
Agas membalas pelukan Mentari membuat Mentari tak kuasa menahan air matanya. Bagaimana jika Agas tau jika orang asing telah mencium dirinya? Apa Agas akan tetap seperti ini kepadanya atau menjauhinya?
Mentari melepaskan pelukannya membuat Agas langsung menghapus air mata milik Mentari. "Kita pulang," ajak Agas dan dibalas anggukan kepala oleh Mentari.
Mentari dan Agas langsung berjalan beriringan meninggalkan kamar mandi dengan melewati Alvaro yang sedang bersembunyi.
Setelah kepergian Agas dan juga Mentari, Alvaro keluar dari persembunyiannya hingga seseorang menepuk pundaknya membuatnya terkejut dengan tindakan tiba-tiba tersebut.
Alvaro langsung membalikkan badannya, melihat siapa yang menepuk pundaknya.
Seseorang tersebut tersenyum kearah Alvaro dengan samar, membuat Alvaro membalasnya dengan senyuman tipis di balik topengnya.
"Ayo pulang."
Dari balik topengnya, Alvaro tersenyum getir saat seseorang di hadapannya mengajaknya pulang, tak lupa pula suaranya yang memendam isakan tangis.
"Di suruh Frans?" tanya Alvaro memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh pak Farhat.
Yah, orang yang menepuk pundak Alvaro adalah pak Farhat sendiri yang ingin menjemput Alvaro sesuai dengan perintah pak Frans kepadanya.
Didalam mobil hanya ada keheningan saja, Alvaro duduk didepan bersama dengan pak Farhat sementara topengnya sudah dia buka saat dia sudah masuk kedalam mobil.
Sementara, dia sudah memberitahukan kepada Dila jika dia pulang lebih dulu. Besok pagi dia akan mengambil motornya dirumah Dila.
"Apa papa udah tau kalau Alvaro yang selama ini ikut lomba, pake topeng?" tanya Alvaro tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.
Pak Farhat melirik Alvaro lalu mengangguk kecil, dia tidak tau hukuman apa yang akan diberikan Frans kepada Alvaro nantinya.
"Bapak takut, kalau nak Al bakalan kena amarah sama pak Frans." Nada suara pak Farhat tidak bisa bohong, jika dia mengkhawatirkan sosok yang tengah duduk di sampingnya ini.
Alvaro tersenyum sangat tipis, bahkan sangat tipis sampai-sampai pak Farhat tidak tau jika anak dingin itu tengah tersenyum pedih.
__ADS_1
"Udah biasa buat Al," kata Alvaro, dia sudah biasa dengan perlakuan Frans kepadanya.
Mobil milik pak Farhat memasuki mansion mewah, satpam membukakan pintu mobil untuk Alvaro sehingga cowok itu keluar.
Pintu utama dibuka oleh salah satu satpam, sehingga para maid mansion berjejeran lalu menundukkan kepalanya saat Alvaro berjalan masuk kedalam mansion.
Pak Farhat ingin berjalan mengikuti Alvaro, namun pintu utama langsung tertutup sesuai dengan perintah Frans jika dia melarang Pak Farhat untuk masuk.
Huft
Hembusan nafas berat keluar dari mulut pak Farhat, dia tidak bisa akan tidur lagi memikirkan kondisi Alvaro. Bagaimanapun, dia sudah dekat dengan Alvaro sejak kecil.
Alvaro sudah melihat punggung kokoh seorang pria, yang sedari tadi menunggu kedatangannya. Frans yang merasakan kehadiran Alvaro membalikan badannya dan sudah melihat putranya sedang menatapnya juga.
Nafas Frans bergemuruh melihat topeng berada ditangan milik Alvaro yang dia kenakan tadi.
Frans melirik kearah meja, diatas meja ada vas bunga. Tanganya bergerak mengambil vas bunga tersebut, itu semua tidak luput dari mata Alvaro.
Brak...
