Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Kemarahan Frans


__ADS_3

Dari dalam kamar mandi Alvaro bisa mendengar pertanyaan gadis tersebut kepada Dila. Alvaro sudah tau jika Dila mempunyai seorang anak yang belum pernah Alvaro lihat bagaimana wajahnya.


"Bunda mendadak kesini tadi sayang," elak Dila membuat Bulan manggut-manggut.


"Tapi kenapa bunda menggunakan masker? Apa bunda sakit?" tanya Bulan karna melihat Dila menggunakan masker malam ini.


"Ahk iya, bunda lagi flu jadi bunda pake masker. Disini tempat ramai bunda takut bakalan ada yang tertular dengan flu bunda ini," kata Dila dan dibalas anggukan percaya oleh Bulan.


"Bunda tau nggak, kalau aku menang lomba," kata Bulan dengan girang.


"Oh, ya!" Dila pura-pura terkejut padahal dia sudah tau jika putrinya itu juara satu. "Anak bunda hebat yah," kata Dila membawa Bulan kedalam dekapannya.


"Ini semua berkat doa dan usaha," kata Bulan masih memeluk erat Dila.


"Oh iya bun, tapi ada yang aneh," kata Bulan mulai ingin menceritakan keganjalan dalam hatinya.


"Aneh kenapa?" tanya Dila penasaran sehingga Bulan melepaskan pelukannya.


"Cowok yang pake topeng nggak masuk tiga besar sama sekali. Padahal lukisannya sangat bagus Bun, bahkan aku pikir dia yang bakalan menang karna lukisannya keren banget," Bulan mulai menceritakan apa yang ada dalam hatinya.


Ya Tuhan, apakah benar Frans dibalik ini semua? Mengapa dia melakukan semua ini? Seharusnya dia bangga mempunyai anak seperti Alvaro.


"Bund," panggil Bulan karna Dila hanya diam saja setelah Bulan menceritakan semuanya.


"Iya sayang, mungkin cuman pikiran kamu aja. Siapa tau jurinya menilai dari sisi lain," kata Dila membuat Bulan manggut-manggut dengan perkataan Dila.


"Yaudah yuk, Bund. Kita ketemu sama papah," kata Bulan menarik tangan Dila.


Dila sempat berbalik kearah kamar mandi yang tertutup karna didalamnya masih ada orang, yaitu sosok Alvaro.


"Sayang, aku pikir kamu tidak bisa datang," kata Akbar mencium pipi istrinya lalu duduk berempat dengan juga Vita.


"Aku tadi usahain datang, Mas. Demi melihat Bulan lomba," kata Dila membuat Akbar tersenyum kearah istrinya itu.


"Karna kemahiran mu dalam melukis membuat Bulan juga mengikuti jejak mu jadi pelukis yang hebat. Aku yakin, Bulan bakalan menjadi pelukis hebat seperti dirimu, sayang," kata Akbar membuat Dila tersenyum kearah suaminya itu.


"Bund, ini sahabat barunya Bulan," kata Bulan memperkenalkan Vita kepada bundanya.

__ADS_1


"Halo, Tan. Nama saya Vita," kata Vita memperkenalkan dirinya kepada Dila.


"Dila, bundanya Bulan," kata Dila disertai dengan senyuman manisnya.


Mereka asik berbincang-bincang hingga kedatangan seseorang. "Halo pak Akbar, sepertinya saya tidak bisa lama disini karna ingin mengurus sesuatu," kata Frans berjabat tangan terlebih dahulu kepada Frans sebelum pergi.


Sementara Dila mematung mendengar suara tersebut, bahkan kepalanya sangat kakuh untuk melihat sekelilingnya.


"Oh iya pak, perkenalkan ini istri saya. Dia menggunakan masker karna sedang flu," kata Akbar memperkenalkan Dila.


"Saya Frans," kata Frans menjulurkan tangannya kearah Dila.


Dila menyambutnya dengan kakuh. "Dila," kata Dila lalu melepaskan tangannya dari Frans.


"Saya seperti sering melihat anda, tapi siapa yah," kata Frans yang tidak asing melihat bola mata milik Dila.


Meski dia menggunakan masker, namun Frans seperti tidak asing dengan mata tersebut.


Akbar tertawa mendengar penuturan Frans. "Pak Frans bisa aja."


