Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Gue yang bakalan menang (Alvaro)


__ADS_3

Renal sepuluh menit yang lalu sudah datang, tadinya dia ingin menghampiri Alvaro dan Mentari namun mendengar Alvaro curhat membuatnya mengurungkan niatnya untuk mendekati mereka berdua.


Renal sempat terhanyut dengan curhatan Alvaro kepada gadis di hadapannya.


Renal memilih duduk di kursi dekat pintu masuk, sekarang dia tahu jika selama ini Alvaro kesepian sehingga wataknya yang dingin tak tersentuh melekat di dirinya.


Renal menarik nafasnya panjang, lalu bergumam. ''Mulai hari ini gue bukan kerja sama pak Frans. Tapi gue bakalan hadir menjadi teman Alvaro,'' gumam cowok itu.


Runi menghampiri meja milik Renal, lalu cowok itu memesan coffe dan makanan.


''Kamu sekolah di SMA Bina Marta?'' tanya Runi membuat Renal mengangguk.


''Kok tante bisa tahu,'' tanya cowok itu membuat Runi tertawa kecil.


''Seragam sekolah kamu sama dengan seragam sekolah anak saya,'' jelas Runi membuat Renal mengangguk.


''Nama anak Tante siapa, siapa tau aja Renal kenal sama anak Tante,'' ucap Renal basah-basih, nggak mungkin juga dia langsung mengenali anak Tante yang bertanya padanya..


Secara dia murid baru di sana.


''Nama anak Tante Mentari,'' kata Runi membuat Renal diam sejenak.


''Maksud Tante Mentari yang duduk di sana,'' tunjuk Renal kearah Mentari dan Alvaro yang masih setia mengobrol.


Runi melihat kearah yang di tunjuk oleh Renal, entah sejak kapan anaknya itu dekat dengan Alvaro.


Keduanya bisa melihat jika Alvaro dan Mentari nampak berbincang-bincang serius, entah apa yang mereka sedang obrolkan.


''Iya, itu anak Tante.''


Renal mengangguk seraya tertawa kecil. ''Kalau anak Tante mah terkenal di sekolah. Dia, kan ketua kelas pilihan di sana,'' jelas Renal.


Meski dia baru hari ini menjadi murid baru di sana, tapi dia sudah tahu mengenai Mentari lewat teman kelas mereka.


Di sekolah siapa sih tidak mengenal Mentari, sebagai ketua kelas pilihan.


Runi hanya tertawa saja, dia sudah tahu mengenai hal itu. Runi pamit lebih dulu untuk membuatkan pesanan Renal.


Renal bisa menebak jika mamanya Mentari bekerja di sini atau tidak dia pemilik cafe ini.


Steven turun dari mobilnya, setelah dia mendapatkan kabar dari teman sekelasnya jika Mentari biasa ke cafe membantu orang tuanya.


Dengan masih menggunakan seragam SMA, cowok itu masuk kedalam cafe milik Runi. Renal yang melihat cowok yang sempat dia ajak berdebat di pintu kelas dan parkiran memasuki cafe ini.


''Woy! Steven William!'' panggil Renal membuat Steven langsung melirik kebelakang.

__ADS_1


''Lo manggil gue Steven William?'' tanya Steven membuat Renal mengangguk mengiyakan ucapan cowok itu.


Steven menyungkirkan senyuman bangga kearah Renal. ''Gue emang tampan, bisa dibilang ketampanan gue sama Steven William itu beda tipis,'' ucap Steven dengan bangga membuat Renal bergedik ngeri sendiri melihat tingkat kepedean cowok itu.


Iya sih Steven memang tampan, bukan berarti ketampanannya itu menyaingi ketampanan milik Steven William.


Renal hanya iseng-iseng memanggilnya dengan sebutan Steven William, karna nama depan mereka sama.


Tahu-tahunya Steven malah semakin besar kepala.


''Lu itu pas di lahirin, pembagian tingkat kepedean lo borong semua,'' decak Renal membuat Steven menatapnya dengan tatapan sangar.


''Jadi maksud lo gue jelek gitu, hah!'' nyolot Steven dengan suara naik dua oktaf membuat para pengunjung cafe melihat kearah mereka.


