
''Hmm...''
Agas, Steven, Laura dan Mentari, langsung melihat keasal suara.
Lagi-lagi yang berdehem adalah Renal. ''Ada kemajuan,'' ucap Renal. Motornya dengan motor Alvaro parkir di dekat motor Agas, sehingga cowok tampan itu kembali bertemu di parkiran.
''Tadi ngumpul di depan pintu, sekarang ngumpul di parkiran,'' lanjut cowok itu dengan tawa kecilnya.
''Bu ketu, mau pulang sama gue atau sama Alvaro,'' tawar Renal membuat Alvaro menatap dingin Renal.
Cowok itu selalu saja membawa namanya, ''lo tenang aja,'' bisik Renal kepada Alvaro, untung saja cowok itu irit bicara, sehingga dia tidak ingin berbicara panjang kali lebar, apa lagi di sini banyak orang.
‘’Mentari pulang sama gue,'' ucap Steven seraya mengambil kunci mobil di saku bajunya.
''Kalian bertiga bawa motor. Kasihan Mentari kalau harus kepanasan karna naik motor,'' lanjut Steven dengan senyuman jenaka di sudut bibirnya.
''Makanya, kalau mau antar cewek. Minimal bawa mobil, lah,'' ucap Steven lagi.
''Mobil doang, di rumah Alvaro banyak mobil!'' sungut Renal kepada Steven. ''Lo mau mobil jenis apa, semuanya ada di rumah Alvaro,'' cerocos Renal.
Steven tertawa meremehkan kearah Renal. ''Lo bilang di rumah Alvaro banyak jenis mobil?'' tanya Steven.
''Yaiyalah. Lag—''
''Anak supir mana mungkin punya mobil,'' potong Steven dengan cepat, ‘’kecuali, kalau dia minjem mobil majikannya buat anter cewek,'' lanjut Steven dengan menatap remeh Alvaro.
Alvaro menatap dingin Steven, andai saja dia tidak letih. Sudah di pastikan tanganya sudah bergerak memukul wajah sialan milik Steven.
‘’Ngomong apa lu barusan!''
Alvaro menahan tangan Renal, agar cowok itu tidak menyentuh Steven. ''Dia urusan gue, besok atau lusa gue bakalan buat perhitungan sama dia,'' ucap Alvaro dingin kepada Renal.
''Tapi Al. Dia udah hina lo anak supir,'' keluh Renal tidak terima.
Mentari menatap manik mata Alvaro, dia tidak melihat kesedihan di mata cowok itu, meski Steven mengatainya hanya seorang anak supir saja.
‘’Mentari pulang sama gue. Mentari bukan cewek matre, kalau lo tawarin naik mobil langsung pergi begitu aja sama lo,'' ucap Agas kepada Steven. Setiap ucapanya, tersirat sindiran halus untuk Laura yang masih berada di dekat mereka.
‘‘Mentari nggak pernah mengeluh kepanasan. Meski gue antar dia pulang naik motor,'' lanjut Agas . ''Andai aja Mentari keberatan karna panas, udah kemarin-kemarin gue bawa mobil ke sekolah, bukan motor lagi.''
‘’Oh...jadi lo udah biasa antar Mentari pulang?'' tanya Renal kepada Agas.
__ADS_1
Bisa Renal lihat, jika Mentari sangat dekat dengan Agas. Terbukti, gadis itu tidak meminta tanganya di lepaskan oleh Agas, karna Agas menggenggam tangan Mentari, seakan-akan tidak ingin melepaskan gadis itu.
Agas mengangguk bangga.
''Ok, karna lo udha biasa antar Mentari pulang, kini Mentari pulang sama gue, atau Alvaro,'' ujar Renal.
''Nggak akan!'' tolak Agas dan Steven bersamaan, sehingga kedua cowok itu bertatapan.
Mentari memijiti pelipisnya, perdebatan macam apa ini?
''Agas nggak bakalan pulang sama, Mentari,'' sahut Laura. ‘’Karna Agas yang bakalan antar gue pulang,'' ucap Laura membuat Renal langsung bertepuk tangan.
Renal langsung menarik tangan Mentari, agar berada di dekatnya.
Deg
Jantung Mentari berdetak kencang, bagaiamana tidak, jika Renal menarik tanganya membuatnya langsung bertubrukan dengan Alvaro.
Mentari dan Alvaro saling berpandangan, dengan jarak mereka yang sangat dekat.
