Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Kita Sahabat


__ADS_3

Agas mengangguk kecil atas apa yang dikatakan oleh Tamara yang ada benarnya juga, karna cowok itu melukis SMA Bina Marta sangat rincih dari kelas hingga murid-muridnya.


"Nggak ada urusannya juga sama kita, kalau dia sekolah di SMA Bina Marta," kata Mentari lembut disertai dengan senyuman.


"Nah, apa yang dibilang sama ibu ketua emang benar. Kalaupun dia sekolah di SMA Bina Marta, nggak ada urusannya juga sama kita!" nyolot Dado yang sedari tadi greget dengan Tamara.


"Masalahnya, gue suka sama dia. Saat pertama kali lihat dia," terang Tamara kepada Dado membuat Agas menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana kalau dia buruk rupa? Apa lo masih suka sama dia? Lagian yah, Tam. Lo belum pernah lihat muka tuh cowok kayak apa," kata Dado membuat Tamara terdiam.


Tapi, Tamara yakin jika cowok itu sesuai dengan ekspektasinya. Dia sangat suka modelan kayak cowok bertopeng itu yang sangat misterius mampu memikat hatinya yang selama ini tidak menyukai seseorang.


"Gue yakin, dia nggak sejelek pikiran lo," nyolot Tamara membuat Mentari tersenyum kecil melihat tingkah Dado dan juga Tamara.


"Tar, temenin gue ke toilet dulu," kata Tamara menarik tangan Mentari lalu menatap Dado dengan tatapan tidak suka.


"Gue ke toilet dulu," pamit Mentari dan dan dibalas anggukan kepala oleh Agas.


Dan tinggal lah Dado dan Agas berdua ditempat yang tadi karna sudah ditinggalkan oleh Tamara dan juga Mentari.


"Lo kenapa?" tanya Agas yang melihat ekspresi wajah Dado yang seperti menahan sembelit saja, melihat wajahnya yang tidak enak untuk dipandang.


"Ditinggal berdua sama lo, Gas. Buat bulu kuduk gue merinding," kata Dado memperbaiki kacamatanya membuat Agas tersenyum simpul.


"Gue bukan Agas yang dulu, semenjak kehadiran Mentari gue berubah," kata Agas mengingat saat dimana Mentari menenangkan dirinya. "Jadi, lo nggak usah takut sama gue," lanjutnya disertai dengan senyuman tulus membuat Dado mengangguk dengan perkataan Agas yang tulus apa lagi disertai dengan senyuman.


"Semenjak kehadiran Mentari, lo banyak berubah yah," kata Dado pelan takut jika menyingung perasaan Agas.


Agas tersenyum simpul. "Itu nyata," kata Agas dengan bangga membuat Dado manggut-manggut dengan perkataan Agas.


"Kalaupun Mentari ninggalin gue nantinya, gue nggak tau hidup gue bakalan kayak apa," kata Agas membuat Dado terdiam.


Bagaimana jika Mentari tidak membalas perasaan Agas? Bisa-bisa mantan badboy itu kembali seperti dulu dengan sakit yang sama dengan orang yang berbeda.

__ADS_1


"Gue doain lo sama Mentari bakalan cepat jadian," kata Dado membuat Agas mengaminkan perkataan cowok itu.


"Katanya mau ke toilet?" kata Mentari karna Tamara mengajaknya ke taman malam-malam begini.


Tamara lebih dulu duduk di bangku bercat putih lalu disusul oleh Mentari. "Lo punya masalah?" tanya Mentari melihat Tamara seperti mempunyai banyak beban pikiran.


Selama ini Tamara dan Mentari tidaklah akrab, mereka saling berbicara saat kejadian dimana kemarin Laura datang melabrak Mentari membuat Dado dan Tamara angkat bicara.


Padahal gadis tomboi itu tidak suka mengurus urusan orang lain, entah mengapa saat itu dia membelah Mentari yang tengah dilabrak oleh Laura.


"Lo mau nggak jadi sahabat gue?" tanya Tamara melirik Mentari membuat Mentari juga melirik kearah Tamara sehingga mereka berdua saling bertatapan.


Mentari tersenyum. "Iya, gue mau," kata Mentari membuat Tamara tersenyum sehingga membuat gadis tomboi itu tambah manis.