''Yang bilangin lo jelek siapa?'' nyolot balik Renal.


''Ada apa ini?'' Runi datang seraya membawa pesanan milik Renal.


''Nggak usah ikut campur!'' cecar Steven kepada Runi membuat wanita itu tersentak kaget.


Bugh


Seseorang datang menghajar wajah Steven. Cowok itu jatuh kebawah membuat pengunjung cafe lari keluar karena takut.


''Ck! Beraninya lo bentak Tante Runi!'' Agas berdesis kepada Steven membuat cowok itu berdiri memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.


Lagi, Renal bertemu dengan cowok tidak asing, siapa lagi kalau bukan Agas dengan tiba-tiba menghajar Steven.


''Taik Lo!''


BUGH....


Steven menghajar balik Agas, membuat kedua cowok itu adu jotos, pengunjung cafe sudah bubar semua.


Alvaro langsung melihat kearah keributan, mereka asik berantem sampai-sampai tidak peka dengan suara itu.


Alvaro dan Mentari berdiri dari kursi yang dia duduki.


''Agas, Steven!''


Alvaro bersedekap dadah, melihat keduanya masih setia berkelahi. Entah apa yang membuat kedua cowok tampan itu berkelahi di sini.


Agas dan Steven seperti tuli, mereka tidak mendengarkan panggilan dari Mentari. Mentari ingin meleraikann mereka namun Alvaro langsung mencekal pergelangan tangannya.


''Biar gue yang tanganin,'' ucap Alvaro dengan yakin membuat Mentari menatap cowok itu dengan tatapan tidak percaya.

__ADS_1


Alvaro melihat Steven dan Agas masih saling memberikan pukulan satu sama lain, tanpa melepaskan tangan Mentari, Alvaro langsung angkat bicara.


''Percuma kalian berdua berantem, kalau gue yang bakalan menang.''


Steven dan Agas langsung berhenti menghajar satu sama lain, saat Alvaro berucap seperti itu.


Mentari tidak tau apa maksud Alvaro, namun ucapan cowok itu berhasil membuat Agas dan Steven berhenti memberikan pukulan satu sama lain.


Mentari melihat Agas dan Steven, kedua sudut bibir mereka berdarah, jangan lupa wajah mereka menjadi lebam.


Agas dan Steven menatap Alvaro, lalu mata kedua cowok itu melihat kearah tangan Alvaro dan Mentari saling bertautan.


Mentari melihat kearah yang Agas lihat, gadis itu langsung melepaskan tangannya dari tangan Alvaro.


''Kalian berdua ngapain berantem di dalam sini?'' garang Mentari.


''Jadi kalau di luar boleh?'' sahut Renal membuat mereka semua langsung menatap Renal dengan tatapan horor.


Renal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


''Maksud lo apa?'' tanya Agas dengan dingin kepada Alvaro.


''Gue tahu, kalian berdua udah paham apa yang barusan gue bilang,'' jelas Alvaro membuat Mentari memijit pelipisnya.


''Ck! Jangan mimpi lo anak supir!'' desis Steven kepada Alvaro membuat cowok itu menatap Steven dengan tatapan sangar.


''Lo yang jangan mimpi, modelan kayak lo nggak bakalan di minatin,'' ucap Alvaro membuat Renal bertepuk tangan.


''Tepuk tangan buat Alvaro yang ngomong panjang kali lebar!'' tawa Renal membuat mereka terusik.


''Diam Lo banci!'' geram Steven kepada Renal.


''Mamah balik duluan, biar Mentari yang urus ini semua,'' ucap Mentari kepada Runi membuat wanita itu mengangguk.


''Jangan sampai teman kamu berantem lagi, Tar,'' ucap Runi dan dibalas anggukan kepala oleh Mentari.


''Biar Renal yang antar tante balik,'' tawar Renal.


Runi mengangguk, kepalanya tiba-tiba pusing Karna melihat Agas dan Steven berkelahi.


''Makasih, Ran,'' ucap Mentari kepada Renal yang ingin mengantar mamanya untuk pulang.


''Sama-sama.''


Lepas itu Renal keluar cafe lalu menghampiri ketiga cowok itu.

__ADS_1


__ADS_2