Frans ikutan tertawa meski hal tersebut tidaklah lucu. "Ini anak kamu?" tanya Frans menunjuk kearah Bulan.


"Dia hebat, sampai-sampai memenangkan perlombaan ini," puji Frans terhadap Bulan.


"Pasti bapak sama ibu sangat bangga mempunyai anak berbakat seperti dia," kata Frans membuat Akbar mengangguk setuju. Karna dia sangat bangga kepada anaknya itu.


Sementara Bulan yang disanjung hanya tersenyum kecil, baginya bapak ini terlalu berlebih-lebihan memujinya. Padahal Bulan berpikir jika lukisannya itu masih ada diatasnya, yaitu lukisan milik cowok bertopeng tersebut.


Bahkan Bulan yakin, jika seseorang akan berpikir sama seperti dirinya.


Frans mengusap rambut Bulan. "Anak yang sangat berbakat, orang tuamu sangat bangga mempunyai anak berbakat seperti mu," puji Frans membuat Dila tersenyum miris dibalik masker yang dia kenakan.


"Yasudah kalau begitu, saya pamit dulu," pamit Frans kepada Akbar.


"Hati-hati pak."


Frans keluar dari tempat acara yang sedang dilangsungkan dengan wajah yang sulit untuk ditebak, dia langsung masuk kedalam mobil ingin segera kembali ke Mansion.

__ADS_1


Sekitar tiga puluh menit supir mengemudi, akhirnya mobil tersebut telah sampai didepan mansion. Frans langsung turun dari mobil tanpa menunggu sang supir untuk membukakannya pintu terlebih dahulu.


Pintu utama mansion terbuka, terlihat para maid berjejeran menyambut kedatangan Frans.


"Alvaro mana!" tanya Frans dengan tegas kepada maid seraya melonggarkan dasinya.


"Tuan Alvaro sedari tadi belum pulang, tuan," kata salah satu maid yang berani angkat bicara karna rekanya yang lain hanya diam, karna takut melihat Frans saat ini.


"Anak tidak berguna, saya sudah yakin jika selama ini dia yang menggunakan topeng selama ikut lomba. Dan baru sekarang aku mengetahuinya!" geram Frans.


Seluruh maid hanya terdiam sembari menundukkan kepalanya, tidak ada yang berani angkat bicara. Bahkan sang supir bernama pak Farhat menundukkan kepalanya, dia yakin Alvaro akan mendapatkan hukuman yang sangat berat dari Frans.


Tentu saja pak Farhat mengkhawatirkan semuanya.


"Pak Farhat!" panggil Frans kepada pak Farhat.


"Iya tuan," sahut pak Farhat sembari menundukkan kepalanya didepan Frans.


"Jemput Alvaro, satu jam lagi acara akan selesai. Setelah acara selesai seret anak itu kesini!" tegas Frans kepada Farhat.


"Siap tuan," kata pak Farhat.


"Pergilah!" Farhat langsung pergi sesuai dengan perkataan Frans. Dia akan menjemput Alvaro.


Sebenernya acara sudah selesai, namun ada yang mengusulkan satu jam untuk mengadakan pesta.


Frans menyandarkan kepalanya dikursi sofa. "Kenapa kau tidak mendengar, Al," lirih Frans sembari memijit pelipisnya yang sangat pusing.


Dia beranjak dari sofa yang dia duduki untuk keruangan kerjanya. Jika jam begini orang-orang akan istirahat, berbeda dengan Frans yang terus bekerja.


Pak Farhat mengemudikan mobilnya dengan sekali-kali dia memikirkan nasib Alvaro. Dia sangat yakin jika anak itu akan mendapatkan hukuman yang lebih berat dari biasanya.


"Sovia, lihatlah nasib anakmu," lirih pak Farhat sembari mengingat Sovia. Entah dimana sekarang keberadaan Sovia semenjak dia pergi meninggalkan Alvaro dan suaminya.


Pak Farhat berharap, Sovia datang lalu membawa Alvaro pergi dari Frans. Pak Farhat sangat kasian dengan Alvaro yang dimana hobinya sangat di tantang oleh Frans.


Apa lagi cara mendidik Frans tidak main-main, dia tidak segan-segan menyakiti anaknya, namun sudah itu dia akan menyesal dan melakukannya kembali.

__ADS_1


"Kembalilah Sovia, jemput anak mu,'' gumam pak Farhat.


__ADS_2