
Setelah melakukan tugasnya, Jessica masuk ke ruang ganti kemudian masuk keruangan Nyonya Sandra untuk mengambil tas yang tak sengaja ia tinggalkan saat ingin mengganti pakaian. Ia melihat Nyonya Sandra sedang bekerja dengan sebuah buku dan pena, entah apa yang wanita itu tuliskan ia juga tidak tahu. Mungkin menghitung pendapatan hari ini dan menafsirkan kira-kira berapa keuntungan yang ia peroleh. Jessica mengambil tasnya dan tidak peduli dengan Nyonya Sandra yang tengah menatap dirinya.
“Jessi” Mendengar namanya disebut, Jessica mengurungkan niatnya membuka pintu untuk keluar dan membalikkan badan menatap yang memanggilnya.
“Duduk sebentar” Ucap Nyonya Sandra merendahkan suaranya. Jessica menurut, berharap ada keajaiban yang akan ia dapatkan.
“Kau benar-benar serius dengan keputusanmu ?” Tanya Nyonya Sandra menatapnya lekat.
“Ya” balasnya singkat.
“Lalu bagaimana hidupmu setelah ini ?” Jessica mengangkat sebelah alisnya, seakan minta penjelasan atas pertanyaan Nyonya Sandra.
“Sebenarnya aku tahu Jessi” Nyonya Sandra melipat tangan di dada.
“Lelaki yang sering kau kirimi uang, siapa dia ?” Tanya Nyonya Sandra menoleh. Jessica tersentak, bagaimana rahasia yang ia sembunyikan selama ini satu per satu terbongkar juga ?
“M-maksud mu ?”
“Aku tak sengaja melihat riwayat pengeluaranmu waktu itu dan melihat kau sering mengirimi lelaki itu uang ?”
Deg
Jessica tak bisa berucap apa-apa, ia merasa kacau karena apa yang telah ia sembunyikan selama ini terbongkar begitu saja.
“Sejak kapan ?” Tanya Nyonya Sandra
“Apanya sejak kapan ?”
__ADS_1
“Jangan sok bodoh, sejak kapan dia memerasmu ?” Tanya nya lagi, entah apa maksud Nyonya Sandra bertanya seperti itu.
“Nyonya Sandra, kau salah...”
“Jangan menyembunyikan hal seperti ini Jessica, walaupun sikapku begini aku tidak pernah memintamu mentransfer uang tanpa melakukan apapun. Kau pikir dengan melihatku begini, aku tidak punya hati nurani ? Berani-beraninya dia hanya meminta tanpa bekerja ? dan... sekarang kau menjadi seperti ini.” Nyonya Sandra menatap Jessica dengan penuh rasa kasihan. Selama ini ia tidak tahu bahwa Jessica sering meminta gaji lebih cepat hanya karena diancam oleh orang lain. Jessica menarik nafas panjang mendengar kesalahpahaman Nyonya Sandra.
Kenapa jadi begini ?
“Jangan khawatir Jessi, aku akan membantumu untuk mengurus orang itu.” Nyonya Sandra sudah menggebu-gebu. Ia sungguh kesal jika melihat orang malas, hanya menunggu orang lain gajian dan menikmati apa yang seharusnya bukan miliknya.
“Nyonya Sandra” Panggil Jessi, wanita itu menoleh dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Tidak perlu berlebihan seperti itu, dia tidak memerasku dan tolong jangan campuri masalah ini. aku tahu niat baik mu tapi tolong jangan terlalu jauh.” Ucap Jessica tajam, menusuk relung hati wanita itu. siapa yang tidak sakit hati saat niat bantuan yang tulus dari lubuk hatinya dibalas seperti itu ?
“Kau ?” Nyonya Sandra mengepal tangannya, menahan kalimat yang ia ucapkan.
“Dasar wanita itu....” Nyonya Sandra ingin berlari mengejar Jessica, namun ia mengurungkan niatnya.
“Jessi jangan harap kau bisa berhenti, datang kembali besok.” Teriak Nyonya Sandra, entah Jessica masih mendengarnya atau tidak dia juga tidak peduli lagi.
Bisa-bisanya aku memikirkan dirinya setelah melihat riwayat pengeluarannya. Tahu-taunya dia memang punya hutang. Batin Nyonya Sandra merasa bodoh.
Jessica keluar dari club itu dengan langkah lunglai, ia merasa berantakan kembali setelah apa yang ia lakukan barusan.
Aku benar-benar harus hidup seperti ini. m
Memangnya aku bisa apa setelah apa yang sudah kulakukan ? Batinnya mengajak dirinya berbicara. Tanpa disadari ada sepasang mata yang memantaunya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
__ADS_1
Apa Nyonya Sandra menahannya lagi ? Romi menatap langkah Jessica yang kemudian menaiki sebuah ojek online.
Ini sudah jam 11 malam, pasti Nyonya Sandra menyuruhnya bekerja lagi. Huh. Seakan ikut sedih, Romi melamun memikirkan nasib Jessica yang tidak pernah tenang.
“Semoga kau baik-baik saja Jessi.” Lirihnya.
Jessica mendudukkan dirinya di atas ranjang, ia menarik sebatang rokok yang baru saja ia beli. Ia menikmati aroma asap rokok itu dengan mata terpejam, Jessica kembali lagi. Kembali seperti dulu dimana ia tak bisa tenang jika belum merokok sehari saja.
“Hahahaaha” Jessica tiba-tiba tertawa keras, mungkin bulu kuduk orang lain akan berdiri jika berada disana.
“Damn it. Hidup sialan, mati saja.” Jessica mengacak-acak rambutnya, matanya sudah basah berlinangan air mata yang hangat. Entah kenapa semesta sepertinya tidak merestui dirinya untuk bahagia sebentar saja. Jessica menangis terisak diatas ranjang sehingga tidak peduli lagi dengan dering ponselnya.
Disisi lain, Wisnu merasa ada yang aneh. Sejak ia berangkat ke luar kota, komunikasinya dengan Jessica lancar-lancar saja namun kali ini entah kenapa wanita itu tidak membalas chat dan telepon nya dari siang padahal tadi pagi ia masih tersenyum melihat foto yang dikirimkan Jessica.
“Sudah tidur kali ya ?” Gumam Wisnu menatap kolom chat nya dengan Jessi.
“Ah, tapi ini dari tadi siang tidak di respon bahkan dibaca pun tidak. Apa dia baik-baik saja ?” Batin Wisnu merasa bingung dengan sikap Jessica, entah mengapa juga ia harus khawatir seperti ini.
“Akh, sialan. Besok-besok kalau mau pergi jauh aku akan memberimu penjaga Jessi, kau tidak boleh lari lagi dariku.” Ucapnya yakin dan tentunya dipenuhi emosi karena tak kunjung mendapat kabar wanitanya.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa feedback nya sayang 😘