
Vita sibuk dengan handponenya yang sedang menyimak gosip yang di bawakan oleh teman sekelasnya.
"Gue nggak percaya kalau kak Al itu anak sopir," gumam Vita menyimak chat teman sekelasnya yang sedang membicarakan sosok Alvaro yang hanya sebagai anak sopir saja.
Sementara Bulan mengarahkan pandangannya melihat sekeliling kedai coffe sederhana melalui dengan tatapan matanya. Kedai coffe sederhana namun didalamnya sangat rapih dan bersih sehingga memanjakan mata.
Deg
Entah mengapa jantung milik Bulan berdetak kencang saat melihat sosok Alvaro yang duduk paling pojok menyesap kopinya. Dia tidak sengaja melihat sosok Alvaro di kursi paling pojok seorang diri.
Ternyata Alvaro juga ada disini. Bulan masih memperhatikan sosok Alvaro yang sedang menikmati coffenya dengan rokok di tangannya.
"Vita," panggil Bulan kepada Vita.
"Hmm." Vita hanya membalasnya dengan deheman karna dia sedang menyimak obrolan di group tentang Alvaro.
"Kak Al."
"Ha?" Vita mendonggakkan kepalanya menatap Bulan yang juga menatapnya.
"Kak Al juga disini," kata Bulan lagi.
"Mana?" Tanya Bulan mengedarkan pandangannya mencari sosok Alvaro.
"Kursi paling pojok, meja nomor delapan," kata Bulan dan benar saja Vita sudah melihat sosok Alvaro sedang merokok seorang diri.
"Gue yakin, ini pertama kalinya kak Al, ngopi disini," kata Vita yakin.
"Kamu tau dari mana?" Tanya Bulan penasaran kepada Vita. Sepertinya gadis itu mengetahui banyak hal tentang Alvaro.
"Gue tebak aja sih," jawab Vita dengan cengengesan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Bulan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vita malam ini. Katakan jika yang mengajak Bulan keluar malam ini untuk ngopi adalah sosok Vita.
"Gimana kalau kita tanya kak Mentari aja, pasti dia tau 'kan pelanggannya yang sering kesini sama yang baru kesini," kata Vita membuat Bulan menatap gadis itu tidak percaya.
Apakah sebegitu keponya gadis itu kepada sosok Alvaro?
"Nah itu dia kak Tari, kayaknya dia bawa pesanan kita," kata Bulan sembari melihat ke arah Mentari yang membawa nampan berisi coffe dan juga makanan.
Mentari meletakkan coffe dan juga makanan pesanan Bulan dan juga Vita sembari tersenyum.
"Selamat menikmati," kata Mentari disertai senyuman manisnya.
Bulan dan Vita tersenyum," Bisa tanya nggak sih kak?" Tanya Vita kepada Mentari.
__ADS_1
Sepertinya jiwa kepo gadis itu sudah keluar membuat Bulan siap menyimak dengan apa yang akan dipertanyakan oleh sosok Vita.
"Iya, silahkan," kata Mentari.
"Kak Al barusan kesini atau udah sering kesini?" Tanya Bulan kepada Mentari.
Mentari tersenyum samar," Al pertama kalinya kesini," jawab Mentari membuat Bulan dan Vita menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Emangnya kenapa?" Tanya Mentari lagi membuat Vita menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa kok Kak, biasa orang kepo," jawab Vita dengan cengengesan tanpa dosa.
Vita dan Bulan menikmati coffe yang dibawah oleh Mentari, sedangkan Mentari sudah pamit pergi karna dia akan mengerjakan hal lainya.
"Ternyata benar yah, coffe disini enak," puji Bulan seraya menyesap coffe Macchiato miliknya.
"Ini bakalan jadi tempat favorit anak muda," kata Vita dan di balas anggukan kepala Bulan.
Ting
Saat Mentari mencuci gelas handponenya bunyi menandakan adanya pesan masuk. Gadis dengan rambut sebahu itu mengusap tangannya untuk memeriksa siapa yang mengirimkannya pesan jam sepuluh malam.
|| "Jangan lupa istirahat, kerjanya jangan terlalu kecapean, Tar."||
|| " Iya Gas, ini juga kedainya udah mau tutup kok."||
Lepas membalas pesan Agas, gadis itu melanjutkan kembali cuci gelas. Sementara Bulan dan Vita sudah pulang hanya tinggal satu saja yang belum meninggalkan kedai coffe ini, yaitu sosok Alvaro.
