Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Steven dan Agas


__ADS_3

Mereka bertiga melepaskan pelukannya.


"Yaudah yuk masuk, kayaknya acara udah mau selesai deh," kata Mentari dan dibalas anggukan setuju oleh Dado.


"Agas mana?" tanya Mentari. Dia baru sadar, jika Dado datang begitu tiba-tiba padahal didalam tadi dia bersama dengan Agas.


"Gue lihat sih tadi dia pergi sama Laura. Mungkin aja Agas nggak suka Laura lukis wajah Agas tanpa persetujuan Agas," kata Dado membuat Mentari manggut-manggut.


"Hubungan mereka apa sih? Sampai-sampai Laura lukis muka Agas? Padahal yang gue denger-denger yah, Laura pacaran sama Steven," kata Tamara. "Apa lagi kemarin 'kan dia labrak lo karna sih biang onar Alvaro berantem sama Steven," lanjutnya membuat Dado mengacungkan jempol kearah Tamara, tanda dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Tamara.


"Mungkin aja sih Laura mata keranjang," timpal Dado memperbaiki kacamatanya yang sedikit melorot.


"Mereka pernah pacaran."


"WHAT!" Lagi dan lagi Dado bersamaan dengan Tamara saking terkejutnya dengan apa yang dikatakan oleh Mentari.


Dado dan Tamara melirik kearah Mentari sebagai tersangka. "Mana mungkin dah Agas pernah pacaran sama modelan kayak Laura," kata Tamara dengan pedas. "Lo nggak lihat penampilan dia yang iyuh, jauh dari tipe Agas," kata Tamara.


"Masa sih, mereka pernah pacaran?" menolog Dado menyimpan tangannya di dagunya tanda dia sedang berpikir.


"Mungkin aja saat itu, mata Agas bermasalah," lanjut Dado membuat Tamara memukul lengan cowok sembari tertawa.


"Mata lo yang bermasalah, bukan mata sih Agas," terang Tamara membuat Dado mengerucutkan bibirnya kedepan mendengar perkataan pedas dari gadis didepannya.


"Tapi beneran Tar, kalau mereka pernah pacaran?" tanya Tamara dengan serius membuat Dado memasang telinganya baik-baik.


Mentari melirik kanan-kirinya takut jika ada seseorang yang mendengarnya. "Gue denger sendiri percakapan Laura sama Agas," kata Mentari mengigit bibirnya, dia sedang menceritakan aibnya sendiri bahwa dia mengintip pembicara Laura dan juga Agas tadi.


Dado dan Tamara saling bertatapan, sementara Mentari menunggu apa yang akan dikatakan oleh sahabat barunya itu tentang dirinya yang mengintip pembicara Agas dan Laura.


"Yang minta putus siapa?" Dado dan Tamara kembali mengajukan pertanyaan bersaman. Membuat Mentari berpikir jika sahabat barunya itu akan menanggapi dirinya aneh-aneh yang mengintip pembicaraan orang lain.

__ADS_1


"Laura."


"WHAT!" Dado dan Tamara kembali terpekik membuat Mentari menutup telinganya saking kerasnya suara kedua sahabatnya itu.


"Beneran aja, Laura yang minta putus?" tanya Tamara masih tidak percaya. "bisa rusak pencitraan cowok tampan SMA Bina Marta," lanjutnya.


"Tapi-"


"Tapi apa?" Mentari tersentak kaget karna belum sempat dia menyelesaikan perkataannya Dado lebih dulu memotong pembicaraannya apa lagi ekspresi cowok itu serius kepada Mentari.


"Laura minta balikan sama Agas, tapi Agas nggak mau," jawab Mentari membuat helaan nafas legah keluar dari mulut Tamara dan juga Dado.


"Nggak apa-apa kalau konsepnya kayak gitu. Laura mengemis nggak minta balik sama Agas?" tanya Tamara lagi kepada Mentari seakan-akan Mentari tau semuanya.


"Kayaknya sih gitu, sampai-sampai dia lukis wajah Agas diperlombaan tadi," kata Mentari membuat kedua sahabatnya manggut-manggut.


