
Mentari dengan cepat bangun dari tempat tidurnya, sepertinya gadis itu kesiangan terbukti saat gadis itu cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi untuk segera mandi.
Sekitar 20 menit mandi, Mentari langsung keluar langsung memakai baju sekolahnya dan juga memakai parfum untuk segera ke sekolah.
Gadis itu memakai sepatunya, sepuluh menit lagi jam pelajaran akan dimulai.
Suara klakson motor dari luar membuat Mentari semakin mempercepat memakai sepatu, dia sudah tau jika orang diluar adalah sosok Agas.
"Pagi, Tar," sapa Agas kepada Mentari.
"Pagi juga, Gas," balas Mentari.
"Maaf, gue kesiangan," kata Mentari memakai helm yang di berikan oleh Agas.
Gadis itu memegang bahu kokoh Agas untuk naik ke atas motor sport milik cowok itu.
"Semalam gue udah ingetin," kata Agas sembari menyalakan mesin motornya meninggalkan pekarangan rumah minimalis Mentari namun terkesan indah dan kreatif karna terdapat banyak bunga asli maupun bunga buatan sendiri.
Agas melajukan motornya atas perintah Mentari, karna gadis itu tidak ingin sampai telat.
Mentari hanya menutup matanya saat Agas melambung mobil di jalanan, gadis itu antara ingin menegur dan tidak. Jika Agas pelan bawa motor sudah dipastikan jika mereka berdua akan telat ke sekolah.
Sehingga Mentari hanya pasrah
Semalam dia naik motor bersama dengan Alvaro dengan kecepatan tinggi dan sekarang pagi ini dia bersama dengan Agas dengan kecepatan tinggi pula.
Saking lajunya Agas membawa motor, tidak butuh waktu lama Agas telah sampai di depan gerbang SMA Bina Marta.
Agas memarkirkann motornya di parkiran sekolah.
Huft
Helaan nafas legah keluar dari mulut Mentari, karna bell sekolah belum berbunyi.
Agas melepaskan helmnya," kalau lo jadi istri gue Tar, nggak bakalan gue izinin lo nanti kerja," kata Agas mengambil kunci motornya.
"Gue mau jadi wanita karir," kata Mentari sembari berjalan untuk segera masuk pekarangan sekolah bersama dengan Agas.
Sedangkan Agas hanya mengedikkan bahunya acuh, jika dia bersama dengan Mentari dia akan memperlakukan Mentari sebagai ratu dalam hidupnya.
"Gimana keadaan, Steven?" Tanya Mentari setelah mereka berdua tiba di ambang pintu.
__ADS_1
Pagi tadi, Agas berinisiatif menjemput Mentari. Karna biasanya gadis itu tidak ingin di jemput jika ke sekolah. Sehingga setiap pagi Agas lebih dulu ke sekolah menunggu Mentari di ambang pintu kelasnya untuk mengucapkan kata selamat pagi untuk Mentari.
Untung saja Agas menjemput Mentari, jika tidak sudah dipastikan jika gadis itu akan telat ke sekolah. Dan itu akan merusak citranya sebagai ketua kelas MIPA 1.
"Dia udah baikan," kata Agas.
Mereka berdua duduk di samping pintu kelas karna terdapat kursi panjang.
"Syukur deh," kata Mentari merasa legah mendengar kabar jika Steven sudah baikan.
"Gue baca group kelas, banyak yang omongin Alvaro," kata Agas," apa benar dia cuman anak sopir?" Sambungnya sembari menatap kedepan melihat anak-anak latihan basket di lapangan.
Mentari melirik Agas," emang lo percaya gosip itu?" Tanya balik Mentari kepada Agas.
Agas juga melirik Mentari, sehingga mereka berdua saling berpandangan.
"Yah, nggak lah," kata Agas dengan tawa kecilnya. Tidak mungkin 'kan jika Alvaro hanya anak seorang sopir sedangkan barang yang dikenakan anak itu barang bermerek.
"Sama kayak gue," kata Mentari dengan senyuman kecilnya.
"Tapi gue dengar kalau bapak-bapak itu ngakuin kalau Alvaro anaknya," kata Mentari masih mengingat pak Farhat memperkenalkan dirinya sebagai orang tua Alvaro, dan saat itu Alvaro tidak protes sama sekali.
