
Bulan tidak membalas perkataan Vita, menurutnya perkataan Vita tadi terlalu berlebihan. Ikutan perlombaan melukis yang sebesar ini sudah membuatnya bangga. Bulan tidak masalah jika dia tidak menang.
Asal dia bisa menampilkan hasil karyanya ke orang-orang akan membuatnya sangat bahagia. Setiap Bulan ikut perlombaan, dia tidak pernah berpikir untuk menang, dia selalu berpikir bagaimana dia menciptakan lukisannya agar lebih menarik dipandang mata.
Bulan sedari tadi memperhatikan cowok yang menggunakan topeng keemasan itu, dari balik topengnya dia bisa melihat mata cowok itu.
Deg
Jantung Bulan berdetak kencang saat matanya dan mata milik cowok bertopeng emas itu saling bertatapan.
Kak Alvaro?
Alvaro mengalihkan pandangannya, dia menatap handphonenya yang membaca pesan dari Dila.
"Hai!"
Semua peserta dalam ruangan langsung melihat kearah gadis yang menggunakan dres berwarna abu-abu dengan rambutnya dia biarkan tergerai indah.
Alvaro menatap gadis itu dengan dalam dari tempatnya duduk.
"Hai, kak Tar!" sapa balik Vita saat melihat Mentari muncul dari balik pintu.
"Oh iya, gue disuruh sama panitia buat catat nama asli kalian," kata Mentari dan dibalas anggukan kepala oleh lainnya.
"Ok kak."
Mentari mulai mencatat nama peserta untuk malam ini. Mentari juga tidak tau mengapa dia yang ditunjuk untuk melakukan ini. Padahal dirinya disini tamu bukan panitia.
"Masih ada yang belum gue catat namanya?" tanya Mentari melihat peserta malam ini yang berjumlah 20an lebih dengan kecantikan yang berbeda-beda.
"Ada," sahut Bulan membuat Mentari siap-siap mencatat untuk nama selanjutnya.
"Siapa?" tanya Mentari siap untuk mencatat nama yang akan disebut oleh Bulan, gadis yang mengenakan gaun berwarna pink.
"Dia," tunjuk Bulan kepada cowok yang menggunakan topeng berwana keemasan.
Sehingga Mentari dan lainnya langsung melihat kearah cowok itu yang tengah asik menyandarkan kepalanya di sofa, seperti memikirkan sesuatu hal.
"Iya kak, Tar. Dia cowok misterius itu," timpal Vita dan dibalas anggukan setuju oleh yang lainnya dengan perkataan Vita tadi.
Mentari melangkahkan kakinya menuju sofa untuk menghampiri cowok itu, dia membawa kertas berwarna putih dan juga pulpen berwarna hitam.
__ADS_1
"Hey," sapa Mentari.
Suara yang tidak asing memasuki gendang telinga milik Alvaro sehingga cowok itu membuka matanya secara perlahan.
Dia sudah melihat Mentari dengan rambutnya tergerai indah tersenyum kearahnya. Senyuman milik Mentari sepertinya menular kepada orang yang dia senyumi.
Buktinya saja Alvaro tengah tersenyum tipis dibalik topengnya.
"Nama asli lo siapa? Soalnya panitia nyuruh gue buat catat nama asli peserta malam ini," kata Mentari kepada cowok menggunakan topeng keemasan tersebut.
Mentari belum tau, jika dihadapannya adalah sosok Alvaro, dia mengenakan topeng keemasan hanya tertutup separuh wajahnya dan juga matanya, sementara bibirnya terlihat begitu nyata didepan mata.
"Rahasia."
Mentari tertegun dengan suaranya, dia merasa tidak asing dengan suara tersebut. Seperti suara yang selalu masuk kedalam relung kehidupannya selama ini.
Tapi Mentari lupa.
"Hmm." Mentari berdehem guna untuk menetralkan pikirannya yang berkelanah saat ini.
"Gue serius, nanya," kata Mentari lagi mengulangi perkataannya. "Buruan bilang, bentar lagi acaranya bakalan mulai," desak Mentari kepada cowok dihadapannya sembari mengecek jam dipergelangan tangannya.
Huft
Mentari menghembuskan nafasnya berat, percuma jika dia memaksa karna waktu begitu mepet, apa lagi Mentari perhatian cowok ini keras kepala.
