
''Kedainya udah bagus di bilangin cafe.'' celoteh Vita masih belum memperhatikan siapa cowok di hadapan mereka.
Bulan hanya menganguk dan mendengarkan celotehan dari teman barunya.
''Lan, lo foto gue,'' perintah Vita seraya menyerahkan ponsel berlogo apel kepada Bulan. ‘’Gue bakalan post di akun ig gue, biar kedai kak Mentari makin maju,'' lanjut Vita seraya mengambil gaya untuk foto.
Cekrek
Bulan mulai mengambil gambar menggunakan kamare Vita.
''Coba gue lihat hasilnya,'' ujar Vita meminta ponselnya kepada Bulan, untuk melihat hasil fotonya.
''Wow, cantik banget sih gue!'' gadis itu terpekik heboh melihat wajahnya yang cantik.
Sementara cowok yang duduk satu meja dengan mereka sudah merasa terusik karna kehadiran Vita yang sangat heboh.
‘’Kebantu efek, tapi nggak apa-apa,'' gumam gadis itu dengan tertawa kecil.
Sementara Bulan hanya tersenyum melihat keceriaan Vita.
''Foto lagi dong, Lan.'' Vita kembali menyerahkan ponsel berlogo apel itu kepada Bulan.
Cekrek
“Lagi, Lan!''
Cekrek
“Lagi!''
Cekrek
__ADS_1
“Lagi Lan, fotonya cantik banget!”
Cekrek
''Lagi!''
Cekrek
Cekrek
Cekrek
Cowok di depan mereka semakin pusing mendengar suara cekrek kamare dari gadis di hadapanya.
Tujuannya kesini untuk menenangkan pikiranya. Mendengar suara cekrek dan cekrek membuatnya semakin pusing.
Dia sudah sadar jika ada orang lain di hadapanya.
“Kamu ambil gaya di situ, Lan. Biar gue foto lo!”
“Ok.”
“Gaya Gin-“
“Berisik!!!!”
Vita dan Bulan langsung terlonjak kaget dengan suara tersebut.
''Gue kayak kenal ini suara,'' gumam Vita takut-takut lalu melirik kedepan.
Jleb...
__ADS_1
Vita langsung meneguk salivanya susah payah, saat melihat tatapan cowok yang ingin sekali memangsa dirinya.
“Lan....'' tenggerokan Vita hampir saja tercekat. Sementara Bulan? Dia sedang terpesona dengan tatapan Alvaro saat ini.
Vita melirik Bulan, rupanya temanya itu tengah asik memandang wajah tampan milik Alvaro.
Memang tampan, tapi menyeramkan.
''Hm…'' Mentari datang berdehem sehingga mencairkan suasana yang hening di kursi nomor tiga.
‘’Kalian kenapa?'' tanya Mentari setelah menyimpan pesanan Vita dan juga Bulan diatas meja.
Sementara Alvaro sudah sibuk dengan ponselnya kembali setelah kedatangan Mentari.
''Nggak, kok, kak,'' jawab Vita dengan suara yang nyaris hilang.
Mentari pura-pura tidak tau, karna dia sudah tau jika pelanggannya ini sudah tau siapa di hadapanya.
‘’Selamat menikmati,'' ucap Mentari lalu berjalan pergi meninggalkan meja nomor tiga.
Mentari tidak bisa menyembunyikan senyuman nya melihat wajah Vita nampak pucat saat mengetahui jika di hadapan mereka adalah sosok Alvaro tanyanya.
Bulan menyenggol lengan Vita. ''Vit...Kak Al,'' bisik Bulan dan dibalas anggukan kepala kakuh oleh Vita.
''Minum, Lan. Keburu coffenya jadi beku,'' celutuk Vita.
Mereka berdua tentu saja tidak menikmati coffenya, andai saja Vita tau jika meja nomor tiga adalah Alvaro dia tidak akan kesini dan membuat cowok itu sampai menegurnya karna sangat cerewet.
''Coffe macchiato buatan kak Mentari enak,'' gumam Bulan yang tidak di sengaja di dengar oleh Alvaro.
Cowok itu berdiri dari kursinya, sehingga menciptakan bunyi decitan membuat Vita terkejut karna suara kursi dari Alvaro.
__ADS_1
Vita bernafas legah saat Alvaro sudah pergi dari meja nomor tiga. ''Gue ikutan membeku kalau dekat kak, Alvaro,'' decak Vita.