Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Berpandangan


__ADS_3

Alvaro dan Mentari masih saling berpandangan, tidak ada yang mengakhiri pandangan mereka berdua hingga suara deheman Tamara membuat Mentari langsung mengalihkan pandanganya.


“Ehemmm!” Tamara tentunya pura-pura batuk, Dado tentunya sangat mengerti dengan sahabatnya itu menbuatnya ingin mengeluarkan suara tawanya.


Agas mendongakkan kepalanya, karna tadinya dia fokus dengan ponselnya. “Tamara keselek lagi?” celetuk Agas membuat Dado tertawa kecil.


Rasanya, dekat dengan Agas adalah suatu hal yang sangat sulit. Jarang-jarang Agas ingin berteman, tapi mungkin karna mereka sudah menjadi teman Mentari sehingga Agas bebas saja.


“Keselek harapan,” canda Dado membuat Tamara langsung mencubit perut Dado membuat cowok yang mengenakan kacamata itu meringis dengan cubitan Tamara.


“Sakit, Ra!”


“Lu ngedesah bengek!” umpat Tamara kepada Dado membuat Agas tersenyum tipis sementara Mentari menggelengkan kepalanya.


“Tar,” panggil Agas sehingga Mentari langsung melihat kearah cowok itu.


“Kenapa?” Tanyanya.


“Gue keluar dulu, mau angkat Telfon,” kata Agas dan dibalas anggukan kepala oleh Mentari.


Agas langsung beranjak dari tempat duduknya lalu keluar dari kelas untuk mengangkat Telfon seseorang yang sedari tadi mengganggunya.


Tamara menyenggol lengan Mentari. “Ngapain sih lo tatap cowok kayak Alvaro. Seharusnya lo benci dia, karna dia lo selalu di repotkan dan kena amukan kepala sekolah,” hasut Tamara sembari melihat kearah Alvaro yang masih belum juga mengalihkan pandanganya.


Alvaro mengangkat alisnya sebelah saat melihat Tamara menatap dirinya dengan tatapan yang sangat sulit dia artikan.


Apa dia tau kalau gue cowok yang pake topeng itu?


Tamara terhanyut oleh tatapan Alvaro, melihat tatapan Alvaro membuat Tamara mengingat cowok yang mengenakan topeng emas di acara lukisan yang berdansa denganya.


Tatapan mata Alvaro membuat Tamara mengingat tatapan cowok yang mengenakan topeng saat mereka berdua berdansa.


Tatapan Alvaro sangat tidak asing jika Tamara memperhatikan tatapan mata Alvaro.


Nggak mungkin.


Alvaro langsung beranjak dari kursinya, dia tidak mau jika murid SMA bina Marta mengetahui dirinya, apa lagi jika Tamara yang sudah tau jika gadis itu menyukai dirinya versi topeng bukan versi Alvaro.


Tamara menggelengkan kepalanya. “Nggak mungkin,” menolognya membuat Mentari langsung menyeritkan alisnya dengan perkataan Tamara yang nampak samar namun jelas.


“Lo kenapa?” Tanya Mentari.

__ADS_1


“Gue nggak apa-apa,” jawabnya.


Tring….


Bel masuk telah berbunyi.


“Al, lo nggak usah keluar kelas, bel masuk udah bunyi,” ucap Mentari dengan tegas sehingga langkah kaki cowok itu terhenti, padahal dia sudah berada di ambang pintu.


Agas kembali ingin masuk kedalam kelas,lalu langkahnya terhenti saat melihat Alvaro tengah berdiri di depan pintu. Mereka berdua saling berpandangan membuat wajah dingin milik Alvaro dan wajah datar Agas saling bertemu.


Seakan-akan kedua karakter itu ingin saling menyerang satu sama lain. Mentari, Dado dan juga Tamara melihat kedua cowok itu saling berpandangan sehingga suara deheman kepala sekolah membuat keduanya tidak berpandangan kembali.


“Ehemmm.”


Agas dan Alvaro bersmaan mengalihkan pandanganya dari arah depan. “Ngapain kalian saling berpandangan? Apa kalian berdua Gay?”


Tamara dan Dado berusaha menahan tawanya saat kepala sekolah mengatakan jika mereka berdua adalah gay.


Teman sekelas Mentari yang ingin masuk kedalam kelas harus menunggu di luar karna melihat kepala sekolah berada di ambang pintu bersama dengan Agas dan juga Alvaro.


