
Mentari turun dari motor tukang ojek, lalu membayarnya. Tak lupa pula gadis itu mengucapkan kata Terimaksih kepada pak tukang ojek itu.
Gadis itu berjalan masuk kedalam sekolah. Dia berjalan di koridor sekolah untuk segera menuju kelas.
Mentari tersenyum hangat saat melihat Agas menyandarkan tubuhnya di tembok dekat pintu masuk kelas MIPA 1.
Hal ini ini merupakan hal biasa yang di lakukan Agas untuk Mentari. Bahkan, Agas lebih dulu ke sekolah dibandingkan Mentari.
Dia sengaja, agar dia bisa mengucapkan kata selamat pagi untuk Mentari secara langsung di sekolah.
Agas melihat kearah samping saat mendengar derap langkah kaki menuju kesini, dia yakin jika dia adalah Mentari.
Benar saja, gadis itu adalah Mentari.
Agas memasukkan tanganya di kedua kantong celananya lalu menghampiri Mentari.
''Pagi, Tar!'' sapa Agas dengan senyumannya yang manis.
Mentari membalas senyuman cowok yang yang penampilannya ke sekolah selalu saja rapi. Mulai dari dasi yang rapih hingga baju sekolah dia masukkan kedalam celananya.
''Pagi juga, Agas,'' balas Mentari.
''Udah sarapan?'' tanya Agas dan dibalas gelengan kepala oleh Mentari.
Dia tidak sempat sarapan karna buru-buru menuju kedai Runi tadi pagi, hanya untuk membuatkan pesanan Alvaro.
''Yaudah, kita ke kantin,'' ajak Agas.
''Tap—''
‘’Nggak ada penolakan!'' potong Agas dengan cepat menggandeng tangan Mentari untuk segera menuju kantin.
Mentari hanya ikut saja, karna dia juga lapar. Dia sempat ingin menolak, karna ingin mencari keberadaan Alvaro.
Jangan sampai cowok itu alpa atau sampai bolos yang akan membuat Mentari pusing.
***
Dua motor sport yang motifnya hampir sama masuk kedalam SMA Bina Marta, para murid yang berjalan masuk memberikan jalan untuk kedua motor sport hitam itu. Mereka berdua menggunakan helm fullfecnya lalu memarkirkan motornya di parkiran.
Renal membuka helmnya lalu mengacak rambutnya dan menatap wajahnya di kaca spion motor. ''Gue cakep juga,'' gumam cowok itu.
Sementara Alvaro sudah turun dari motor sport miliknya seraya menyampirkan tasnya. Cowok itu berjalan dengan raut wajah seperti biasa.
Yaitu wajah datar nan dinginnya.
__ADS_1
Matanya yang tajam bak elang mampu menghipnotis siapapun yang melihat bola matanya sekaligus takut dengan tatapannya.
Renal masih setia bercermin, dan mengangkat kepalanya dan melihat Al sudah berjalan lebih dulu.
Dengan cepat cowok itu turun dari motornya.
''Woi, Al! Tungguin gue!'' teriak Renal mengejar langkah kaki Al yang sudah sedikit jauh.
''Main pergi aja lo, Al!'' desis Renal setelah mampu mengsejajarkan langkahnya dengan Alvaro.
Dia mengatur nafasnya karna berlari mengejar Alvaro.
Ucapan Renal tentunya tidak di gubris oleh Alvaro, dia masih setia berjalan di koridor sekolah.
''Mungkin gue tampan, sehingga seluruh tatapan cewek menuju ke gue, heheh,'' gumam Renal yang masih di dengarkan oleh Alvaro.
Alvaro bergedik ngeri dengan ucapan Renal tadi, perlu dia akui jika cowok yang berjalan di sampingnya memamg tampan dan mempunyai wajah baby Face.
''Itu siapa sih? Yang jalan sama kak Al, dia ganteng banget mana mukanya cute banget lag!''
''Gue sampai insecure sama wajahnya yang putih mulus!''
''Akh!! Ganteng banget sih dia!''
''Dia siapa sih!''
Renal semakin besar kepala saat di puji oleh cewek-cewek yang berada di koridor. Dia sudah menduga jika kehadirannya akan di sambut oleh pujian cewek-cewek cantik.