Agas sudah tau kejadian dimana orang tua Steven datang ke sekolah meminta jika Alvaro dikeluarkan dari sekolah ini.
"Dia nggak ngebantah perkataan bapak itu, kayak pasrah aja diakuin sebagai anak," kata Mentari lagi membuat Agas menganggukkan kepalanya, sampai sekarang dia juga tidak tau siapa orang tua Alvaro.
"Gas," panggil Mentari.
"Hmm." Agas hanya membalasnya dengan deheman, cowok itu sibuk dengan fikiranya saat ini.
"Tanggapan lo kayak gimana, kepala sekolah nggak bisa ngeluarin Alvaro dari sekolah ini."
Agas melirik gadis disebelahnya, "Lo pengen Alvaro keluar dari sekolah ini?" Kata Agas menaikkan sebelah alisnya menatap Mentari.
"Nggak." Dengan cepat gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Terus?"
"Gue nggak habis fikir aja, kenapa kepala sekolah nggak bisa ngeluarin Alvaro. Padahal orang tua Steven menuntut kalau Alvaro dikeluarin dari sekolah ini."
"Yah....Karna Alvaro salah satu murid terpintar disekolah ini," jawab Agas santai.
__ADS_1
"Setelah lo," sambungnya dengan senyuman melekat di wajahnya.
Kini giliran Mentari yang mengedikkan bahunya dengan perkataan Agas membuat Agas mengacak rambut gadis itu dengan gemas.
"Bell sekolah belum bunyi?" Bingung Mentari karna bell sekolah belum berbunyi. Sedangkan teman sekelasnya sudah berada di kelas menunggu guru masuk pagi ini mengajar.
"Kayaknya ada rapat lagi," kata Agas.
"Tar, kalau gitu gue balik ke kelas dulu, soalnya gue belum ngerjain tugas," kata Agas beranjak dari kursinya.
Mentari tersenyum meremehkan Agas," kerja tugas kok di kelas," ejek Mentari membuat Agas mencubit pipi gadis itu.
"Gue ke kelas dulu, jam istirahat gue jemput," kata Agas dan di balas anggukan kepala oleh Mentari.
Mentari memandang punggung kokoh milik Agas yang sudah memasuki kelas IPS. Mentari tersenyum samar lalu masuk kedalam kelasnya.
Mentari melihat ke arah penjuru kelas untuk melihat apakah ada teman sekelasnya alpa bolos dan minta izin.
"Alvaro mana?" Gadis dengan rambut sebahu sedikit panik karna tidak melihat Alvaro di kursinya.
"'Kan Alvaro di scorsing," sahut salah satu teman sekelas Mentari membuat gadis itu menepuk jidatnya. Dia sudah menjadi pikun.
Dia tersenyum kecut berjalan ke kursinya, itu berarti semalam dia kena tipu oleh Alvaro. Karna gadis itu sampai lupa jika Alvaro di scorsing.
***
Alvaro memasuki lift untuk segera turun kelantai bawah, pagi ini dia akan ke salah satu tempat.
Cowok itu mengemudikan mobilnya keluar dari pekarangan mansion, cowok itu sepertinya buru-buru terlihat saat dia membawa mobil seperti ikan yang ditinggali air.
Alvaro sampai di salah satu tokoh lukisan, dia langsung turun untuk mencari perlengkapan lukisan.
"Kak Al."
Alvaro yang ingin mengambil kanvas langsung terhenti, karna suara lembut memanggil namanya. Dia membalikkan badannya dan sudah melihat sosok gadis dengan jepitan rambut berwarna pink menghiasi rambutanya sedang menatapnya dengan kuas berada di tangannya.
Ini yang kedua kalinya Bulan bertemu dengan Alvaro di tokoh lukisan, apakah ini hanya kebetulan saja atau apa?
"Kak Al suka ngelukis?" Tanya Bulan yang di hiraukan oleh Alvaro.
Cowok itu mengambil kanvas lalu berjalan ke kasir, mengabaikan Bulan yang sedang menatapnya dan bertanya kepadanya.
__ADS_1
Bulan tersenyum manis menatap punggung Alvaro, sepertinya sosok Alvaro sangat sulit di dekati.