Agas dan Alvaro tanpa sopan santun langsung pergi dengan raut wajah khas mereka masing-masing.


Kepala sekolah membalikkan badanya, dan sudah melihat murid-muridnya masih berada di luar.


Kepala sekolah sekaligus wali kelas bagi kelas MIPA 1 dari kelas sepuluh sampai sekarang. Kepala sekolah itu memperbaiki kacamatanya lalu masuk kedalam kelas.


Kepala sekolah langsung duduk di tempat duduknya, sementara Tamara dan Dado kembali ke tempat duduknya. Tamara dan Dado duduk bersama di belakang kursi Alvaro.


Tamara memperhatikan punggung Alvaro yang sangat familiar, bahkan mata cowok itu sangat mirip dengan cowok yang dia temui.


Lama-lama memandang manik mata Alvaro membuat dia mengingat cowok bertopeng itu.


Dado melirik kearah Tamara yang memperhatikan punggung Alvaro.


“Ra,” panggil Dado karna Tamara begitu sibuk memperhatikan Alvaro.


“Hmm,” dehemnya tanpa mengalihkan pandangnya dari depan.


“Ngapain lo merhatiin, Al,” kata Dado dengan pelan takut jika Alvaro mendengar suaranya.


Tamara melirik Dado. “Dia mirip banget sama cowok yang gue suka,” kata Tamara dengan pelan.

__ADS_1


“Maksud lo cowok bertopeng itu?” terang Dado dan dibalas anggukan kepala oleh Tamara.


“Nggak mungkinlah, Ra,” ucapnya membuat Tamara memutar bola matanya malas kearah Dado.


“Bodoh amat.”


Kepala sekolah melihat sekeliling ruang kelas memperhatikan anak walinya, apakah ada yang bolos. Lalu matanya tertuju pada sosok Alvaro yang sedang mencorek kertasnya.


Kepala sekolah memperbaiki kacamatanya. “Alvaro,” panggil kepala sekolah sehingga pergerakan tangan Alvaro yang sedang mencoret kertas bukunya langsung terhenti.


Alvaro mendongakkan kepalanya, sehingga matanya dengan mata milik kepala sekolah itu bertemu.


“Jam pulang nanti, kamu ke ruangan saya,” kata kepala sekolah.


Alvaro tidak mengangguk mengiyakan tidak pula menolak perkataan kepala sekolah. Sementara Mentari yang sudah tau dengan perkataan kepala sekolah yang menyuruh Alvaro keruanganya.


Kepala sekolah lalu melirik Mentari, kepala sekolah itu tersenyum kearah Mentari membuat Mentari membalasnya dengan senyuman, sedetik kemudian senyum di wajahnya luntur.


“Mentari, pulang sekolah nanti kamu juga keruangan saya,” kata kepala sekolah lalu membuat Mentari menganguk.


Dia tidak tau, hal apa lagi yang ingin kepala sekolah sampaikan kepadanya. Andai saja, bukan karna biaya kuliah kedepan dia sudah lama berhenti menjadi ketua kelas.


Kepala berjanji padanya, jika dia akan diberikan beasiswa hingga dia kuliah nnti.


Dia bukan orang kaya.


Kepala sekolah menjelaskan materi sekitar satu jam. Bell pulang sekolah berbunyi sehingga murid-murid langsung memasukkan kembali bukunya kedalam tas untuk segera pulang.


Mereka semua menyalami kepala sekolah lalu keluar dari kelas. Di dalam kelas menyisahkan Alvaro dan juga Mantari karna kepala sekolah sudah kembali ke ruangannya.


“Al,” panggil Mentari.


Alvaro tidak menyahut, dia hanya menaikkan alisnya sebelah kearah Mentari.


“Jangan langsung pulang, keruangan kepala sekolah dulu,” kata Mentari yang hanya di dengarkan oleh Alvaro tanpa berniat membalas perkataan Mentari.


Mentari akui, jika Alvaro sangat dingin dan jarang sekali bicara, kalaupun dia bicara selalu saja perkataanya membuat orang menjadi diam seribu bahasa.


Alvaro lebih dulu meninggalkan kelas, lalu di susul oleh Mentari untuk segera keruangan kepala sekolah.


Saat Mentari berjalan menuju ruangan kepala sekolah tiba-tiba saja langkahnya terhenti melihat Agas sedang mengobrol dengan seseorang.

__ADS_1


Laura!


__ADS_2