Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Menyingkirkan secara halus


__ADS_3

"Oh iya, lo sendiri kesini?" tanya Tamara yang melihat Mentari hanya sendiri saja.


Mentari menggelengkan kepalanya. "Gue kesini sama Agas," jawab Mentari.


"Terus....Agas Nya mana?" tanya Tamara.


"Dia lagi diparkiran," jawab Mentari dan dibalas anggukan kepala oleh Tamara.


"Lo nggak masuk?" tanya Tamara.


"Gue tunggu Agas dulu."


"Oh yaudah kalau gitu, gue duluan yah," pamit Tamara dan dibalas anggukan kepala oleh Mentari.


Tamara langsung masuk kedalam hotel, salah satu hotel terbesar di Jakarta tempat diadakan acara tersebut.


"Woy Tam!"


Tamara langsung melihat keasal suara, cowok yang menggunakan kacamata tersebut melambaikan tangannya kearah Tamara.


Tamara langsung berjalan kearah asal suara tersebut.


"Ternyata lo masih tetap datang, yah," kata Dado setelah Tamara duduk disampingnya.


"Gue yakin, tujuan lo pasti tetap sama," kata Dado lagi memperbaiki kacamatanya yang sedikit melorot.


"Lo udah tau," jawab Tamara membuat Dado tersenyum simpul.


"Emang lo yakin kalau kali ini dia ikutan?" tanya Dado. "Lo belum kenal dia jadi lo nggak bisa tau apa dia ikut atau tidak," lanjut Dado membuat Tamara menatap tajam Dado.


"Gue yakin dia datang, apa lagi hadiahnya nggak main-main," kata Tamara yakin kepada Dado.


"Bagaimana kalau dia anak orang kaya? Lo tau 'kan kalau uang seratus juta nggak ada apa-apanya untuk orang kaya," balas balik Dado membuat Tamara menatapnya dengan tatapan datar.


"Lo lihat aja sendiri," terang Tamara mengeluarkan rokok didalam saku dresnya. Belum sempat Tamara membuka rokoknya dari bungkusan rokok suara Dado menghentikan pergerakan tangan Tamara.


"Ini tempat umum, banyak orang yang bakalan lihat lo ngerokok. Lo nggak tau hampir seluruh murid-murid SMA Bina Marta ada disini. Apa lagi ada kepala sekolah," kata Dado membuat pergerakan tangan Tamara terhenti.


Dia melirik disekitarnya, benar saja hampir seluruh ruangan yang mengisi kebanyakan siswa SMA Bina Marta. Tamara mengurungkan niatnya lalu memasukkan kembali rokoknya.


"Jangan buat gue kepikiran, lo 'kan tau kalau gue buntu cuman rokok yang bisa nenangin gue," sungut Tamara membuat Dado mengedikkan bahunya.

__ADS_1


"Rokok bahaya buat lo, apa lagi lo itu perempuan," kata Dado membuat Tamara memutar bola matanya malas.


"Lo aja yang kampungan. Cowok kok nggak ngerokok, situ cowok apa banci," ejek Tamara yang hanya diabaikan oleh Dado.


Mentari masuk kedalam beriringan dengan Agas yang menggunakan setelan tuxedo hitam. Sementara cowok yang duduk paling pojok memperhatikan Mentari dan Agas berjalan.


Agas menggeser kursi untuk di duduki oleh Mentari.


"Makasih," kata Mentari.


"Sama-sama."


"Lo yakin cowok yang lalu lo temui nggak pake topeng lagi?" tanya Dado membuat Tamara melirik Dado sejenak.


"Gue pastiin dia bakalan buka topeng saat gue ajak dia foto bareng," kata Tamara.


"Emangnya lo siapa?"


"Maksud lo?" nyolot Tamara.


"Emangnya lo siapanya sehingga dia mau buka topeng hanya demi lo." Perkataan Dado sukses membuat Tamara jadi sadar diri juga.


"Kamu suka sama gadis itu?" tanya Dila yang sedang duduk paling pojok bersama dengan Alvaro sehingga tidak bisa diperhatikan oleh orang-orang yang lewat.


"Kamu yakin? Tapi, kalau saya lihat kamu sedari tadi memperhatikan dia," kata Dila lagi melihat Mentari dan Agas sedang berbincang-bincang dengan sekali-kali tertawa.


