
Jessica berdiri didepan pintu ruangan Erick, ia menekan-nekan jari telunjuk dengan jari jempolnya. Jantungnya berdebar cepat, pikirannya hanya tentang Sherina dan Sherina. Jessica takut apa yang akan ditanyakan oleh Erick nantinya. Apakah ia akan memberitahu Sherina tentang keberadaannya disini ? atau menanyakan perihal kerja kepala keuangan selama ini ? mungkinkah Erick bisa percaya bahwa dirinya tidak ikut dalam penggelapan uang itu ? atau dia akan menyuruhnya untuk mengundurkan diri dari kantor dan berhenti berteman dengan Sherina, adiknya ? Entahlah, Jessica benar-benar khawatir akan hal apa saja yang akan ditanyakan Erick padanya nanti. Apalagi Presdir itu dikenal sangat dingin dan kejam. Bulu kuduk Jessica merinding membayangkan betapa marahnya nanti Erick padanya.
“Ibu Jessica ?” Tanya seorang lelaki bertubuh tegap yang baru saja keluar dari ruangan Erick, Jessica yang sedang tenggelam dalam pikirannya terkejut melihat lelaki itu muncul tiba-tiba dihadapannya. Ia segera menegapkan tubuh, tersenyum tipis menatap lelaki itu.
“Iya pak, apa saya boleh masuk ?” Tanya Jessica tenang.
“Ohh, silahkan. Tuan sudah menunggu dari tadi.” Ucapnya mempersilahkan Jessica masuk.
Ya Tuhan, kehendak mu yang mana lagi ini ? Batinnya seraya masuk kesana, menghampiri meja Erick. Nampak Tuan muda itu dengan menatap santai tablet nya.
“Selamat siang Tuan, anda memanggil saya ?” Tanya Jessica sehingga membuat lelaki itu mengalihkan pandangan dari tablet nya.
“Ya, duduk.” Ucap Erick dingin.
Untung saja aku sudah pernah bicara dengannya sebelumnya, jadi tidak perlu takut menatap matanya. Batin Jessica duduk dihadapan Erick.
“Tuan ada kepentingan apa ya memanggil saya ?” Tanyanya ramah dan lembut, sangat berbeda dengan Jessica yang ia undang ke rumahnya.
“Sherina tahu ?” Tanya Erick tanpa basa basi.
“Maksudnya bagai...”
“Sherina tahu kau bekerja disini kan ?” Tanya Erick meninggikan intonasinya, tidak sabaran mendengar jawaban dari teman adiknya itu.
“Ti-tidak Tuan, saya tidak pernah memberitahu Sherina bahwa saya bekerja disini.” Jawab Jessica sempat merasa gugup.
__ADS_1
“Kau yakin ?”
“Yakin Tuan”
“Hmmmm.....” Erick beranjak dari duduknya memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya berjalan kearah jendela. Erick ada berdiri didekat jendela itu sekitar lima menitan menatap kearah luar, kemudian mengalihkan pandangan nya kepada Jessica.
“Kasus kepala keuangan.” Suara Erick membuat Jessica ingin segera mengumpat, namun ia menahannya karena itu adalah bosnya.
Bisa tidak dia kalau ingin berbicara aba-aba dulu ? Batin Jessica kesal.
“Kau tahu itu dari awal kan ?” Kini Erick sudah ada dihadapan Jessica, menatap dirinya dengan tatapan tajam seakan-akan ingin melahapnya sekarang juga. Namun Jessica yang sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh lelaki di club merasa biasa saja dengan sikap Erick.
“Bagaimana Tuan tahu ?” Tanya Jessica dengan polosnya.
“Kau juga sudah menikmati uang itu ?” Tanya Erick lagi, kali ini ia memasang wajah dingin kembali mendudukkan tubuhnya di kursi empuk itu.
“Tidak Tuan, saya tidak pernah ikut memakan uang itu. saya hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh atasan saya. Maafkan saya Tuan.” Ucap Jessica menyesal.
“Haha.... Jangan pikir karena kau teman Sherina, kau bisa lolos begitu saja.” Lagi-lagi Erick tersenyum menyeringai.
Sialan, dia benar-benar menakutkan. Jessica yang melirik sekilas senyuman maut Erick membuatnya merinding.
“Saya tidak pernah berpikir kesana Tuan, dan tujuan saya disini hanya bekerja sesuai dengan perintah yang diberikan oleh atasan saya. Saya juga manusia biasa yang takut kehilangan pekerjaan jika menolak perintah beliau. Dan tentang Sherina... saya juga tidak pernah bercerita tentang tempat kerja saya karena takut di cap seperti yang tuan katakan tadi.” Ucap Jessica tegas, sehingga membuat Erick menatapnya tajam.
“Ya, lebih baik kau tutup mulut saja dimana kau bekerja karena itu akan membuatku tenang.” Ucap Erick yang menurut Jessica tidak masuk akal.
__ADS_1
Mungkin maksudnya tenang agar sherina juga tidak nekat bekerja disini atau takut sherina mendesaknya agar diberikan keringanan di sana ? Ah, tidak mungkin. Jessica tahu Sherina bukan orang seperti itu.
“Baik Tuan, saya akan memegang semua ucapan saya. Terimakasih juga atas kepercayaan Tuan.” Ucapnya menundukkan kepala.
“Kepercayaan ? padamu pegawai yang masih bau kencur ? hahaha”
“Jangan mimpi”
Sialan, untung saja kau kakak Sherina.
“Maaf Tuan.” Jessica menahan setiap umpatan yang ingin ia keluarkan dari mulutnya.
“Jangan sampai aku mendengar kau bekerja membantu mereka. karena aku tidak akan segan-segan membunuhmu.” Ucap Erick tajam dan menusuk.
Sialan, apa kata membunuh itu begitu mudah keluar dari mulut mu ? Jessica hanya tersenyum paksa mendengar ancaman Erick.
.
.
.
.
Jangan lupa feedback nya sayang 😘
__ADS_1