
Malam haripun tiba, Alvaro mengambil jaket hitamnya, lalu memasang jaket kesayanganya itu di tubuhnya yang indah.
Alvaro mengambil kunci motor di atas nakas. Baru membuka pintu, wajah Tara langsung menyambut dirinya.
''Tuan Al mau kemana?''tanya Tara.
Alvaro tidak menjawab pertanyaan Tara, dia langsung melewati Tara. Mengabaikan rentetan pertanyaan yang di keluarkan oleh Tara.
''Saya akan menelfon pak Frans, jika tuan Alvaro keluar tanpa tujuan,'' ancam Tara.
Dia mengikuti Alvaro dari dalam hingga di parkiran, karna cowok itu tidak menjawab pertanyaan darinya.
Alvaro tidak mendengar ancaman dari Tara, dia tetap memakai helm fullfecnya mengeluarkan motor sport hitam miliknya dari garasi.
Brum…Brum
Alvaro langsung melajukan motornya keluar dari mansion mewah.
''Tuan Al!'' teriak Tara.
Wanita berusia 50 tahun itu menatap motor sport Alvaro yang sudah menghilang.
Tara menekan nomor Frans, setelah Telfon itu tersambung Tara langsung mengaduh kepada Frans jika Alvaro pergi begitu saja tanpa memberitahukan dia mau kemana.
Motor sport hitam milik Alvaro singgah di jalan trotoar. Dia melapskan helm fullfecnya sehingga wajahnya yang tampan nyaris sempurna terlihat.
Pejalan kaki banyak yang memuji ketampanan Alvaro. Sementara Alvaro hanya cuek saja karna dia memikirkan banyak hal.
Mata tajamnya tidak sengaja melihat sosok gadis sedang berjalan seraya memakan sesuatu.
Alvaro tentu saja tidak asing dengan gadis berambut sebahu itu.
Gadis itu seperti kepedisan memakan sesuatu dari kantongan plastiknya.
Langkah kakinya semakin dekat dengan tempat Alvaro singgah, membuat Alvaro masih menatap gadis itu.
Langkah kaki gadis itu langsung terhenti saat melihat wajah tampan di pinggir jalan trotoar.
''Al...'' gumam Mentari seraya mengucek matanya. Apakah dia tidak salah lihat, melihat sosok tampan berada di pinggir jalan trotoar.
''Lo ngapain Disini?'' tanya Mentari kepada Alvaro yang masih setia duduk diatas motor sport hitam miliknya.
Alvaro tidak menjawab pertanyaan dari Mentari, cowok datar berwajah dingin itu mengambil uang di dalam saku jaketnya.
Mentari masih dengan wajah kepedisan kembali bertanya. ''Al, lo ngapain di sini?''
''Ini bukan sekolah buat lo bertanya!'' dingin Alvaro membuat Mentari tersentak kaget.
Perkataan dingin cowok di hadapnya membuatnya ciut. Apa yang di katakan Alvaro memang benar membuat Mentari megerutuki dirinya sendiri karna bertanya sama orang yang salah.
__ADS_1
Alvaro mengambil tangan Mentari membuat Mentari melotokan matanya, serta jantungnya berdetak bertalu-talu atas tindakan Alvaro saat ini.
''Lo—mau ngapain,'' ucapannya sudah terbata-bata.
Jujur saja, tindakan Alvaro kali ini membuatnya bingung.
Hal ini tidak pernah di lakukan Alvaro kepada orang lain, namun dia melakukan hal ini pada Mentari.
Alvaro dan Mentari saling berpandangan dengan tangan Mentari masih di pegang oleh Alvaro.
Mata tajam Alvaro mampu menusuk hatinya, ''bawain besok gue coffe macchiato di sekolah.'' Dingin Alvaro memberikan uang di telapak tangan Mentari.
Alvaro memakai kembali helm fullfecnya, semwntara Mentari belum bergeming dari tempatnya berusaha mencernah apa yang terjadi barusan.
Brum...
Suara motor Alvaro yang siap jalan membuat Mentari tersadar, dia melirik uang dua ratus di genggamnya.
''Al, nggak mungkin gue bawaain coffe macchiato ke sekolah pagi-pagi. Kedai mamah buka jam 9!'' jelas Mentari dengan mengeraskan suaranya takut jika Alvaro tidak mendengarnya karma cowok itu sudah membunyikan mesin motornya yang sangat ribut.
