
Alvaro meninggalkan ruangan kepala sekolah, melihat wajah Steven membuat darahnya semakin naik.
Sungguh Alvaro tidak akan mengeluarkan kata maaf jika bukan dirinya yang salah, dan dengan entengnya kepala sekolah menyuruhnya untuk meminta maaf kepada Steven.
Mentari juga ingin keluar dari ruangan kepala sekolah, namun pergelangan tanganya di cekal oleh Steven. “Suruh cowok lo itu buat minta maaf sama gue!” tuntut Steven pada Mentari yang ingin keluar namun tanganya dicekal oleh Steven.
Berandal di SMA ini membuat Mentari jadi berpikir, jika dia salah masuk sekolah. Jika biasanya berandal SMA hanya berada di cerita novel, namun kali ini berandal sekolah nampak nyata dan lebih mencengkan.
“Lo aja sebagai laki-laki susah buat bujuk Al buat minta maaf. Apa lagi gue sebagai perempuan yang bukan siapa-siapanya Alvaro,” Mentari menekan perktaanya kepada Steven.
“Gue bukan bujuk, Alvaro. Gue cuman nyuruh dia buat minta maaf sama gue!” desis Steven kepada Mentari karna gadis di hadapnya ini sudah mengatakan kepadanya jika dia sedang membujuk Alvaro untuk minta maaf kepadanya.
Mentari tersenyum simpul, dengan tanganya masih di cekal oleh Steven. “Perbedaan membujuk sama mengemis beda tipis. Lo bujuk Alvaro untuk minta maaf sama lo sementara lo tau dia nggak mau. Sama aja lo bujuk dia dengan rasa mengemis agar Alvaro ucap kata maaf sama lo, Stev!”
“Apa dengan maaf dari Alvaro sangat berharga buat lo? Apa derajat lo bakalan naik kalau Alvaro minta maaf sama lo?” tantang Mentari membuat Steven semakin mengeratkan pegangan tanganya pada Mentari.
Mentari ingin meringis, namun dia tahan. Dia yakin, tanganya yang putih itu sudah memerah.
Perktaan Mentari sukses membuat otaknya menjadi berpikir keras, ternyata gadis di hadapnya ini pandai berbicara membuat lawan bicaranya mati kutu.
“Nggak usah ikut campur sampai ke akar-akarnya. Gue cuman nyuruh lo buat nyuruh Alvaro minta maaf sama gue!” Seloroh Steven kepada Mentari.
“Nggak segampang itu,” kesal Mentari seraya menahan sakit di tanganya. “Kepala sekolah aja dibantah, apa lagi gue,” lanjutnya.
“Dia nggak bakalan ngebantah perktaan cewek yang dia suka!” decak Agas.
“Emangnya lo pernah lihat Alvaro ungkapin rasa sukanya sama gue? Emangnya lo pernah lihat sikap Alvaro manis sama gue? Emangnya lo pernah lihat Alvaro diam-diam perhatian sama gue? Nggak pernah kan, dan dengan gampangnya lo bilang kalau Alvaro suka sama gue!” tegas Mentari. Entah dari mana cowok itu membuat kesimpulan jika Alvaro menyukai dirinya.
“Lo punya telinga kan?“ Mentari memberikan pernyataan kepada Steven. “Kalau lo gunain telinga lo dengan baik, pasti lo udah dengar ancaman yang dikasi Alvaro. Kalau kepala sekolah bakalan ngeluarin gue dari sekolah ini kalau Alvaro nggak minta maaf sama lo.”
__ADS_1
Mentari tersenyum tipis. “Dan jawaban Alvaro, dia nggak peduli,” lanjutnya. Dia masih menyimpan dengan jelas perkataan Alvaro yang tegas tanpa terbantahkan.
Lagi dan lagi Steven terdiam dengan pernyataan Mentari, dia kalah debat dengan gadis dihadapnya yang terkenal dengan sikapnya yang tegas, pintar dan juga mempunyai sikap yang disukai oleh orang-orang.
“Lepasin tangan gue,” keluh Mentari karna tanganya sudah sakit di cekal oleh tangan kekar milik Steven.
