
Jessica melihat para lintah darat sedang sibuk berbagi hasil dari kerja keras mereka, ya kerja keras mengotak-atik uang perusahaan. Dia tahu bahwa ia juga terlibat dalam kasus ini, namun ia hanya menjalankan perintah atasannya. Karena bagaimanapun didalam pekerjaan kita hanya perlu mengikuti perintah dari atasan, begitulah pemikirannya.
Suatu saat nanti kalian juga akan merasakan akibat dari perbuatan kalian. Batin nya dengan wajah muak.
Beberapa hari kemudian
Jessica terkejut melihat Sherina berada di kantor, ia bersembunyi di balik tembok untuk menghindari Sherina.
Sedang apa dia disini ?
Tak lama kemudian Sherina melihat Erick datang mendekati Sherina, wanita itu tersenyum melihat kedatangan sang kakak.
“Ada apa ?” Tanya Erick dengan wajah masam.
“Kak, aku sudah hampir seminggu lulus namun kau tak pulang-pulang dan tidak mengucapkan apapun kepadaku.” Balas Sherina dengan wajah sendu.
“Sherina Fernandez. Aku sudah bilang kalau aku sedang sibuk mengurus ini itu, kenapa kau selalu tidak mengerti ? apa kau tuli ? tolong pahami apaa yang aku ucapkan padamu.” Ucap Erick menahan emosi.
“Oke, aku mengerti. Untuk itulah kehadiranku disini.” Sherina tersenyum tipis.
Apa ? jangan-jangan dia ingin....
“Aku akan bekerja disini” ucap Sherina penuh keyakinan.
“Tidak perlu, kau hanya perlu duduk di rumah. Lagi pula selama ini apa aku pernah membuatmu kekurangan ?” Tanya Erick yang tidak setuju jika Sherina memulai karir nya di perusahaan itu.
“Tapi aku tidak mau selalu menjadi beban mu, tolong jangan menghalangiku bekerja.” Ucap Sherina.
“Sebaiknya kau pulang saja jika tidak ingin membuat ku marah.” Ucap Erick dengan mata memerah.
“Tapi kak ak...”
“Pulang Sherina”
“Kau akan pulang malam ini kan ?” Tanya Sherina lagi.
__ADS_1
“Lihat nanti.”
“Kak, kenapa kau berubah sekarang ? dimana Erick yang kukenal dulu ? dimana seorang kakak yang...”
“Diam.” Bentak Erick yang membuat Sherina tidak melanjutkan kalimatnya.
Jessica yang sedang menguping pembicaraan kakak beradik itupun terkejut mendengar bentakan Erick. Baru kali ini ia mendengar Erick membentak Sherina.
“Bawa dia pergi” perintah Erick kepada security yang ada disana.
“Kak..”
“Jangan ganggu aku” Ucap Erick tegas, kemudian pergi entah kemana.
Jessica segera pergi dari tempat itu, kembali duduk di ruangannya. Yola yang melihat ekspresi Jessica pun bertanya dengan wajah kebingungan.
“Ada apa ? kenapa wajahmu seperti itu ?”
“Tidak apa-apa” Balas Jessica cuek dan kembali berkutit dengan laporannya.
“Aneh”
“Bu Dewita, ada apa ?” Tanya Jessica bingung.
“Tidak usah pura-pura Jessica, kau kan pelakunya ?” Tanya Bu Dewita dengan tatapan tajam.
“Maksud ibu apa ? saya tidak mengerti.”
“Kau sudah dengar kan, tiba-tiba ada rapat dadakan di bagian keuangan ? dan itu perintah dari presdir sendiri.” Jelas Dewita menahan amarahnya.
“Bu, saya tidak pernah mau berurusan dengan hal-hal seperti itu.” Jawab Jessica yang sudah paham kemana arah pembicaraan itu.
“Ahhh, dasar munafik. Awas saja kalau presdir tahu, tamat riwayatmu.” Ancam Dewita.
“Semuanya.... ayo bersiap ke ruang rapat. Sebentar lagi akan dimulai.” Perintah Kepala keuangan itu. para staff yang mendengarnya bergegas ke ruang rapat sambil membawa berkas-berkas mereka.
__ADS_1
Setelah rapat selesai mereka keluar dengan wajah lesu, namun tidak dengan Jessica. Hasil dari rapat hari ini Kepala keuangan resmi dipecat karena penggelapan uang perusahaan yang dilakukannya. Wajah Dewita sangat lesu, bagaimana tidak ? yang di pecat hanya dirinya sendiri sedangkan para staff lain akan tetap bekerja disana. Dewita tidak terima ia merasa ini tidak adil karena hasil korupsi itu dibagi rata dengan teman-temannya yang lain. Ia sangat marah saat mengambil semua barang-barang yang ada di mejanya.
“Kau akan tanggung sendiri akibatnya Jessica.” Ucapnya dengan penuh penekanan, sehingga siapapun yang mendengarnya akan merasa takut.
“Sudah kukatakan aku tidak pernah berurusan dengan kecurangan yang kalian buat. Aku bahkan tidak pernah bicara dengan presdir.” Jelas Jessica membela diri.
“Hahaha... kau pikir aku percaya ?” Dewita memiringkan bibirnya.
“Lihat saja, kau akan hancur perlahan karena sudah membuatku seperti ini. aku akan menanggung akibat dari kecerobohanmu.” Dewita mengancam wanita itu lagi. Namun Jessica tak pernah takut dengan ancaman-ancaman yang diberikan Dewita.
“Terserahmu saja mau melakukan apa, kau bukan atasanku lagi. Jadi aku tidak peduli dengan apapun yang keluar dari mulut mu.” Balas Jessica tak kalah menakutkan.
“Ibu Jessica, di panggil presdir agar ke ruangannya.” Ucap seorang staff yang muncul dibalik pintu.
Deg
Jantung Jessica berdetak cepat, menerka-nerka apa maksud presdir memanggil dirinya.
Ya Tuhan apalagi ini ? apa dia sadar bahwa aku pernah bertemu dengannya ? Aduh, mati aku. Batin Jessica sambil menatap teman-teman kantornya secara bergantian termasuk mantan kepala keuangan itu.
“Ba-baik, saya akan segera kesana.” Jawab Jessica.
“Hahaha, kau mau mengelak lagi ? memang kau lah dalang dibalik semuanya ini kan ?” Dewita ingin menjambak rambut Jessica saat itu juga.
“Maaf, kau tidak berhak menyuruhku agar menjawab pertanyaanmu. Toh, kau juga sudah DIPECAT.” Jessica bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan orang-orang yang sedang menatap dirinya dengan tatapan benci.
“Dasar bocah tengik.” Umpat Dewita menatap Jessica yang perlahan hilang dari pandangannya.
Lihat saja nanti. Kau akan menyesal setelah melakukan semua ini. Batin Dewita penuh kebencian.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa feedback nya sayang 😘