Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Malang


__ADS_3

Motor sport merah milik Agas memasuki pekarangan rumah yang begitu luas. Cowok berperawakan itu turun dari motor setelah berhasil melepaskan helm miliknya.


''Mamih!'' Agas berjalan cepat menghampiri sang mamih yang sudah berdiri di depan pintu rumah mewah.


Agas nampak bingung, melihat beberapa koper di masukkan ke dalam mobil.


Mau kemana mamih?


''Mamih mau kemana?'' Tanya Agas masih bingung dengan kondisi ini.


Tiara, nama mamih Agas.


Tiara belum juga menjawab pertanyaan putranya, dia sibuk dengan menginstruksikan kepada satpam untuk segera memasukkan kopernya kedalam mobil, tanpa terkecuali.


''Mih....''


Tiara tersenyum kearah Agas, dia sampai lupa menjawab pertanyaan dari anaknya itu.


''Kita akan pindah ke Malang.''


''Kita?'' Beo Agas dengan wajah masih bingung.


''Iya, kita.''


‘’Kenapa, Mih!'' Agas menuntut jawaban dari sang Mamih.

__ADS_1


‘’Sayang, papih kamu di pindahkan tugas ke Malang. Jadi mamih harus ikut. Siapa yang akan urus perlengkapan papih kamu disana, kalau mamih di sini,'' jelas Tiara kepada putranya.


''Terus Agas gimana, Mih? Mamih, kan, tau. Kalau Agas udah kelas 3 SMA. Nggak memungkinkan lagi kalau Agas pindah sekolah, secara Agas udah nggak lama lulus lagi,'' protes Agas tidak terima dengan kepindahan sang mamih.


''Kamu pindah saat udah lulus sekolah,'' timpal Tiara memegang pundak anaknya.


''Yang ngurus Agas di sini, siapa?'' Tanya Agas lagi.


‘’Harus mandiri,'' jawab Tiara dengan enteng.


''Mih....!''


''Atau perlu kamu pindah sekolah juga ke malang, kalau nggak bisa urus diri kamu sendiri di sini?'' Ancam Tiara.


Dengan berat hati Agas menerima, jika dia akan hidup mandiri di Jakarta seorang diri.


Apa lagi yang di persiapkan, mamih?


''Sepupu kamu, Nasya akan pindah kesini. Dan akan tinggal sama kamu,'' ucap Tiara dengan senang, namun tidak dengan Agas.


Raut wajah Agas tiba-tiba berubah saat mendengar nama Nasya.


''Agas nggak mau satu rumah sama, Nasya, Mih. Mamih, kan tau. Anak itu semakin liar semenjak kedua orang tuanya meninggal!'' Agas menolak dengan keras perkataan Tiara.


''Eh, jangan ngomong kayak gitu, Gas. Nggak baik bawa-bawa orang yang udah nggak ada,'' nasehat Tiara.

__ADS_1


''Emang kenapa sih, kalau Nasya tinggal sama kamu? Dia bukan orang lain, lho, Gas. Dia sepupu kamu,'' celetuk Tiara.


Meski mereka sepupu jauh, tapi tetap saja mereka keluarga.


''Terserah mamih, saja.''


''Jadi kamu mau kalau satu rumah, Nasya?''


''Yah.''


''Yaudah, sampai di malang nanti. Mamih bakalan ketemu sama, Nasya untuk siap-siap pindah ke Jakarta.''


‘’Jangan bilang kalau….''


''Kalian akan satu sekolah.'' Potong Tiara.


‘’Masukin ke pesantren aja sih, Nasya. Agas yakin, dia makin liar kalau udah di Jakarta,'' sela Agas.


''Kamu, yah, Gas. Kalau ngomong suka mengambil kesimpulan duluan.''


''Terserah mamih, aja. Agas capek.''


''Gas, kalau Nasya di sini, kamu jaga dia juga yah, kayak kamu jaga Mentari kamu. Kamu nggak kasihan sama Nasya yang udah nggak punya orang tua.'' Tiara sedikit membesarkan suaranya, tidak ada balasan dari Agas.


''Gas, kamu nggak mau lihat mamih kamu pergi?''

__ADS_1


''Agas ganti baju dulu, Mih!'' teriak Agas tanpa melihat kearah belakang.


Bukan tidak sengaja Tiara menyuruh Nasya pindah, dia takut jika anaknya kesepian di sini.


__ADS_2