Sedari tadi Agas mencari keberadaan Mentari namun dia tidak menemukan gadis itu. Dia sudah mencarinya di kantin dan di kelas namun gadis itu tidak ada.
“Kemana lo, Tar. Gue Telfon nggak lo angkat-angkat,” keluh Agas.
Agas melihat Tamara keluar dari perpustakaan bersama dengan Dado.
“Tamara, Dado!” panggil Agas lalu menghampiri Tamara dan Dado.
Sehingga langkah kaki Tamara dan Dado terhenti.
“Kenapa, Gas?” Tanya Tamara.
“Mentari udah sejaman lebih di panggil sama kepala sekolah,” jawab Tamara dan dibalas anggukan kepala oleh Dado.
“Apa di kelas kalian ada yang buat masalah lagi?”
“Nggak ada sih, tapi menurut gue Mentari di panggil karna kejadian seminggu yang lalu, mengenai pertengkaran Steven dan Alvaro. Karna Alvaro juga tadi di panggil sama kepala sekolah,” timpal Dado.
“Tapi gue lihat Alvaro udah cabut dari sekolah, sekitar sepuluh menit yang lalu. Tapi kenapa Mentari belum balik?” menolog Agas, karna dia melihat Alvaro keluar gerbang sekolah.
“Makasih infonya, gue keruangan kepala sekolah cari Mentari dulu,” pamit Agas kepada Dado dan Tamara.
Tamara dan Dado hanya mengangguk. “Agas kelihatannya tulus cinta sama Mentari,” ucap Dado.
__ADS_1
“Udah tau masih di pertanyakan lagi,” kata Tamara memutar bola matanya malas kearah Dado.
Lepas itu, mereka melanjutkan langkah kakinya untuk segera kembali ke kelas.
Agas sudah sampai didepan ruangan kepala sekolah, dia ingin melangkahkan kakinya namun dari jendela dia melihat Steven mencekal tangan Mentari. Agas bisa melihat wajah kesakitan Mentari.
Agas mengepalkan tanganya untuk segera masuk menghajar Steven, namun niatnya dia urungkan karna kepala sekolah sudah lebih dulu menyuruh Steven untuk melepaskan tangan Mentari.
“Steven, lepaskan tangan Mentari,” tegur kepala sekolah. Perlahan-lahan Steven melepaskan tangan Mentari, dia bisa melihat tangan gadis itu memerah dan membekas karna tanganya.
Mentari berusaha menahan sakit di tanganya itu semua tidak luput dari penglihatan Agas. Mata Agas menjadi tajam dan mengepalkan tanganya sehingga urat tanganya terlihat begitu jelas.
“Mentari duluan bu,” pamit Mentari kepada kepala sekolah.
Mentari menatap manik mata Steven sejenak yang membuat tanganya menjadi merah dan sedikit nyeri.
Lalu dia benar-benar pergi, Steven melihat punggung Mentari seraya tersenyum penuh arti. “Pantas aja Agas masih nunggu jawaban cinta lo sampai sekarang,” menolog Steven.
Agas menyandarkan tubunya didekat dinding pintu, agar Mentari tidak melihat keberadaannya di sini.
“Tunggu apa lagi kamu, Steven. Silahkan kembali ke kelas mu,” perintah kepala sekolah lalu duduk di kursi miliknya nya seraya memejamkan matanya.
Sebagai kepala sekolah, dia mempunyai banyak beban pikiran mengenai muridnya. Baru kali ini, dia mendapatkan murid yang nakalnya dan keras kepalanya tidak main-main.
“Baru angkatan ini yang membuat saya pusing,” menolog kepala sekolah seraya memejamkan matanya.
Dia akan merasa legah, jika Steven, Agas dan terutama Alvaro sudah lulus dari SMA ini, dia akan menjalankan dirinya sebagai kepala sekolah yang tenang tidak seperti ini.
Angkatan kali ini menurut kepala sekolah samgat meresahkan. Tidak menghitung tahun murid brandalan itu akan lulus dari sini yang akan membuatnya bernafas legah, bahkan dia mempunyai niat akan merayakannya.
__ADS_1
“Angkatan ini meresa-“ belum sempat dia meneruskan perktaanya suara gaduh dari luar langsung masuk kedalam indra pendengarannya.
BUGH