Dengan terpaksa Mentari menulis di kertas berwarna putih tersebut dengan nama cowok bertopeng. Hal itu dibaca oleh Alvaro. Setelah menulis nama tersebut Mentari langsung keluar dari ruangan tersebut.
Dia juga tidak enak meninggalkan Agas lama-lama seorang diri.
Mentari yang ingin menghampiri Agas ditempat yang tadi menghentikan langkahnya, karna melihat Agas menyeret seorang gadis dengan tidak sabaran keluar.
"Laura?" menolog Mentari. Dia tidak salah lagi, jika yang diseret oleh Agas adalah Laura yang mengenakan gaun berwarna hitam.
"Agas kenapa nyeret Laura kayak gitu?" Mentari bertanya-tanya karena melihat Agas sedikit kasar kepada Laura.
Apa mungkin masih perihal di sekolah? Membuat Agas dendam kepada Laura?
Mentari kembali melangkah kakinya untuk menyusul Agas, dia takut jika cowok itu kasar kepada Laura.
"Lepasin!" berontak Laura karna Agas menyeretnya dengan kasar.
__ADS_1
Agas langsung menghempaskan tangan milik Laura begitu kasar. Saat ini mereka berdua berada didekat perkiraan mobil sehingga tidak banyak yang melihatnya.
Agas melihat kanan kirinya takut jika ada yang melihat dirinya disini, terutama jika yang melihatnya adalah Mentari.
"Jangan pernah ikut campur urusan gue!"
Mentari langsung bersembunyi dibalik mobil, karna sepertinya percakapan antara Agas dan Laura nampak serius membuat Mentari penasaran.
Maafin gue, Gas. Ngintip lo kayak gini.
"Jauhi Mentari!"
Mentari yang disebut namanya langsung terdiam, mengapa pula namanya dibawa-bawa lagi. Mentari rasa mereka berdua tidak membahas perihal disekolah itu.
Agas tersenyum miring kearah Laura. "Jangan mimpi lo!" kata Agas dengan menatap tajam Laura.
"Gue mau kita kembali kayak dulu, Gas!"
Mentari langsung mematung, apa kata Laura? Dia ingin kembali kepada Agas? Itu berarti
"Mereka pernah jalin hubungan?" menolog Mentari kepada dirinya sendiri.
Kali ini Agas tertawa membuat Laura tidak tau apa yang lucu sehingga Agas tertawa seperti ini, padahal dia tidak membuat lelucon apapun.
Sementara Mentari masih melihat Agas tertawa, dia sudah biasa melihat Agas tertawa tapi bukan tawa seperti ini. Mentari rasa tawa Agas menampilkan sesuatu yang selama ini.
Agas meredakan sisa tawanya lalu menatap kembali Laura. "Apa lo bilang? Lo mau balik sama gue?" kata Agas dan dibalas anggukan kepala oleh Laura.
"Awkh!" Ringis Laura saat Agas mencengangkan dagu milik Laura lalu menatap manik mata Laura.
"Lo minta kembali, selama ini lo nggak pandang gue, selama ini lo sia-siain cinta tulus gue ke lo!" Agas masih setia mencengangkan dagu milik Laura.
Perkataan dan tindakan Agas sukses membuat Mentari menutup mulutnya.
"Dengan enaknya lo datang mau kembali dan nyuruh gue buat jauhin Mentari. Nggak semudah itu, Lau. Karna kehadiran Mentari bisa buat gue lupain masa keterpurukan gue saat lo ninggalin gue, bisa ubah gue seperti sekarang ini!" desis Agas lalu melepaskan cengkraman tangannya dari dagu milik Laura.
"Gue sadar, kalau gue salah, Gas. Tapi please, kasi gue kesempatan buat perbaiki hubungan kita. Gue yakin lo masih cinta sama gue," kata Laura dengan yakin memegang tangan Agas.
"Lepas!" sentak Agas membuat Laura terkejut lalu melepaskan tangan milik Agas.
"Gas, selama ini lo nggak pernah bentak gue. Selama ini lo selalu lembut sama gue. Lo yang sekarang bukan Agas yang gue kenal lagi," kata Laura lirih dengan menitihkan air matanya.
__ADS_1