"Agas udah tau kalau lo udah tau hubungan mereka kayak dulu seperti apa?" tanya Tamara dan dibalas gelengan kepala oleh Mentari.


"Kenapa lo nggak jadian aja sih sama Agas, dia kan baik," kata Dado membuat Mentari melirik Dado.


"Apa yang lo bilang emang bener sih, Tar. Tapi lo yakin belum punya perasaan sedikitpun sama Agas?" tanya Tamara.


"Gue juga bingung," kata Mentari.


"Lo pikir aja dulu," kata Tamara.


"Masuk yuk, gue yakin acara perlombaan udah kelar. Gue mau lihat siapa yang juara satu. Apa lagi cewek yang pakai gaun warna pink imut banget," kata Dado sembari mengingat wajah imut milik Bulan.


"Bulan, yang amit-amit lihat muka lo itu," kata Tamara berjalan beriringan bertiga untuk segera masuk kedalam tempat acara berlangsung.


"Gue tau, lo pasti irih. Karna belum lihat wajah pangeran lo itu!" balas Dado membuat Tamara menghentakkan kakinya sementara Mentari hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


🦋🦋🦋


"Yang nyuruh lo lukis wajah gue siapa?" sentak Agas kepada Laura.


Mereka berdua kembali mengobrol didekat toilet.


"Karna gue mau balik sama lo, Gas," kata Laura dengan yakin.


"Udah berapa kali gue bilang, kalau gue udah nggak cinta sama lo. Gue udah cinta sama orang lain. Jangan pernah usik kehidupan gue kalau lo nggak mau lihat gue kasar ke lo!'' ancam Agas kepada gadis cantik dihadapannya ini.


"Gue lebih cantik daripada Mentari, seharusnya lo buka mata lo, Gas," kata Laura membuat Agas tertawa renyah.


"Mentari cantik dimata gue. Dia bukan cuman cantik dari luar, tapi dia juga cantik dari dalam!'' kata Agas penuh dengan penekanan.


"Gue bakalan rebut lo kembali, Gas," kata Laura dengan penuh penekanan.


Agas langsung pergi meninggalkan Laura, hingga perkataan Laura membuat pergerakan kaki Agas terhenti.


"Gue bakalan bilang sama Mentari, kalau kita pernah saling mencintai, Gas. Gue bakalan bilang sama dia, kalau hidup lo pernah hancur saat gue ninggalin lo demi Steven!" kata Laura membuat tangan milik Agas terkepal hebat.


Dia tidak akan membiarkan Laura mengatakan tentang hubungannya dimasa lalu kepada Mentari.


"Sebelum lo lakuin itu semua, gue pastiin mulut lo bakalan kakuh untuk bicara!" ancam Agas membuat Laura terdiam.


Sebagai perempuan yang sudah kenal Agas cukup lama, membuat Laura tau jika cowok itu tidak akan main-main dengan apa yang dia katakan, jika seseorang yang istimewa di usik oleh orang lain.


"Sebelum lo lakuin itu ke Laura, gue lebih dulu buat mata lo itu nggak bisa melihat hari esok!" suara tersebut tiba-tiba muncul membuat Laura melihat keasal suara.


"Steven," menolog Laura melihat Steven yang menatap tajam Agas.


Steven melihat kearah Laura lalu tersenyum kepada gadis itu. "Selama kamu didekat aku, nggak bakalan ada yang berani nyakitin kamu, Lau. Termasuk dia," tunjuk Steven kepada Agas membuat Agas tersenyum sinis kepada Steven.

__ADS_1


"Selamat memperjuangkan perempuan gila seperti dia!" kata Agas menepuk pundak Steven lalu pergi meninggalkan Steven dan juga Laura.


Laura berlari mengejar Agas, namun tangannya langsung dicekal oleh Steven. "Lo milik gue, Lau. Apapun yang gue miliki nggak bakalan bisa lepas dari gue, kecuali gue yang lepasin baru lo bisa pergi," kata Steven dengan penuh penekanan kepada Laura.


__ADS_2