Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Pesta dansa


__ADS_3

Pak Farhat hanya melihat kearah pintu tempat berlangsungnya acara, bahkan dia menitihkan air matanya. Dia berpikir apa yang akan dilakukan Frans nantinya saat dia membawa Alvaro pulang.


Sebagai seseorang yang sangat dekat dengan Alvaro tentu saja pak Farhat merasakan sakit jika melihat Alvaro disakiti oleh Frans.


Cara mendidik Frans sangatlah keras membuat pak Farhat kasihan kepada Alvaro.


Pak Farhat mengusap air matanya kasar. "Kasi kebahagiaan untuk Alvaro," pintah Pak Farhat sembari mengusap air matanya kasar.


Dia sangat dekat dengan Alvaro, semenjak Sovia meninggalkannya dia yang selalu menggendong anak itu hingga dia tumbuh dewasa seperti ini.


"Sovia, jemput anak mu." Andaikan Pak Farhat punya kekuasaan yang sepadan dengan Frans dia akan melawan Frans jika menyangkut Alvaro.


Dia yang memelihara Alvaro semenjak kecil, membawa anak itu kemanapun dia pergi agar tidak menangis karna saat itu Frans sibuk mengurus bisnisnya hingga dia bisa sesukses ini.


Sementara Mentari masih mencari Agas, karna cowok itu belum juga dia temukan.


"Cari siapa?"


Mentari langsung melihat kearah belakang, dia sudah melihat Agas bersedekap dada sembari tersenyum kearahnya.


Mentari menghembuskan nafas berat. "Agas, lo kemana sih, gue cariin tau nggak," keluh Mentari menghampiri Agas.


"Gue tadi ketaman, cari udara segar," bohong Agas, padahal Mentari tau jika dia tidak ke taman karna dia baru datang dari taman tapi Agas tidak disana.


"Lo udah rindu yah sama gue, padahal cuman beberapa menit gue tinggalin," ejek Agas membuat Mentari langsung menggelitik perut Agas.


"Udah, Tar. Geli tau nggak," kata Agas menghindari tangan Mentari yang membuat dirinya geli karna Mentari menggelitik dirinya.


Ceklek


Bersamaan dengan itu, Mentari memberhentikan aksinya karna bukan cuman dia yang berada disini. Rupanya cowok yang Mentari tubruk tadi masih berada di WC. Mentari pikir cowok yang menggunakan topeng itu sudah pergi dari sini.


Mentari melepaskan tangannya dari perut Agas yang tengah dia gelitik lalu menjaga jaraknya Agas sedikit, karna tatapan cowok yang menggunakan topeng tersebut sangat tajam kearahnya seperti dia sedang ketahuan selingkuh saja.

__ADS_1


Cowok bertopeng tersebut langsung melewati Mentari dan juga Agas. Mentari langsung membeku saat cowok itu melewatinya sehingga wangi parfumnya dapat Mentari cium dengan jalas.


Wangi mint? Ini kan wangi parfum kesukaan Alvaro.


Mentari menatap punggung cowok tersebut, dia ingin mengatakan jika dia Alvaro namun dia kembali berpikir jika bukan hanya Alvaro saja yang mengunakan parfum wangi mint.


"Udah yuk, kita ketempat tadi," ajak Mentari menarik tangan Agas, karna Tamara dan Dado sudah menunggunya


Agas sangat suka jika Mentari melakukan seperti ini kepadanya, memegang tangannya membuat Agas sudah bahagia.


Gue yakin, gue bakalan bisa milikin lo Tar.


Agas dan Mentari langsung bergabung dengan Dado dan juga Tamara.


"Lo berdua jangan kemana-mana, bentar lagi acara dansa bakalan dimulai," kata Tamara kepada Mentari dan juga Agas agar mereka berdua tidak hilang lagi.


"Oke, sip," kata Mentari dan dibalas acungan jempol oleh Tamara.


"Gue dansa sama siapa yah?" kata Dado cemberut membuat Mentari tertawa kecil.


"Siapa juga yang mau sama Mentari. Mentari kan udah punya pawang jadi nggak bisa diganggu gugat," kata Dado membuat Mentari hanya tersenyum simpul saja.