Namun, dia melihat baju yang dia kenakan sama yang cowok bertopeng tadi kenakan dan, tak lupa pula topeng tersebut berada ditangan Alvaro.
"APA KAMU TIDAK PUNYA TELINGA, ALVARO!?" suara milik Frans menggelegar memasuki gendang telinga milik Alvaro.
Suara Frans bak petir di malam hari, yang sangat mengerikan. Bahkan para pelayan dapat mendengarkan suara milik Frans padahal mereka berjauhan apa lagi ini sebuah mansion yang luasnya tidak main.
"PAPA SUDAH MELARANG MU MELUKIS, NAMUN KAMU MELAKUKAN TINDAKAN YANG JAUH DARI DUGAAN PAPAH!!!!"
Tentu saja Frans tidak menduga, jika laki-laki yang mengenakan topeng selalu memenangkan perlombaan melukis adalah putranya sendiri, membuat Frans telah tertipu selama ini.
"KENAPA KAMU DIAM, HAH!?" Frans mencengkram dagu milik Alvaro. Rasanya sangat perih di rasakan oleh Alvaro, namun dia merasa lebih perih karna perlakuan orang tuanya seperti ini kepadanya.
__ADS_1
Frans menatap manik mata milik Alvaro yang memerah, bahkan mata mereka berdua saling bertatapan.
Frans melepaskan dengan kasar dagu milik Alvaro, dia juga kasihan kepada putranya namun rasa marahnya kepada Alvaro lebih besar daripada rasa kasihnya saat ini.
Frans membelakangi Alvaro untuk segera berjalan menuju ruangannya, hingga langkah kakinya terhenti karna Alvaro angkat bicara.
"Saya bakalan cari, Mamah."
Empat kata yang di ucapkan Alvaro membuat kemarahan Frans semakin meluap.
Frans membalikkan badannya lalu menatap tajam kearah Alvaro, rasa kasihanya telah hilang saat Alvaro mengucapakan kata seperti itu.
"MAMA KAMU SUDAH MATI! DIA SUDAH PERGI MENINGGALKAN KAMU SEJAK KECIL!"
Alvaro tersenyum getir kearah Frans membuat Frans seperti tertantang terhadap putranya sendiri. "Mamah masih hidup. Alvaro bakalan cari mamah, dan Alvaro bakalan pergi sama mama meninggalkan Anda yang kasar!"
Perkataan Alvaro sukses membuat nafas Frans naik turun, bahkan matanya semakin memerah saat Alvaro mengucapakan kata meninggalkan dirinya jika dia berhasil menemukan mamahnya.
"Alvaro yakin, mamah nggak bakalan tantang hobi Alvaro karna hobi Alvaro keturunan dari mamah!"
Frans berjalan menghampiri putranya, dengan menggebu-gebu.
PLAK
Satu tamparan keras dengan penuh emosi di layangkan kepada Alvaro, sehingga wajah Alvaro terhuyung ke samping.
Bagi Alvaro, dia sudah biasa mendapatkan tamparan ini dari Frans. Bukan hal yang tabuh lagi jika dia mendapatkan tamparan keras.
Darah segar keluar dari mulut Alvaro sangat banyak membuat Frans khawatir namun dia tidak tampakkan karna rasa amarhnya pada Alvaro.
"Terimakasih!"
__ADS_1
Lepas mengucapakan kata terimakasih, Alvaro berjalan dengan cepat untuk menuju kamarnya membuat Frans mengacak rambutnya. Dia kasihan kepada putranya karna telah memperlakukannya sekasar itu, namun dia tidak suka saat Alvaro mengucapakan kata seperti tadi.
Dia melihat tangannya yang telah menampar Alvaro, lalu dia duduk di sofa menyandarkan kepalanya. Malam ini, dia kembali menampar putranya, sering kali dia menampar Alvaro hingga berdarah, Namum sepertinya tamparan kali ini lebih parah.