
Sudah pukul empat sore, kedai yang sudah pantas di juluki caffe ini semakin ramai.
Mentari dan Runi sampai kewalahan.
''Mah, mulai besok kita cari karyawan, yah. Tari nggak mau lihat mama kecapaen. Apa lagi Mentari nggak selalu ada bantu mamah, di kedai.'' Gadis rambut sebahu itu menyandarkan kepalanya di kursi dekat meja kasir.
‘’Yaudah, besok mamah cari yah, Tar. Penghasilan kedai ini udah lumayan buat gaji satu atau dua karyawan.'' Runi menutup bukunya, melihat berapa omset dia dapatkan selama seminggu ini.
Mentari tersenyum kearah Runi, akhirnya mamahnya itu mau memperkerjakan seseorang yang akan membantunya di kedai ini.
‘’Besok mamah pasang pamflet di depan sini, siapa tau aja. Salah satu pengujung kedai ini ada yang berminat,'' celetuk Runi dan dibalas anggukan kepala oleh Mentari.
''Yah, Vit. Mejanya full,'' keluh gadis yang menggunakan bando berwarna pink kepada gadis bernama Vita yang mengenakan kaos oblong.
''Iya, yah. Kita lambat. Lo sih, dandanya lama banget. Kayak mau ke kondangan aja.'' Vita memutar bola matanya malas.
Karna menunggu Bulan dandan yang menghabiskan waktu satu jam, membuat mereka kehabisan tempat duduk.
__ADS_1
Ini yang kedua kalinya Vita dan Bulan berkunjung, interior kedai kali ini lebih menarik dan juga sudah sedikit luas.
Dengan wajah bersalah, Bulan membalas perkataan Vita. ''Maaf, yah, Vit. Karna aku, kita jadi nggak kebagian kursi, deh,'' maafnya menbuat Vita menjadi gemas sendiri kepada teman barunya itu.
‘’Gue cuman bercanda, Lan. Kita kesana yuk.'' Vita menunjuk kearah meja tempat Mentari dan Runi mengobrol.
''Untuk apa?'' Bingung Bulan.
''Kita tanya kak Mentari, siapa tau aja ada meja paling pojok kosong. Kita bisa ngopi di sana. Rugi banget kita kesini tapi nggak ngopi. Apa lagi kamu udah dandan cantik.'' Vita menggandeng tangan Bulan menuju Mentari.
''Halo kak, Tari!'' sapa Vita kepada gadis rambut sebahu bernama Mentari.
''Iya nih kak, tapi kursinya udah penuh semua!'' keluh Vita membuat Mentari melihat keseluruh arah.
Benar saja, kursi tempatnya semua sudah terisi penuh oleh pengunjung. Ahk, mungkin ini semua karna Agas yang sudah membantu mempromosikan di akun Instagram, sehingga pengujung makin ramai.
''Ada sih kursi kosong di meja nomor tiga. Tapi ada yang isi satu orang, dia Al…..''
__ADS_1
‘’Nggak apa-apa kok, kak. Yang penting kami berdua nggak rugi kesini.'' Tanpa menunggu kelanjutan perkataan Mentari, Vita langsung ngerocos begitu saja.
''Iya, kan, Lan,'' celetuk Vita kepada Bulan yang sedari tadi hanya diam saja.
''Eh, Iyya.''
''Tap-''
''Nggak apa-apa kok, Kak Tar.'' Kini yang angkat bicara adalah Bulan, dan dibalas anggukan kepala oleh Vita.
''Aku pesan coffe caramel, kak.'' Vita mulai menyebutkan pesanannya sementara Mentari tengah mencatat pesanan mereka berdua.
‘’Kalau Bulan, Coffe macchiato,'' ucap Vita lagi menyebutkan coffe untuk Bulan.
Bulan tersenyum tipis kearah Vita yang sedang sibuk, dia bahagia karna Vita mampu mengingat apa yang dia sukai.
''Kalau makananya, roti bakar aja sama Bananaroll.''
__ADS_1
Lepas itu, mereka berjalan menuju meja nomor tiga. Mereka berdua melihat sosok cowok sedikit tertunduk karna sedang memainkan ponselnya.
Bulan dan Vita langsung bergabung di meja nomor tiga, seraya berbincang-bincang tidak mempedulikan siapa di hadapan mereka.