"Lo dansa sama Tamara aja," kata Mentari santai.


"Now!" kata Tamara membuat Mentari tersentak kaget dengan suara Tamara.


"Terus, lo mau sama siapa?" tanya Agas sembari menaikkan alisnya sebelah membuatnya semakin tampan.


"Itu," tunjuk Tamara kepada cowok yang menggunakan topeng duduk seorang diri menikmati minumannya.


Mentari juga melirik kearah cowok tersebut yang duduk tidak terlalu jauh dari tempatnya, cowok yang sempat Mentari pikir jika dia adalah Alvaro.


Mentari melihat mata cowok itu, dia bisa melihat jika cowok itu mempunyai banyak masalah terlihat dari matanya yang terlalu banyak memikirkan sesuatu. Mentari bukan peramal, namun siapapun yang melihat cowok itu akan berpikir sama kepada Mentari.

__ADS_1


"Mimpi aja terus," kata Dado kepada Tamara.


"Lo lihat aja, gue bakalan dansa sama dia dan...."Tamara menggantung perkataannya sehingga membuat kedua sahabatnya dan juga Agas penasaran dengan kelanjutan perkataan gadis tomboi ini.


"Dan apa?" tanya mereka bertiga hampir bersamaan, bahkan Agas juga ikut-ikutan karna rasa penasarannya.


Tamara melirik ketiga manusia yang duduk bersamanya sembari tersenyum penuh arti. "Gue bakalan buka topengnya, dan lihat wajah dia seperti apa," lanjutnya membuat Dado memutar bola matanya malas.


Sementara Agas dan Mentari hanya tertawa kecil menanggapi perkataan Tamara yang ingin membuka topeng cowok tersebut saat berdansa nantinya.


"Lo segitu sukanya yah sama dia?" tanya Mentari melirik kearah cowok tersebut.


"Bukan suka lagi, tapi terobsesi," cibir Dado membuat Tamara tertawa kecil, karna apa yang dikatakan oleh Dado memanglah benar.


"Gue harap, suatu saat gue bisa milikin dia. Lo tau nggak, Tar. Semenjak gue patah hati gue nggak menyukai cowok lagi, sampai gue dipertemukan dengan dia buat gue rasain jatuh cinta lagi. Meski gue cuman bisa lihat dia melalui perlombaan ini tapi gue bahagia. Gue yakin, suatu saat nanti gue bakalan bisa lihat wajah dia seperti apa," kata Tamara sembari tersenyum membuat Dado bergedik ngeri."Dan waktu yang tepat lihat wajahnya saat acara dansa nanti," lanjutnya.


"Jangan terlalu berlebih-lebihan, gimana kalau dia udah punya pacar? Lo mau rebut dia dari pacarnya?" kata Dado.


"Susah amat, gue tungguin dia putuslah," kata Tamara santai.


Sedangkan Agas tengah asik makan cake sedangkan Mentari sibuk memperhatikan cowok yang menggunakan topeng yang dia kira Alvaro, karna wangi parfum cowok itu wangi mint.


Deg


Jantung Mentari berdetak kencang saat cowok itu juga melihat kearahnya, dia menjadi ketahuan jika sedari tadi dia memperhatikannya.


Sementara cowok itu tersenyum tipis, sangat tipis sehingga tidak ada yang mengetahui jika cowok itu tersenyum karna seperti sedang tidak senyum.


Cowok itu kembali melihat kedepan sembari meminum-minuman dihadapannya, dia hanya sendiri duduk karna dia tidak ingin duduk ramai-ramai seperti yang lain yang sedang menunggu acara dansa yang akan berlangsung.


Jangan salah, acara dansa kali ini akan mendapatkan hadiah bagi yang romantis kepada lawannya.


"Lo kenapa?" tanya Agas karna melihat wajah Mentari seperti sedang ketahuan memakan makanan enak.

__ADS_1


"Gue nggak apa-apa," kata Mentari membuat Agas mengangguk kecil.


"Lengket mulu, entar baper," kata Tamara sehingga Mentari menjaga jaraknya dengan Agas karna tatapan cowok itu yang sangat mengerikan bagi Mentari.


__ADS_2