Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Salah Paham


__ADS_3

Mentari menatap kesal kearah Agas, ini yang kedua kalinya Agas mengagetkanya.


“Suka banget sih ngagetin!” Mentari kesal kepada Agas, karna cowok itu membuatnya kembali kaget.


“Lo aja yang suka bengong,” balas Agas sembari melihat kearah Alvaro yang sedang tidur.


Agas menyungkirkan senyuman tipisnya. “Lo lagi merhatiin dia?” Tanya Agas lebih tepatnya lagi sebuah pernyataan untuk Mentari.


Mentari melirik kearah pandang Agas. “Gue cuman kasihan lihat dia,” kata Mentari dengan santai.


“Kasihan?” beo Agas dan dibalas anggukan kepala oleh Mentari.


“Gue lihat di sudut bibirnya tadi lagi memar, gue yakin kalau Alvaro habis berantem lagi,” kata Mentari dibalas anggukan kecil oleh Agas, meski Agas tidak melihat luka di sudut bibir Alvaro dari sini.


“Nggak ke kantin?” Tanya Agas dan dibalas gelengan kepala oleh Mentari.


“Lo duluan aja, gue di sini aja,” kata Mentari.


“Lo nggak lapar?”


“Gue lapar, tapi gue mager buat ke kantin,” katanya sembari tersenyum tipis membuat Agas menggelengkan kepalanya.


“Lo tunggu gue di sini, biar gue ke kantin beli makanan,” ujar Agas.


“Tap-“


“Nggak ada tapi-tapian, lu tunggu gue di sini,” lepas itu Agas melenggang pergi meninggalkan kelas MIPA 1.


Mentari yang melihat punggung Agas yang sudah pergi tersenyum tipis, kebaikan Agas selalu membuatnya bersyukur dengan kebaikan cowok itu.


Mentari bersyukur bisa mengenal cowok sebaik Agas di dunia ini. Mentari kembali melirik Alvaro yang masih sama dengan posisinya tanya tadi.


Tiba-tiba saja Alvaro membuka matanya kembali, bulu matanya yang lentik, sorot matanya yang tajam dan bola matanya yang sangat indah.


Tatapa mata Alvaro membuat siapapun tidak akan berkutik jika berhadapan dengan Alvaro. Apa lagi jika Alvaro menyamakannya dengan wajahnya yang dingin membuatnya, dalam waktu bersmaan antara menyeramkan dan tampan.


Alvaro beranjak dari kursinya, dia menyampirkan tasnya di punggungnya lalu melenggang pergi meninggalkan kelas MIPA dan tinggal hanya Mentari saja di dalam kelas seorang diri.


Mentari menunggu kedatangan Agas, tidak memerlukan waktu lama, Agas datang membawa kresek berisi snack untuk Mentari.

__ADS_1


Agas masuk kedalam kelas MIPA lalu menutup pintu kelas.


“Alvaro mana?” Tanya Agas meletakkan snack dan minumanya yang dia beli diatas meja.


Saat sampai di kelas, dia sudah tidak melihat Alvaro padahal saat dia meninggalkan kelas dia masih melihat Alvaro di dalam kelas tertidur.


Tamara dan Dado berjalan kearah kelas dengan menenteng kantong kresek berisi somay dan juga sosis bakar.


Dado dan Tamara saling berpandangan di depan pintu kelas karna pintu kelas tertutup.


“Baru-baru aja keluar,” jawab Mentari seraya mengambil botol minuman yang di beli Agas.


Mentari kesusahan membuka botol minuman tersebut, mungkin karna tenaganya yang kurang atau karna dia masih ingat kejadian malam itu, sehingga dia selemah itu membuka penutup botol minuman.


Agas terkekeh melihat Mentari kesusahan. “Sini gue yang buka,” kata Agas memberikan telapak tanganya kepada Mentari untuk menyerahkan botol minumanya.


Dado dan Tamara yang saling berpandangan langsung melototkan matanya saat mendengar suara dari dalam suara Agas, dan Agas mengatakan sini dia yang bukakan membuat Tamara dan Dado meneguk salivanya susah payah.