"Selama gue naik SMA, gue nggak punya sahabat," kata Tamara melihat kearah depan.


Mereka berdua duduk dikursi taman dengan matanya terarah kedepan.


"Kenapa?" tanya Mentari.


Dia menceritakan kepada sahabatnya jika dia menyukai seseorang tersebut, bahkan sahabatnya ini mengaku untuk membantu Tamara untuk jadian.


Namun kenyataannya, sahabatnya lah yang jadian dengan orang yang dia sukai sehingga saat itu Tamara memutuskan pisah SMA bersama dengan sahabatnya saking bencinya dia kepada sahabat semasa kecilnya itu.


Bahkan sampai sekarang, mereka tidak saling berkomunikasi lagi. Jadi itulah alasan Tamara tidak ingin mempunyai sahabat perempuan lagi, dia lebih memilih berteman dengan cowok yang tidak munafik seperti sahabat perempuannya.


"Soal perasaan?" tebak Mentari tanpa mengalihkan pandangannya dari depan melihat air mancur yang sangat indah yang berada ditengah-tengah taman malam ini.


Tamara tertawa kecil, apakah dia egois atau terlalu lebay jika membesarkan masalah tersebut? Rasanya di khinatin sahabat sendiri lebih sakit.


"Alasannya dia nggak milih gue mungkin aja karena gue tomboi," curhat Tamara. Dia sadar jika dirinya tidak semenarik sahabatnya maupun perempuan lainnya.


"Lo itu unik, lo apa adanya," kata Mentari tersenyum kearah Tamara.

__ADS_1


Pantas saja, dia tidak pernah melihat Tamara berbincang-bincang dengan teman sekelasnya, gadis itu hanya mengobrol dengan Dado saja.


"Lantas, apa alasan lo ngajak gue jadi sahabat lo?" tanya Mentari membuat Tamara tersenyum kearah Mentari.


"Gue yakin, lo nggak seperti yang lainnya. Seperti sahabat gue yang waktu SMP. Gue yakin lo itu tulus," kata Tamara dengan yakin. "Udah lama gue perhatiin lo, rasanya gue mau ajak lo bersahabat tapi gue kembali teringat masa SMP gue buat gue ngurung niat gue. Tapi sekarang, gue berusaha membuka mata hati gue kalau persahabatan nggak semuanya kayak gitu," kata Tamara membuat Mentari terharu.


"Sini peluk," kata Mentari sehingga mereka berdua berpelukan sebagai tanda mereka malam ini bersahabat.


Tamara melepaskan pelukannya. "Gue yakin lo nggak seperti yang sahabat gue yang masa itu," kata Tamara dengan jengkel membuat Mentari tertawa geli melihat ekspresi Tamara malam ini.


"Iya, gue janji," kata Mentari membuat Tamara kembali memeluk Mentari.


"Mulai malam ini kita sahabat," kata Tamara menjulurkan jaru kelingkingnya kearah Mentari dan ditakutkan dengan jari kelingking milik Mentari.


"Kita sahabat," kata Mentari dengan tawa membuat Tamara juga tertawa.


"Hmm.....Gue nggak diajak nih," kata Dado dengan jengkel kearah Tamara dan juga Mentari.


Mentari dan Tamara saling bertatapan lalu kemudian mereka berdua tertawa.


"Gue sahabatnya, Tamara. Kalau Tamara bersahabat dengan lo berarti gue juga ikutan," kata Dado menjulurkan tangannya kedepan.


Mentari dan Tamara kembali bertatapan lalu menaikkan tangannya keatas tangan Dado lalu disusul oleh Tamara.


"Malam ini, kita bertiga resmi bersahabat," kata Tamara disertai dengan tawa.


"Kalau gini, harus dibuatin acara," tawa Dado pecah membuat Tamara dan juga Mentari tertawa.


Mentari tersenyum, dia tidak menyangka jika dia akan bersahabat ditengah-tengah detik masa SMA.


Dia berjanji akan menjadi sahabat yang baik untuk Tamara dan juga Dado.


"Gue janji, bakalan jadi sahabat baik untuk kalian," kata Mentari dan disambut pelukan oleh Dado dan juga Tamara.

__ADS_1


"Janji," Tamara dan Dado bersamaan mengucapakan kata janji dan dibalas anggukan kepala oleh Mentari.


__ADS_2