Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Murid baru


__ADS_3

Alvaro membuang rokoknya, setelah bell berbunyi. Dia baru ingat, jika semalam dia memesan coffe macchiato kepada Mentari.


Baiklah, pagi ini dia akan minum coffe buatan Mentari. Perlu Alvaro akui, jika cara mentari membuat coffe sangat pas.


Alvaro berdiri dari kursi yang dia duduki, dengan Renal yang mengikutinya dari belakang.


''Tar, kepala sekolah nyuruh lo keruanganya,'' ucap Tamara, yang baru saja dari ruangan kepala sekolah.


Mentari bertanya-tanya, untuk apa lagi kepala sekolah menyuruhnya keruanganya.


Mentari beranjak dari kursi yang dia duduki, di ambang pintu dia berpapasan dengan Alvaro.


''Al, pesanan lo ada di laci meja,'' ucap Mentari.


''Uang semalam yang lo kasi kelebihan, lo ambil aja uang sama pesanan lo di laci gue.'' Lepas itu Mentari pergi dari kelas.


Tamara memperhatikan Alvaro, entah mengapa melihat gestur tubuh Alvaro, membuat Tamara mengingat cowok bertopeng itu.


Dado menyiku lengan Tamara. ''Kenapa lo Alvaro sampai segitunya?'' tanya Tamara.


''Nggak apa-apa,'' jawab Tamara.


Tamara mengusir pikiranya itu, dia tau jika Alvaro tidak tau melukis. Sementara cowok bertopeng itu sangat mahir melukis.


Alvaro mengambil coffe pesannya dibawah laci Mentari, dia tidak mengambil uang dibawa laci sesuai yang di katakan Mentari tadi.

__ADS_1


Tok...Tok...Tok


Mentari mulai mengetuk ruangan kepala sekolah, dia takut jika kepala sekola kembali mengancamnya untuk di keluarkan dari sekolah ini, jika Alvaro tidak minta maaf pada Steven.


''Masuk!''


Mentari langsung masuk kedalam ruangan kepala sekolah.


''Duduk dulu.'' Kepala sekolah mempersilahkan Mentari untuk duduk lebih dulu.


''Iya, bu,'' jawab gadis itu.


Mentari duduk di samping cowok yang Mentaris bisa tebak, jika dia adalah murid baru.


''Renal, perkenalkan dia adalah Mentari. Yang merupakan ketua kelas pilihan di kelas MIPA,'' ucap kepala sekolah, memperkenalkan Mentari kepada Renal.


Buset, ini anak sekolah atau bidadari sih!


Renal berdecak kagum melihat kecantikan Milik mentari. Tidak sia-sia dia harus masuk kelas ipa, jika bertemu dengan gadis cantik seperti Mentari.


Mentari mulai menjulurkan tanganya. ''Mentari.''


‘’Gue Renal.'' Renal menyambut uluran tangan milik Mentari.


''Hmm.'' Kepala sekolah berdehem, karna Renal belum melepaskan tangan Mentari.

__ADS_1


''Maaf bu, khilaf,'' ucap Renal dan dibalas anggukan kepala oleh kepala sekolah.


''Mentari, Renal akan menjadi bagian dari kelas kalian. Jadi, kamu harus memberitahukan kepada Renal, aturan apa saja yang tidak boleh di langgar,'' jelas kepala sekolah.


''Baik, bu,'' jawab Mentari.


''Ada yang ingin kamu pertanyakan Renal? Sebelum ke kelas baru kamu?'' tanya kepala sekolah.


''Ada bu,'' jawab Renal.


''Katakan,'' ucap kepala sekolah.


''Apakah sebuah pelanggaran jika berpacaran dengan ketua kelas?'' tanya Renal seraya melirik Mentari dengan senyuman, yang mampu memikat para gadis.


Kepala sekolah bernama ibu Risma itu menggelengkan kepalanya. ''Itu kembali pada Mentari,'' ucap kepala sekolah.


Sementara Mentari hanya tertawa kecil saja, dia menganggap apa yang di katakan Renal adalah sebuah lelucon untuk pagi ini.


Mentari dan Renal pamit undur diri, mereka akan ke kelas. Karna bell sekolah sudah berbunyi.


Renal mengikuti langkah kaki Mentari, lalu cowok itu berjalan beriringan dengan Mentari menuju kelas ipa.


''Jadi lo ketua kelas, tiga kali berturut-turut di kelas ipa?'' tanya Renal dan dibalas anggukan kepala oleh Mentari.


'''Hebat juga lo, yah, bisa tanganin kulkas,'' gumam Renal.

__ADS_1



__ADS_2