Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Cowok yang menggunakan topeng


__ADS_3

Laura menatap kearah Agas yang tengah menatapnya pula.


"Apakah dia orangnya?" tanya host tersebut kepada Laura dengan menunjuk kearah Agas yang sedang menggunakan setelan tuxedo.


Laura mengangguk mengiyakan ucapan host tersebut sehingga terjadilah tepuk tangan meriah malam ini, atas jawaban yang diberikan oleh Laura.


"Dia orang spesial dalam hidup saya," lanjut Laura disertai dengan senyuman tipisnya kearah Agas.


Mentari melirik Agas, yang tengah menatap Laura dengan tatapan tajamnya.


"Gas," panggil Mentari karna melihat Agas seperti sedang ingin menerkam seseorang saja.


Agas melirik Mentari lalu tersenyum, Mentari tau, jika senyuman yang diberikan Agas senyuman terpaksa bukan senyuman seperti biasanya.


"Gue nggak punya hubungan dengan, Laura," kata Agas membuat Mentari mengangguk kecil kearah Agas. Tanda dia percaya dengan perkataan cowok disampingnya ini, meski dia sudah tau kenyataannya.


"Gue percaya," balas Mentari kepada Agas.


Laura kembali duduk ditempatnya, para juri tengah berdiri untuk memberikan penilaian kepada lukisan Laura.


Host tersebut berjalan kearah cowok yang menggunakan topeng berwana keemasan yang hanya diam saja, tidak seperti yang lain tengah berbincang-bincang.


"Bisakah kamu memperkenalkan dirimu kepada penonton?" kata host tersebut memberikan mice kepada cowok yang menggunakan topeng tersebut.


Hening!


Cowok yang menggunakan topeng tersebut belum mengambil mice yang diberikan oleh host cantik dihadapannya, bahkan host tersebut masih setia memegang mice yang tak kunjung diambil oleh cowok didepannya.


"Saya tidak perlu memperkenalkan diri saya," kata cowok menggunakan topeng tersebut dengan pelan, yang hanya didengarkan oleh host cantik tersebut.


Host tersebut jadi kikuk dengan apa yang ucapakan oleh cowok yang menggunakan topeng tersebut.


Ini yang kesekian kalinya.


Host tersebut hanya membatin, tentu saja dia kenal dengan cowok yang menggunakan topeng tersebut yang sudah sering mengikuti perlombaan melukis namun dia belum pernah menampakkan wajahnya sama sekali.


Kedua pria berbadan kekar naik keatas panggung membawa lukisan milik cowok yang menggunakan topeng berwarna keemasan tersebut.

__ADS_1


"Wah, rupanya cowok yang menggunakan topeng ini melukis sebuah sekolah. Tapi jika dilihat-lihat sekolahnya tidak asing yah," kata host tersebut membuat para penonton dibawah mengangguk setuju.


Bahkan murid SMA Bina Marta langsung mengatakan jika yang dilukis oleh cowok yang menggunakan topeng tersebut adalah sekolah SMA Bina Marta.


"Jangan-jangan dia sekolah di SMA Bina Marta," kata salah satu murid SMA Bina Marta yang memperhatikan lukisan unik milik cowok bertopeng tersebut.


"Ini udah jelas sekolah Kita," sahut salah satu dari mereka.


"Tapi dia siapa?"


Banyak yang mempertanyakan siapa kah cowok yang menggunakan topeng tersebut.


Sementara Tamara sudah sedari tadi mengengam tangan Dado saat melihat lukisan cowok yang menggunakan topeng tersebut, sedari tadi dia menunggu lukisan milik cowok yang menggunakan topeng tersebut.


"Do, dia satu sekolah sama kita," kata Tamara dengan pelan dengan matanya fokus kedepan melihat lukisan milik cowok yang menggunakan topeng tersebut.


Tamara tidak menyangka jika cowok yang sedari dulu yang membuatnya penasaran satu sekolah dengannya, dia pikir cowok misterius tersebut bedah sekolah dengannya, ternyata dia salah.


Dado melirik Tamara yang tengah fokus melihat kearah depan. "Belum tentu, Tam," kata Dado membuat Tamara langsung melirik kearah Dado.


"Dia lukis SMA Bina Marta, belum tentu kalau dia satu sekolah dengan kita dia SMA Bina Marta," jelas Dado menekan setiap perkataannya kepada Tamara.