“Nggak usah, gue bisa buka sendiri,” kata Mentari sembari tertawa kecil membuat Tamara dan Dado terdiam dan meneguk salivanya sangat pahit.


Tamara dan Dado tidak sadar, jika ada sosok cowok dingin tengah berdiri di belakang mereka berdua.


“Udah terbuka.”


Pintu terbuka membuat Agas dan Mentari langsung melihat kearah ambang pintu, rupanya yang membuka pintu adalah sosok Alvaro.


Cowok dingin itu langsung masuk kedalam kelas, sementara Dado dan Tamara masih mematung di tempatnya sembari menatapi Mentari.


Tatapan Dado dan Tamara langsung terarah pada tangan Mentari, yang di mana di tangan gadis itu ada sebotol minuman yang tutupnya sudah terbuka.


Dado dan Tamara sama-sama menghembuskan nafas legah, ternyata pikiran mereka berdua yang kotor mengenai percakapan Mentari dan Agas tadi.


“Ternyata buka tutup botol,” gumam mereka berdua hampir bersmaan yang hanya di dengarkan oleh dirinya sendiri.


“Kalian ngapain masih di situ?” Tanya Mentari kepada Tamara dan Dado yang masih berdiri di ambang pintu seperti patung.


Dado tersenyum kikuk, sementara Tamara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


Mereka berdua langsung masuk kedalam kelas membawa kantong kresek berisi somay dan sosis bakar.

__ADS_1


“Kalian nggak makan?” Tanya Mentari melihat kedua teman barunya itu menggeser kursi di dekatnya.


Mereka berdua langsung menggelengkan kepalanya. “Kita mau makan di kelas, nggak enak tau kita makan di kantin sementara lo di kelas,” songong Dado membuat Mentari tersenyum manis.


“Nggak usah mikirin gue,” balas Mentari lalu meneguk minumanya.


Agas mengambil kursi paling pojok belakang untuk dia bawa di dekat Mentari untuk duduk bersama dengan ketiganya.


“Jelas kita mikirin lo, Tar. Lo kan udah bagian dari pertemanan kita. Iya nggak, Do?” Tanya Tamara meminta persetujuan dari Dado.


“Bener banget, Ra.” terang Dado mengunyah somaynya dengan begitu lahap.


“Makasih,” kata Mentari tersenyum tulus kepada Tamara dan juga Dado.


“Sama-sama.”


Agas mengambil snack Taro di dalam kantong kresek. “Tar, lo suka kan makan snack taro,” kata Agas dan dibalas anggukan kepala oleh Mentari.


Sementara Tamara sedang menikmati sosisnya .


“Yaudah, gue bukain,” kata Agas santai lalu membuka snack taro tersebut.


Uhuk….Uhuk


Tamara langsung tersedak sosisnya karna perkataan Agas yang ingin membuka snack taro untuk Mentari. Sementara pikirannya yang kotor tadi berawal dari kata buka.


“Minum dulu, Ra,” kata Dado khawatir melihat Tamara tersedak sosisnya. Tamara langsung meminum minuman yang diberikan Dado.


Sebagai teman yang sudah lama berteman dengan Tamara, Dado tau apa yang di pikirkan oleh temanya itu.


“Hati-hati makanya, Ra,” kata Mentari mengusap punggung Tamara sementara Agas melanjutkan kegiatannya membuka snack Taro untuk Mentari.


Alvaro memperhatikan keempatnya nampak sibuk dengan makananya, sementara dia hanya membeli sebotol minuman Fanta tanpa makanan lainya.


Dia tidak terlalu suka makanan yang ada di kantin sekolah, dia hanya biasa membeli minuman saja tanpa makanan.


Jarang-jarang dia makan di kantin, biasanya cowok itu hanya nongkrong di kantin sembari merokok.


Mentari mengunyah somay yang di belikan Tamara untuknya, lalu tanpa sengaja tatapannya dengan tatapan Alvaro bertemu membuat Mentari sangat susah mengunyah somaynya. Bagaiamana tidak, jika Alvaro juga tengah memperhatikan dirinya dan juga temanya.

__ADS_1


Tumben sekali Alvaro berada di kelas jam istirahat, biasanya cowok itu ke roftop sekolah untuk merokok atau di kantin.


__ADS_2