Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Agas dan Steven


__ADS_3

“APA LAGI ITU!!!”


Suara kepala sekolah langsung memenuhi ruangannya sendiri saat mendengar suara gaduh dari luar.


Dia yakin, ada murid yang bekelahi diluar.


“ASTAGAH!!!”


“AGAS, STEVEN!!!!!”


Kepala sekolah langsung berteriak memanggil nama Steven dan Agas, dia yakin tensinya saat ini sudah naik entah berapa melihat kelakuan muridnya.


“BERHENTI!!!”


BUGH


BUGH


BUGH


Agas dan Steven memberikan pukulan satu sama lain didepan pintu masuk ruangan kepala sekolah, dengan posisi kepala sekolah berada dihadapnya.


Mereka berdua mendadak tuli, karna tidak mendengar perkataan teriakan dari kepala sekolah yang menyuruh mereka berhenti.


“SIAPA SURUH LO NYAKITIN TANGAN, MENTARI GUE!!!”


BUGH


Agas memberikan kembali bogeman pada Steven.


“GUE NGGAK SENGAJA BUAT TANGAN MENTARI MEMAR!!!!” teriak Steven.


BUGH


Steven tidak tinggal diam, dia juga membalas pukulan Agas.


“LO NGGAK LIHAT WAJAH DIA KESAKITAN KARNA ULAH LO!!!!”


“GUE NGGAK SENGAJA!!!!”


BUGH


BUGH

__ADS_1


“STOP!!!”


“AGAS, STEVEN BERHENTI!!!!”


Kepala sekolah itu berteriak dengan kencang, namun tidak di gubris oleh kedua murid berandalnya itu.


Kepala sekolah itu menjadi gelagapan, tidak ada orang Disini kecuali dirinya yang akan melerai pertengkaran antara Steven dan Agas.


Kepalnya tiba-tiba pusing, Agas yang dia pikir sudah tobat tidak akan melakukan perkelahian lagi, kini dia kembali beradu mekanik dengan Steven, musuhnya sejak kelas 10, padahal beberapa hari yang lalu kepala sekolah melihat pertengkaran antara Agas dan Alvaro, Kini lain lagi lawan Agas.


Agas dan Steven masih memberikan pukulan satu sama lain. Kepala sekolah mencoba memberanikan diri untuk melerai muridnya sehingga dia tersandung.


Blughhh.


“OH ASTAGAH, PANTAT KU!!!”


Agas yang mencengkeram baju Steven seraya ingin memberikan bogemam pada Steven langsung terhenti, saat mendengar suara kesakitan dari kepala sekolah yang berteriak.


Agas Dan Steven bersamaan melirik kesal suara.


“DASAR MURID, SENGKLEK!!!”


Marah kepala sekolah seraya mencari kacamatanya yang entah terdampar dimana saat dia jatuh.


“Tunggu aja, lo!” raung Steven lalu pergi meninggalkan Agas dengan wajah yang memar.


Sama dengan Agas, wajahnya juga memar. Pertarungan antara Agas dan Steven seimbang. Mereka memberikan pukulan satu sama lain, tidak ada yang tinggal diam.


Agas langsung berjalan mengambil kacamata kepala sekolah yang terdampar didekat pot bunga. Dia langsung berjalan kearah kepala sekolah tersebut.


Kepala sekolah melihat tangan didepanya dengan buram yang ingin memberikanya kacamatanya, dia langsung mengambil kacamata tersebut lalu memakainya.


Dia memperbaiki kacamatanya lalu mendongakkan kepalanya melihat siapa murid yang memberikan kacamatanya.


Dengan wajah marah, kepala sekolah itu berdiri. Andai dia punya tanduk, sudah di pastikan tanduknya akan berdiri diatas kepalanya saat ini.


“Kemana, Steven?” Tanya kepala sekolah dengan wajah galak kepada Agas.


“Ke kelas bu,” jawab Agas.


“Kamu yah, Gas. Katanya sudah tobat, kenapa gaduh lagi? Waktu lalu kamu berkelahi sama Alvaro, dan sekarang sama Steven. Apa kamu mau kembali seperti dulu jadi brandal sekolah ini?” Oceh kepala sekolah sedangkan Agas hanya diam saja menunduk. Dia tau, ini salahnya sehingga dia tidak banyak bicara.