"Dado, mana mungkin dia lukis SMA Bina Marta selengkap kayak gitu kalau dia bukan sekolah disana," teter Tamara kepada Dado.


"Terserah lo aja," kata Dado memperbaiki kacamatanya.


Sementara Bulan yang memperhatikan lukisan cowok yang bertopeng tersebut memperhatikan lekuk tubuh cowok tersebut yang sangat tidak asing untuk Bulan, hanya ada satu nama dalam pikirannya melihat cowok yang menggunakan topeng tersebut.


"Apakah kamu sekolah di SMA Bina Marta, sehingga kamu melukis dengan tema tersebut?" tanya host tersebut, meski dia tau kalau pertanyaannya tersebut hanya akan diabaikan oleh cowok bertopeng tersebut.


Cowok tersebut tanpa berniat menjawab pertanyaan tadi, membuat host tersebut harus pandai-pandai bermain kata jika bertemu dengan modelan seperti ini.


"Baiklah, sepertinya dia sedang malas untuk berbincang-bincang," kata host tersebut dengan tawa kecil agar bisa menghibur para penonton malam ini.


Mewancarai cowok yang menggunakan topeng tersebut membuatnya harus ekstra sabar.


Sementara Mentari sedari tadi memperhatikan lukisan bertema SMA Bina Marta, suasana kelas MIPA yang nampak ramai bisa sangat Mentari tebak jika kelas itu adalah kelas MIPA.

__ADS_1


Frans sedari tadi memperhatikan cowok yang menggunakan topeng tersebut, membuatnya bertanya-tanya.


Frans mengeluarkan handphonenya lalu menekan nomor telfon yang dimansion.


"Apa Alvaro ada di Mansion?" tanya Frans dengan matanya masih tertuju kepada cowok yang menggunakan topeng tersebut.


"Tuan Alvaro sedari tadi tidak pulang, Tuan." Setelah mendapatkan jawaban dari pelayan mansion, Frans mematikan handphonenya.


"Mari kita berikan penilaian," ajak Akbar yang melihat Frans belum juga jalan untuk menilai lukisan milik cowok yang menggunakan topeng tersebut.


"Baiklah," balas Frans disertai dengan senyuman kepada Akbar, meski hatinya menjerit untuk segera pulang untuk segera ke Mansion.


Frans melewati cowok yang menggunakan topeng tersebut, matanya menelusuri lekuk tubuh dan mata milik cowok tersebut.


Hingga matanya dengan mata cowok tersebut saling bertatapan membuat tangan milik Frans langsung terkepal. Tentu saja dia kenal dengan sorot mata tersebut.


Frans langsung berjalan melewatinya saat dia sudah tau, siapa selama ini cowok yang menggunakan topeng tersebut.


Sementara Dila yang sedari tadi memperhatikan semuanya mengigit bibirnya, dia tau apa yang akan terjadi nantinya antara anak dan juga orang tua.


Dila harap, Frans tidak mengetahui siapa cowok dibalik topeng tersebut meskipun kemungkinannya hanya kecil.


"Lo kenal sama cowok yang pake topeng itu?" tanya Agas membuat Mentari meliriknya.


Mentari menggelengkan kepalanya. "Nggak," jawab Mentari membuat Agas manggut-manggut tanda mengerti.


"Gue yakin, dia satu sekolah sama kita," sahut Tamara dari belakang, karna kursi milik Mentari dan Tamara berdekatan membuat Mentari menengok kebelakang.


"Kenapa lo bisa seyakin itu?" bukan Mentari yang bertanya, melainkan Agas.


"Tau nih Tamara, sotoy banget," timpal Dado.


"Diam lo, atau gue buat kacamata lo pecah," ancam Tamara kepada Dado sehingga Dado langsung menjaga jaraknya dengan Tamara.


Dia takut jika cewek tomboi itu membuktikan perkataannya, apa lagi kacamata sangat berharga untuk Dado.


"Gini nih yah, mana bisa anak luar bisa lukis SMA Bina Marta seincih itu," kata Tamara menunjuk kearah lukisan milik cowok yang menggunakan topeng tersebut. "Seluk-beluk kelasnya aja dia tau, itu berarti dia anak SMA Bina Marta," sambungnya dengan yakin.

__ADS_1


__ADS_2