''Kak Al juga makin tampan dan keren!''
''Tatapanya kak Al buat gue jatuh cinta!''
Mereka semua memuji ketampanan Renal dan juga Alvaro yang berjalan di koridor sekolah.
''Kak Al wajahnya makin tampan, ada bekas luka dia tambah maco!''
''Andaikan kak Al nggak menyeramkan, mungkin banyak dari kita mengirimkan pesan misterius sama kak Al, termasuk gue!''
Tentu saja Renal dan Alvaro mendengar pujian tersebut. Hal itu sudah biasa untuk Alvaro, di puji karna ketampanan.
Alvaro tersenyum menyeringai. ''Lo memang, tampan, tapi gue lebih tampan dan menarik,'' jelas Alvaro lalu membelokkan langkahnya menuju gudang sekolah.
''Lo terkenal juga ya, di sekolah ini.'' Renal manggut-manggut.
''Gue akui lo lebih berkharisma daripada gue, tapi senyuman gue bisa luluhin hati orang,'' celetuk Renal. ''Emangnya lo nggak bisa senyum.''
__ADS_1
Ucapan Renal yang terakhir membuat Al hanya meliriknya dengan datar. Entah mengapa dia mau berbicara hal yang tidak penting kepada cowok yang baru saja dia kenal, sebagai utusan papahnya.
Mereka berdua melangkah masuk kedalam gudang.
''Ini kelas atau gudang ?'' Renal bergedik ngeri melihat tempat yang di datangi oleh Alvaro.
''Yang nyuruh lo ikutan sama gue siapa? Gue nggak bakalan ke kelas!'' dingin Alvaro duduk di kursi usam.
''Lo lupa kalau gue ini utusan papah lo, buat awasin lo, termasuk di sekolah, lo masuk kelas atau nggak!'' tegas Renal sehingga mereka berdua bertatapan.
''Nggak usah liatin gue kayak gitu, gue senyumin lo Al, lo bakalan suka sama gue. Gue khawatir aja kalau lo suka sama sesama cowok!'' Memikirkan itu membuat Renal bergedik ngeri sendiri.
Alvaro menghembuskan nafasnya berat, belum ada 24 jam Renal di dekatanya, dia sudah mendengar celoteh cowok itu dari A sampai Z.
''Lo berisik!'' decak Alvaro membuat Renal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
''Makanya ke kelas!'' ajak Renal seraya melihat jam di pergelangan tanganya. ''Lima menit lagi jam masuk.''
Renal tentu saja tau jam berapa SMA Bina Marta masuk. Itu semua sudah di beritahukan kepada Frans.
Frans sudah menghubungi pihak kepala sekolah untuk Renal di tempatkan di kelas sama dengan Alvaro.
Tentu saja hal itu bukan hal sulit untuk kepala sekolah.
''Gue mau di sini,'' dingin Alvaro seraya mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.
''Buset Al, lo mau ngerokok di lingkungan sekolah?'' Renal menggelengkan kepalanya melihat Alvaro dengan santainya membakar rokok di tanganya.
Alvaro mulai menyesap rokoknya, tentu saja di perhatikan oleh Renal.
''Enak, ya, Al, ngerokok,'' cetus Renal.
''Yang di hisap asap, yang keluar beban pikiran,'' lanjut Renal membuat Alvaro langsung melirik Renal.
Ucapan Renal barusan membuat Alvaro mengangguk setuju. Begitulah Al, jika dia mempunyai banyak beban pikiran jalan satu-satunya adalah merokok.
''Lo nggak ngerokok?'' tanya Al santai seraya menghisap rokoknya dengan nikmat.
Dengan menghisap rokok, mampu membuat dia melupakan sedikit beban pikirnya, meski semuanya tidak permanen.
Renal terdiam sejenak lalu kemudian menggelengkan kepalanya. ''Gue masih sayang sama paru-paru gue,'' jawabnya dengan santai.
‘’Terus, kenapa bisa lo tau?''
''Apa?'' tanya balik Renal.
__ADS_1
‘’Bicara lo yang tadi.''
Renal tertawa kecil. ''Gue lihat di stori teman wa kayak gitu, mereka hisap asap rokok yang keluar beban pikiran,'' ucap Renal dengan tawa kecil.