''Urusan lo!'' Alvaro langsung melajukan motornya meninggalkan Mentari.
''ALVARO!!!'' teriak Mentari karna motor hitam milik Alvaro sudah pergi jauh.
Gadis itu menghentakkan kakinya.
Dari kaca spion motor, Alvaro tersenyum tipis melihat Mentari meneriaki dirinya.
Alvaro langsung rem mendadak karna tiba-tiba pengendara motor menyalip dirinya dan berhenti di hadapnya.
Alvaro membuka helmnya, dia turun dari motornya. Andai saja dia tidak mahir dalam mengendarai motor sudah pasti orang di hadapnya sudah tertabrak.
''Punya otak nggak sih lo bawa motor!'' dingin Alvaro kepada cowok yang belum juga melepaskan helmnya.
Motor yang dia kenakan sama sepeti motornya, modif motor mereka sama.
Yang jelasnya, orang di hadapanya bukan Agas, karna Alvaro sudah tau bagaiamana motor Agas.
Cowok itu hanya membuka kaca helmnya, sehingga matanya bertatapan dengan mata Alvaro.
Alvaro tetap tidak mengenalinya, perlu di tegaskan Alvaro tidak banyak mengenal orang-orang. Hanya orang lain saja yang mengenal dirinya.
Alvaro bisa melihat mata cowok di hadapanya tersenyum kearahnya. Kentara dari matanya yang menyipit.
''Lo Alvaro, kan?'' tanya cowok itu. Alvaro tidak bertanya mengapa cowok di hadapnya mengetuai namanya.
Cowok itu mengangguk seperti sedang memahami sesuatu. ''Lo diam, berarti nama lo beneran Alvaro,'' lanjutnya.
''Kenalin, nama gue Renal.'' Cowok atas nama Renal mengulurkan tanganya kearah Alvaro.
__ADS_1
Alvaro melihat tangan putih langsat itu mengulurkan tanganya. Dia kembali menatap cowok di hadapanya tanpa berniat untuk berkenalan.
''Gue di sini, di utus sama papah lo buat pantau lo,'' ucap Renal membuat Alvaro terdiam.
Ting...
Tidak lama itu, ponsel Alvaro bergetar menandakan adanya pesan masuk.
Al, papah utusin Renal buat awasin kamu selama papah di luar kota. Sekaligus dia yang akan menjadi temanmu
Alvaro menatap datar ponselnya setelah mendapatkan pesan dari Frans.
''Ayok pulang!'' ajak Renal membuat Alvaro menaikkan alisnya sebelah.
Renal sudah tau watak Alvaro dari Frans, tidak mudah mengambil hati Alvaro semudah dia mendapatkan cinta cewek.
''Kita pulang ke mansion,'' jelas Renal. ''Gue, kan, udah bilang, kalau gue it—''
Brum....
Renal menggantung perkataanya, karna suara motor Alvaro sudah melaju pergi meninggalkan dirinya.
''Woy, Al!!!'' teriak Renal karna Alvaro meninggalkan dirinya.
Cowok itu menyalakan mesin motornya menyusul Alvaro, mereka berdua seperti balapan mengejar satu sama lain.
Alvaro menatap kearah kaca spionnya, menatap cowok yang bernama Renal itu berusaha menyalip dirinya.
Alvaro akui, jika Renal sangat mahir dalam memegang pedal gas motor.
Cit.....
Renal langsung ngerem mendadak karna Alvaro memberhentikan motornya di depan pagar yang menjulang tinggi.
Pak Farhat membuka pagar, sehingga motor Alvaro masuk di susul oleh motor Renal.
‘’Tumben sekali nak Al, bawa temannya kesini,'' gumam Pak Farhat.
Ini pertama kalinya Alvaro membawa seseorang ke sini.
''Teman nak Alvaro?'' tanya pak Farhat kepada Renal.
''Iya pak,'' jawab Renal dengan semangat.
Alvaro sudah melepaskan helmnya, lalu turun dari motornya. ''Nak Alvaro, makan malam udah terhidang di meja makan,'' ucap pak Farhat yang tidak di gubris oleh Alvaro.
Renal membuka helmnya sehingga wajahnya yang tampan dan imut terlihat jelas.
Renal tersenyum sumringah kearah pak Farhat membuat pak Farhat juga tersenyum.
__ADS_1
''Buruan susul Alvaro, kalian makan malam di dalam.''