terlalu rapi dan bersih.” Wanita itu memajukan kepala, menatap Jessica dengan wajah polosnya.


“Tambahkan beberapa hal disana agar total pengeluaran minggu ini menjadi 500 juta.”


“Hah ?”


Apa-apaan, 500 Juta ? Kenapa harus 500 juta. Apakah ini yang dimaksud dengan kalimat terlalu bersih ? Jadi...


“Kau mengerti ?” lagi-lagi tatapan tajam itu tak meleset dari pandangannya.


“Ma-maaf, maksud ibu bagaimana ? saya belum mengerti. Saya harus mengubah agar total pengeluaran 500 juta ? padahal total pengeluaran minggu ini hanya 270 juta bu.” Ucapnya dengan wajah polos.

__ADS_1


“Hahaha, dasar bodoh. Ya, 230 juta nya untuk kita. Memangnya kau bisa hidup hanya dengan mengandalkan gaji dari kantor ?”


Ah, ini gila. Meskipun Jessica dikenal sebagai primadona di club, tapi dia tidak pernah menggunakan uang yang bukan hasil dari jerih payah nya sendiri.


“Ta-tapi ini tidak baik bu, bagaimana kalau perusahaan ini bangkrut ?”


Polos sekali, mana mungkin perusahaan Dez grup bangkrut hanya dengan pengeluaran seperti itu ? bahkan jika para karyawan menggelapkan uang 500 juta setiap minggu pun tidak akan bisa membuat Dez grup bangkrut.


“Shit. Jessica, kau pintar membuat laporan keuangan, tapi kenapa permainan seperti ini tak bisa kau tangkap dengan baik ?” Kepala Keuangan itu frustasi melihat kepolosan Jessica.


“Maaf bu, saya memang miskin. Namun tidak pernah terlintas dalam benak saja untuk makan uang yang seharusnya bukan milik saya. Jadi saya tidak akan ikut-ikutan dalam hal seperti ini dan akan tetap menyerahkan laporan itu sebagai tanggung jawab saya.” Kalimat Jessica berhasil membuat Kepala Keuangan itu murka.


“Hei sialan, berani-beraninya kau. Kau tidak tahu siapa aku ?”


“Maaf sekali Ibu Dewita, saya akan tetap pada pendirian saya. Lagian apa Ibu tidak takut dengan karma yang akan Ibu peroleh ?”


Plak


Satu tamparan mendarat di pipi Jessica, wanita itu meringis sedikit memegangi pipinya.


“Jangan mentang-mentang kau pintar, jadi bisa bersikap seenaknya.” Suara Bu Dewita meninggi sambil memainkan jari telunjuk yang mengarah ke Jessica.


Jessica menatap wanita itu dengan wajah sendu, seakan-akan wajahnya berkata jangan lakukan hal itu, karena ia sudah berusaha untuk bisa bekerja di sana. Tidak ada pilihan lain, Jessica hanya bisa menuruti apa yang diperintahkan atasan.


“Ba-baik Bu, saya akan mengubahnya segera.” Jessica mengambil kembali laporan yang sudah ia serahkan diatas meja.


“Bagus, tanya pada Sarah mengenai apa saja yang ingin diperbaiki kembali.” Tersenyum puas.


“Noted Bu”


“Satu lagi....”


Jessica mengangkat kepala menatap wanita itu, sekarang perintah apalagi yang akan ia dapatkan ?


“Tutup mulutmu rapat-rapat, awas saja jika Presdir mengetahui hak ini. aku tak akan segan-segan membunuhmu.” Ancam wanita itu dengan wajah menyeringai.


“Noted. Apa masih ada lagi Bu ?” Tanyanya berusaha tenang. Bagaimana Jessica sampai mengatakan hal ini ke Presdir ? sejak ia menginjakkan kaki di kantor ini, ia belum pernah bertemu dengan Presiden Direktur perusahaan itu.


“Sudah, kerjakan apa yang menjadi tugasmu dan ingat pesan-pesan ku tadi. Sekarang kau boleh kembali”

__ADS_1


“Baik Bu, namun apakah saya boleh meminta sa...”


“Ya, nanti hasilnya akan kita bagikan berdasarkan jabatan” potong wanita itu yang mengerti arah pembicaraan Jessica.


“Bu-bukan itu maksud saya, justru sebaliknya.” Ucap Jessica, Dewita menatapnya tajam seolah-olah menyuruh wanita itu melanjutkan kalimatnya.


“Saya akan mengerjakan apa yang Ibu perintahkan karena tugas saya disini memang menuruti apa yang ditugaskan Ibu kepada saya. Namun....” Jessica menahan kalimatnya, menghirup nafas panjang dan membuangnya perlahan.


“Namun saya tidak ingin terlibat dalam penggelapan uang perusahaan ini.” Ucapnya penuh keyakinan.


“Kau yakin ?” Mata Dewita melotot, tak percaya dengan wanita yang ada didepannya ini. Memangnya wanita mana yang tidak tergila-gila pada uang ? Pikirnya.


“Sangat yakin Bu.”


“Oke, sesuai dengan keinginanmu. Namun pesan-pesanku tadi jangan sampai kau lupakan.”


“Baik Bu, saya mengerti.” Balasnya dengan anggukan kepala.


Jessica keluar dari ruangan Kepala Keuangan dengan keringat yang sudah membasahi kemeja putihnya. Ia tak begitu kaget dengan sikap licik Dewita, karena orang yang sejenis dengan Dewita telah ia temui di club, Nyonya Sandra. Sungguh, wanita yang ia kenali ini sangat tergila-gila pada uang.


Jam pulang kantor telah tiba, saat nya para karyawan bersiap untuk kembali ke rumah dimana mereka bisa mengistirahatkan diri dari pekerjaan-pekerjaan yang membuat kepala mereka hampir pecah hari ini. Jessica pergi ke pantry untuk mengantar gelas bekas kopi nya karena aturan kantor memang seperti itu, semua peralatan yang digunakan harus bersih saat pulang. Saat ingin kembali ke meja nya, Jessica tak sengaja mendengar percakapan di balik pintu.


“Bagaimana bisa wanita itu menolaknya? Bodoh sekali.” Suara lelaki itu terdengar ragu.


“Sudahlah, lagian untuk apa pikirkan tentang dia. Dia hanya sok bersih saja, pura-pura tidak gila uang. Haha” Tawa bahagia seorang wanita itu sangat nyaring, Jessica sudah tahu itu pasti suara Dewita, Kepala Keuangan yang tadi siang di jumpainya.


“Hahaha, ya kau memang benar. Bagian yang seharusnya menjadi miliknya kita bagi dua kan ?”


“Tentu saja, kita gunakan saja untuk bayar tagihan minum bersama yang lain.”


Jessica menggelengkan kepala mendengar pembicaraan Kepala Keuangan dengan salah satu staff, ia mengepal tangannya kuat. Kemudian ia pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa feedback nya sayang 😘


__ADS_2