Mentari merasa jantungnya seperti ingin copot saja, berpandangan dengan Alvaro begitu dekat membuat jantungnya tidak baik.
''Apa-apaan sih, loh!'' desis Agas saat Laura memegang tanganya, memaksa dirinya untuk mengantar Laura pulang.
‘’Lepasin tangan lo dari tangan gue!'' bentak Agas.
Laura menggeleng, menolak ucapan Agas.
‘’Nggak bakalan gue Lepasin,'' balas Laura.
''Lepasin, atau nggak gue bakalan buat lo malu di depan banyak orang!'' ancam Agas.
Banyak pasang mata memperhatikan mereka di parkiran, karna sudah banyak murid-murid ingin mengambil motornya untuk segera pulang.
Namun mereka juga tertarik menonton Agas, Steven, Laura, Mentari, Alvaro dan di tambah lagi dengan kehadiran Renal di sisi mereka.
Kabar gosip mengenai Steven yang menyukai Mentari sudah tersebar luas di sekolah, bahkan sudah sampai di telinga para guru.
''Lakuin apa yang lo mau,'' balas Laura kepada Agas.
Agas langsung melapskan tangan Laura dengan kasar. ''Lo punya pacar, kan? Jadi suruh pacar lo antar lo pulang,'' marah Agas.
__ADS_1
''Suruh Steven antar lo balik, jangan gue! Steven pacar lo, bukan gue,'' jelas Agas lagi kepada Laura.
Steven menggeleng. ‘’Bukan pacar, lebih tepatnya mantan. Gue kalau udah jadiin orang mantan, nggak bakalan lagi gue antar pulang,'' Sosor Steven membuat semakin merah padam.
Dia merasa di jatuhkan oleh Agas dan Steven karna Mentari. Di tambah lagi, kedua cowok itu adalah cowok yang cinta mati padanya, sekarang sudah tidak lagi.
‘’Setidaknya lo antar dia pulang, supaya dia nggak merengek sama orang lain!'' jelas Agas kepada Steven.
''Ck! Gue juga udha jadi orang lain buat dia!'' balas Steven.
Perdebatan antara Agas dan Steven, membuat Renal memanfaatkan momen ini, dia langsung menyuruh Alvaro dan Mentari untuk segera pergi dari parkiran.
''Tap—''
''Biar gue yang urus mereka, kalau sampai mereka berantem,'' potong Renal dengan cepat.
Renal memaksa Mentari untuk segera naik keatas motor milik Alvaro. Setelah gadis itu berhasil naik, Alvaro mulai menjalankan motornya.
Dia tidak ingin membuang banyak waktunya di sini.
Renal tersenyum kemenangan saat motor milik Alvaro sudah pergi, sementara Agas dan Steven masih setia berdebat, agar Steven mengantar Laura pulang, sementara Laura ingin di antar oleh Agas.
Bulan dan Vita yang sedari tadi melihat mereka, menjadi baper sendiri. Bagaiamana tidak, jika Mentari di rebuti oleh tiga cowok tampan di sekolah ini.
Apa lagi status ketiga cowok itu, merupakan biang masalah di sekolah, Agas sudah berubah. Namun besar kemungkinan cowok itu akan kembali, jika Steven atau Alvaro berhasil merebut Mentari darinya.
''Enaknya menjadi kak Mentari,'' ucap Vita.
Bulan tersenyum samar, dia bisa melihat dengan Mentari dan Alvaro pulang bersama, membuatnya merasakan sesuatu di dalam hatinya.
Apa aku cemburu, lihat kak Alvaro sama Kak Mentari pulang bareng? Ayolah, Bulan. Kamu cuman kagum sama kak Alvaro, buka suka. Bedaain rasa kagum dengan rasa suka. Kamu hanya kagum sama kak Alvaro. Bukan suka sama dia.
Bulan membatin.
“Lan,” panggil Vita, karna Bulan diam saja.
''Eh..iya. Kenapa, Vit?'' tanya Bulan.
''Lo lamungin apa sih?'' tanya Vita seraya menggelengkan kepalnya kecil.
''Nggak ada,'' jawab gadis itu. ''Yaudah yuk, pulang. Kita kerumah aku dulu,'' ucap Bulan menarik tangan Vita untuk segera pergi.
__ADS_1
‘’Oleh-oleh dari Bali ada, kan?'' tanya Vita.
''Iya, ada kok.''