"Tari," panggil Runi kepada putrinya.
"Kenapa Mah?" Tanya Mentari mengeringkan gelas yang sudah dia cuci untuk segera dia susun.
"Itu teman kamu kok belum balik?" Tanya Runi menunjuk kursi nomor delapan dengan dagunya.
Mentari melihat kearah meja nomor delapan, benar saja dia masih melihat sosok Alvaro di kursi menyesap rokoknya. Apa cowok itu lupa waktu kalau sekarang ini sudah pukul sepuluh malam? Sisa dia saja yang berada di kedai seorang diri.
"Mungkin dia lupa," kata Runi dan dibalas anggukan kepala oleh Mentari.
Kaki Mentari membawanya melangkahkan ke meja milik Alvaro.
"Al," panggil Mentari kepada sosok cowok berwajah dingin itu.
Alvaro menatap Mentari sejenak lalu mematikan rokoknya, cowok itu melirik jam di pergelangan tangannya sudah jam sepuluh lewat.
"Berapa?" Tanya Alvaro mengeluarkan ATM miliknya.
__ADS_1
"25 ribu," kata Mentari. Sebenarnya Mentari bukan menagih uang coffe Alvaro namun cowok itu langsung bertanya.
Alvaro meletakkan kartu ATM di atas meja membuat Mentari menatap Alvaro," lo nggak punya uang tunai?" Tanya Mentari karna cowok itu menyerahkan kartu ATM.
"Gue nggak sempat narik uang tunai," kata Alvaro dengan nada bicara dinginnya.
"Besok di sekolah lo bayar," kata Mentari," soalnya nggak bisa bayar pake ATM disini," sambungnya.
Alvaro memasukan ATM miliknya kedalam tas kecilnya. Cowok itu berdiri dari kursinya untuk segera pulang namun perkataan Mentari membuat langkah kakinya terhenti.
"Al," panggil Mentari.
Alvaro tidak membalikan badannya, dia menunggu Mentari meneruskan perkataannya.
"Bukan maksud gue ngusir lo," kata Mentari hati-hati ," gue cum-" Belum sempat gadis itu meneruskan perkataannya Alvaro sudah lebih dulu pergi.
Menurutnya perkataan Mentari tidak penting baginya, lagian Alvaro juga tidak mengambil hati semua ini.
Alvaro memasang helm fullfacenya dan menyalakan mesin motornya untuk segera pergi meninggalkan kedai coffe sederhana milik orang tua Mentari.
"Kamu sih bicaranya nggak sopan," kata Runi menggelengkan kepalanya mengambil gelas yang berada diatas meja tempat Alvaro tadi.
"Mah.....Tari cuman manggil nama dia," kata Mentari.
"Kalau kamu ngobrol dengan orang irit bicara, langsung ke intinya, Tari," kata Runi menggelengkan kepalanya," bagi orang irit bicara, orang yang nggak penting setiap perkataan yang keluar dari mulutnya tidak berguna untuk dia dengarkan."
"Kecuali kita udah dekat dan udah punya hubungan biarpun kamu bicara tentang ini dan itu menurutnya akan penting meski kenyatannya kurang penting. Begitupun sebaliknya," sambungnya membuat Mentari mencernah setiap perkataan mamahnya.
Mentari duduk di kursi sembari memejamkan matanya, rasanya dia sangat letih ditambah besok dia akan ke sekolah dan pastinya lagi dia akan repot.
"Kamu balik aja, biar mamah yang urus ini semua," kata Runi.
"Tapi Mah...."
"Nggak ada tapi-tapian Tari, kamu besok sekolah. " Runi berkata dengan sedikit tegas karna anaknya itu akan kekeh tinggal menunggu dirinya.
Dengan berat hati gadis itu mengambil tasnya yang berada di dapur, dia akan pulang malam ini menggunakan ojek yang selalu mengantarnya.
Mentari berjalan keluar kedai coffe dia langsung tersentak kaget saat melihat Alvaro masih berada diluar, padahal dengan jelas Mentari mendengar suara mesin motor Alvaro tadi, namun cowok itu masih didepan kedai.
"Naik."
Satu kata yang keluar dari mulut Alvaro membuat Mentari membeku.
"Kurang jelas?" Ucap Alvaro lagi lalu memakai helm fullfacenya.
__ADS_1