Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Pemilihan gaun


__ADS_3

Seluruh murid-murid kelas MIPA 1 keluar dari kelas untuk segera ke kantin mengisi perutnya, karna bell istirahat telah berbunyi.


Seperti sekarang ini Agas berada di ambang pintu menunggu Mentari, karna gadis itu sedang merapikan bukunya untuk dia masukkan kedalam tas.


"Yuk," ajak Mentari," gue yang teraktir."


Agas melirik Mentari,"hari ini gue yang teraktir," bantah Agas.


Mentari langsung menggelengkan kepalanya kuat," gue yang teraktir lo hari ini," kata Mentari lagi dan dibalas gelengan kepala kuat oleh Agas, tanda dia tidak setuju dengan perkataan Mentari jika gadis itu yang akan meneraktirnya.


Mereka berdua sedang berjalan beriringan meninggalkan kelas untuk segera ke kantin mengisi perutnya.


"Gu-" Belum sempat Agas menyelesaikan perkataannya, Mentari lebih dulu memotongnya.


"Nggak ada penolakan, Gas."


Mentari menghentikan langkah kakinya mengatakan kata itu kepada Agas, kerja cowok itu kekeh menolak perkataan Mentari.


Agas menarik nafasnya panjang,"tapi cuman hari ini," kata Agas.


"Iya."


Mentari membalasnya dengan singkat, jika tidak cowok itu tidak akan berhenti berdebat dengannya.


Mereka berdua telah sampai di kantin kelas MIPA. Selama pindah kelas Agas belum pernah makan di kantin anak IPS yang pastinya lebih ribut dari kantin anak MIPA.


Mentari ingin memesan makanan namun Agas mencekal pergelangan tangan gadis itu," lo duduk, biar gue yang pesan."


"Tap-"


"Tanpa penolakan, Tar," kata Agas lagi membuat Mentari mau tidak mau duduk di kursinya kembali membiarkan Agas memesan makanannya.


Agas berjalan meninggalkan meja untuk segera memesan mie ayam dan juga bakso untuk dirinya.


"Pesan bakso sama mie ayamnya," kata Agas.


"Tunggu sebentar yah," kata pemilik kantin itu dengan ramah kepada Agas.

__ADS_1


Sekitar lima menit, bakso dan mie ayam yang di pesan oleh Agas telah jadi. Cowok itu membawa nampan berisi makanan.


"Oh iya pak, sama es jeruknya dua dan air mineral," kata Agas merogoh saku bajunya mengeluarkan uang tiga puluh ribu.


"Es jeruknya saya bayar sama air mineral, mie ayamnya sama bakso bakalan dibayar entar kalau udah selesai makan," kata Agas lagi dan dibalas anggukan kepala mengerti oleh pemilik kantin itu.


Agas meletakkan mie ayam dan juga bakso diatas meja, sementara Mentari langsung memasukan handponenya kesaku bajunya saat makanan sudah datang.


Tidak butuh waktu lama, minuman mereka menyusul yaitu es jeruk dan juga air mineral yang dipesan oleh Agas tadi.


Agas memakan baksonya dan Mentari memakan mie ayamnya.


"Sambalnya jangan terlalu banyak, Tar," tegur Agas saat gadis itu ingin memasukan sambal kedalaman mangkuknya padahal gadis itu sudah memasukan sambal di makanannya satu sendok, dan ingin menambah lagi.


"Lo harus ingat, lo punya penyakit maag kalau banyak makan pedas bakalan kambuh," kata Agas lagi membuat Mentari tersenyum kecut. Karna apa yang dikatakan oleh Agas memang benar.


Cowok itu menggeser sambal, agar Mentari tidak menjangkaunya lagi.


"Itu semua demi kebaikan lo," kata Agas memasukkan baksonya kedalam mulutnya.


Mentari melanjutkan makannya karna Agas telah menyingkirkan lombok sambal.


"Gue bayar dulu," kata Mentari beranjak dari kursinya untuk segera membayar makanannya.


"Semuanya berapa pak, pesanan yang diambil sama Agas tadi," kata Mentari kepada pemilik kantin sembari mengeluarkan uangnya dari kantong bajunya.


"Totalnya 20, " kata pemilik kantin kepada Mentari.