Alvaro melirik Dila yang tengah memasang masker cantiknya.


"Dia ketua kelas, dikelas Alvaro." Entahlah, mengapa Alvaro langsung mengucapakan kata tersebut. Padahal tidak penting sama sekali.


Dila mengangguk. "Jadi kamu dekat dong sama dia?"


Alvaro hanya mengangguk lalu kemudian menggelengkan kepalanya, dia merasa bodoh mengangguk, padahal dia tidak sedekat itu kepada Mentari.


Dia hanya berdekatan jika gadis itu mencarinya karena melakukan sesuatu hal disekolah.


Alvaro melirik jam dipergelangan tangannya, sepuluh menit lagi lomba melukis akan segera dimulai.


"Selamat malam semuanya!" pembawa acara telah menaiki panggung acara malam ini.


Banyak tamu yang datang, tentunya saja orang itu semua orang-orang penting.

__ADS_1


"Diberitahukan kepada seluruh peserta malam ini untuk segera menuju kebelakang panggung untuk persiapan perlombaan!" pembawa acara tersebut memberikan instruksi kepada seluruh peserta yang mengikuti acara malam ini, khususnya yang ikut perlombaan malam ini.


"Semangat!" Dila menaikkan kepalan tangannya tanda semangat untuk Alvaro malam ini.


Meski usianya sudah tidak mudah lagi, namun jiwa milik Dila masih mudah.


Alvaro mengangguk kecil lalu memakai topeng berwana emasnya.


Alvaro masuk kedalam ruangan dimana para peserta menunggu. Dia menggunakan topeng tentu saja menjadi pusat perhatian orang-orang didalam ruangan.


Khususnya Bulan, yang menatap cowok yang menggunakan topeng berwana keemasan itu dengan lekat.


Banyak peserta berbisik-bisik, tentu saja mereka tau siapa cowok yang menggunakan topeng berwana keemasan itu, namun mereka tidak pernah tau bagaimana lekuk wajahnya.


Mereka sudah tau, jika cowok yang menggunakan topeng itu pernah ikut lomba juga, kali ini dia kembali menggunakan topeng kembali sehingga banyak yang penasaran melihat wajahnya.


"Dia lagi!" kata Vita menatap Alvaro dengan takjub.


Bulan mengerutkan keningnya, itu berarti cowok yang menggunakan topeng itu bukan pertama kalinya ikut? Bulan tidak tau banyak akan hal ini, apa lagi dia orang pendatang disini dan pindah di SMA Bina Marta.


"Dia siapa?" tanya Bulan kepada Vita. Karna sepertinya gadis itu mengetahui segalanya.


Vita melirik Bulan. "Dia pernah ikutan lomba juga, dia masih tetap sama pakai topeng. Padahal kita penasaran banget lihat wajah dia," kata Vita membuat Bulan mengangguk kecil dengan matanya melihat kearah Alvaro. Dia merasa tidak asing dengan tekstur tubuh cowok itu, namun dia juga lupa pernah melihatnya dimana.


"Waktu itu dia ambil juara satu melukis."


"Wow," tentu saja Bulan langsung terkejut dengan pernyataan yang diberikan oleh Vita saat ini.


"Kalau juara dua siapa?" tanya Vita.


"Steven."


"Yang anak IPS itu?" tanya Bulan memastikan.


"Iyaps," jawab Vita.


"Kalau juara tiga?" tanya Bulan lagi sehingga Vita meliriknya.


"Laura," jawab Vita membuat Bulan manggut-manggut. Ternyata gadis bar-bar itu mempunyai bakat yang wow, anak IPS pandai melukis sesuatu yang sangat wow.


"Gue yakin, salah satu diantara mereka akan tersingkirkan, antara Steven, Laura dan.....Cowok yang pake topeng itu," kata Vita melihat kearah Alvaro yang tengah duduk sendirian.

__ADS_1


Bulan tertawa kecil." Nggak bisa lah, ikut lomba aja aku udah senang," kata Bulan.


"Tapi yang buat bangga itu kalau lo berhasil raih kedudukan diantara mereka," kata Vita dengan menyungkirkan senyum tipisnya sembari mengingat jika sahabat barunya itu sangat pandai melukis. Dan dia yakin jika Bulan bisa menyingkirkan secara halus dianatara mereka bertiga, termasuk cowok yang menggunakan topeng tersebut.


__ADS_2