“Cukup Alvaro yang buat ibu pusing,” keluh kepala sekolah itu, seraya memijit pelipisnya yang pusing.

__ADS_1


“Maaf bu,” ucap Agas lagi.


Mentari sudah mengajarkan bagaiamana itu sopan santun, dia tidak mau Mentari kecewa dengan dirinya, dengan hilangnya rasa sopan santun pada dirinya.


Kepala sekolah menghembuskan nafas berat. Kepala sekolah yang bername Tag Ibu Risma itu memijit pelipisnya.


“Jangan kembali seperti dulu, Agas,” perintah kepala sekolah, “cukup Alvaro yang membuat ibu pusing, kalau kamu kembali seperti dulu, ibu akan mengundurkan diri jadi kepala sekolah,” ancam Ibu Risma, yang mempunyai jabatan sebagai kepala sekolah.


Agas mendongakkan kepalanya, Agas bisa melihat keseriusan dalam mata kepala sekolah. Agas memang tidak mempunyai niat untuk kembali seperti dulu, hanya saja dia seperti ini karna ada yang menyakiti Mentari, gadis yang sangat dia cintai.


“Kamu dan Alvaro sama-sama keras kepala. Hanya saja, kamu dicairkan oleh sosok gadis bernama Mentari. Ibu tidak bisa bayangkan jika kamu kembali seperti dulu, maka ibu akan semakin tersiksa,” lanjut ibu Risma. “Kamu dan Alvaro itu sama-sama nakal, nakal kalian beda tipis!” lanjutnya seraya menatap dengan seksama Agas.


Sungguh dia tidak mau, Agas kembali seperti dulu. Agas dan Alvaro sama-sama kuat, keras kepala, susah diatur dan pembangkang. Hanya saja, Agas sudah berubah smenjak Mentari dalam hidupnya. Dan di tambah lagi Steven, tiga berandal di SMA.


“Asal nggak ada yang gangguin dan nyakitin Mentari, Agas bu.” Agas berkata dengan serius, membuat kepala sekolah terdiam.


Dia melihat muridnya itu, sungguh sangat mencintai sosok Mentari.


Kepala sekolah langsung berpikir, bagaimana jika Alvaro nantinya menyukai Mentari seiring dengan berjalanya waktu? Untuk sekarang ini, kepala sekolah belum melihat Alvaro mempunyai perasaan pada Mentari.


Bu Risma langsung menggelengkan kepalanya, untuk apa dia memikirkan kisah muridnya itu. Sungguh, jika itu terjadi maka persaingan berat antara Agas dan sosok Alvaro.


“Apa kamu pacaran dengan, Mentari?” Tanya kepala sekolah yang sedikit kepo dengan hubungan Agas dan juga Mentari.


“Pacaran atau nggak, Mentari tetap milik Agas bu,” ucap Agas dengan yakin seraya tersenyum kecil.


Bu Risma mengangguk kecil, paham dengan apa yang dikatakan oleh Agas.


Alur cinta mereka akan menarik, itu yang dipikir kepala sekolah.


“Maaf atas kelakuan saya tadi,” maaf Agas. Karna dia sudah bekelahi dengan Steven didepan ruangan kepala sekolah


Kepala sekolah jadi bingung sendiri, karna selama Steven di rumah sakit karna berkelahi dengan Alvaro, Agas yang menjaga cowok itu.


Namun dia bekelahi dengan Steven tadi.


“Jangan di ulang lagi, kali ini ibu maafkan tanpa hukuman.”


Agas tersenyum tipis. “Makasih bu, kalau gitu Agas duluan,” pamit Agas seraya menyalami tangan kepala sekolah.


“Dan satu lagi….” Kepala sekolah menjedah perktaanya sebelum Agas benar-benar pergi. “ Jangan buat masalah lagi dengan Steven,” lanjutnya karna Steven dan Agas satu kelas.


Kepala sekolah sengaja memindahkan Agas ke kelas IPS agar tidak berantem dengan Alvaro, namun di kelas IPS ada Steven yang menunggunya.

__ADS_1


“Iya bu, sip,” Agas mengacungkan jempolnya kepada kepala sekolah lalu benar-benar pergi dari ruangan kepala sekolah.


__ADS_2