Mentari tentu menyeritkan alisnya, karna yang dibawah oleh Agas satu mangkok mie ayam dan bakso dua air mineral dan dua jus jeruk. Dan pemilik kantin mengatakan totalnya 20 ribu?


"Maaf pak, yang dibawa Agas tadi dua air mineral dua jus jeruk satu mangkok mie ayam dan satu bakso," terang Mentari kepada pemilik kantin itu.


"Air mineral sama jus jeruknya sudah dibayar sama Agas, sisa mie ayam sama baksonya yang belum dibayar," terang pemilik kantin itu membuat Mentari menarik nafasnya panjang.


Mentari langsung memberikan uang 20 kepada pemilik kantin, habis itu dia kembali ke tempatnya.


"Gas," panggil Mentari lalu duduk didekat Agas yang sedang memainkan handponenya.

__ADS_1


" Udah gue bilangin 'kan kalau yang teraktir hari ini gue. Lagian gue punya uang karena semalam bantuin mamah," kata Mentari lagi dengan sedikit kesal karna Agas membayar sebagain makanan mereka.


"Gue cuman minta lo istirahat, Tar. Gue nggak mau lo kecapean kerja semalaman baru esoknya ke sekolah. Nggak ada waktu istirahat buat diri lo sendiri. Lo lihat sendiri 'kan pagi tadi, lo hampir telat ke sekolah," kata Agas bijak kepada Mentari.


Mentari menarik nafasnya panjang." Lo 'kan tau Gas, kehidupan keluarga gue kayak gimana," kata Mentari kepada Agas.


Agas hanya mengangguk kecil dengan perkataan Mentari, karna sering kali Agas ingin memberitakan bantuan kepada Mentari namun gadis itu selalu menolaknya, jika berupa material.


***


Saat ini Bulan dan Vita sedang berada butik, untuk mengambil gaun pesanan mereka untuk tampil sebentar malam.


"Lo yakin mau pake baju pink?" Tanya Vita kepada Bulan saat melihat gaun yang dikenakan oleh Bulan berwana pink. Sangat cocok untuk gadis itu yang sifatnya lembut dan sedikit manja.


"Iya yakin, emang kenapa?" Tanya balik Bulan memutar badannya didepan cermin memperlihatkan gaun yang dia gunakan menyapu lantai.


"Bdw lo kenapa sih suka warna pink?" Tanya Vita penasaran kepada sosok Bulan.


"Imut, cantik dan feminim aja," kata Bulan membuat Vita menganggukkan kepalanya.


"Acaranya berapa malam sih?" Tanya Vita kepada Bulan.


"Dua malam. Entar malam sama besok malam," jawab Bulan.


Sebentar malam akan ada pesta penyambutan peserta yang ikut melukis, dan esok malamnya akan mengadakan lomba melukis. Dan Bulan mewakili SMA Bina Marta ditunjuk oleh guru seni bersama dengan Vita. Yah, didalam kelas seni ada Bulan dan Vita yang mempunyai lukisan yang perfect sehingga pihak sekolah memilih Vita dan juga Bulan ikut serta dalam melukis.


Perlombaan melukis dibuka untuk umum, baik anak sekolah, anak kuliahan bahkan yang tidak sekolah dan kuliahpun boleh ikut serta yang penting mempunyai skill melukis.


"Kamu pilih gaun warna apa untuk Perkenalan entar malam?" Tanya Bulan karna Vita belum juga mendapatkan gaun yang menurutnya dia sukai.


"Gue cari yang warna hitam, tapi kok nggak ada yah," kata Vita sedikit lesuh.


"Mungkin aja stoknya habis," kata Bulan.


"Gimana kalau kamu pake gaun warna pink aja, biar sama," kata Bulan dengan semangat empat lima membuat Vita bergedik ngeri.


Pasalnya, Vita bukan gadis feminim seperti Bulan, gadis itu sedikit tomboy jadi lebih menyukai warna hitam.

__ADS_1


"Gue nggak mau, lebih baik gue ambil nih gaun biru navi," kata Vita menolak mentah-mentah permintaan Bulan, dia langsung mengambil gaun warna biru navi ketimbang menggunakan gaun warna pink.


__ADS_2