
Agas diam!
Membuat Steven menarik sudut bibirnya, setidaknya ada Alvaro yang berhasil mengalahkan Agas.
''Kalau suhu ngomong itu di dengerin,'' ucap Renal seraya menyugar rambutnya ke belakang.
Steven menatap Renal dengan tatapan garang. Cowok itu sangat cerewet, itu yang di pikir oleh Steven dan Agas.
''Cerewet lo! Mulut lo ngalahin mulut cewek!'' desis Steven membuat Renal memanyunkan bibirnya kearah cowok itu.
Tindakan Renal membuat mereka menatapnya dengan tatapan ngeri.
''Najis lo! Taik!'' gerundel Steven kearah Renal.
''Tar, ada tensi nggak?'' tanya Renal membuat Alvaro menaikkan alisnya sebelah.
Buat apa Renal mencari tensi, ada-ada saja cowok itu.
''Ngapain cari tensi?'' tanya Alvaro dingin.
‘’Gue mau tensi darah nih anak. Siapa tau aja dia darah tinggi, setelah ngobrol sama gue!'' sembur Renal membuat teman sekelas Mentari tertawa.
Sementara Mentari masih menatap Alvaro, ini pertama kalinya Alvaro menimpali obrolan mereka.
Apa yang di katakan oleh Alvaro memang ada benarnya, jika Disini bukan kawasan anak ips melainkan kawasan anak IPA.
‘’Tumben Alvaro ngomong panjang,'' gumam teman kelas Mentari.
''Apa lo, Hah!'' marah Steven maju satu langkah, ingin mencengkeram kerah baju milik Renal.
''Steven!''
Suara tegas nan galak itu mampu membuat pergerakan Steven terhenti.
''Gawat! Ada ibu!'' sahut teman sekelas Mentari, sehingga mereka semua di dalam kelas, memperbaiki duduknya setelah kedatangan ibu Risma yang merupakan kepala sekolah SMA bina Marta, sekaligus wali kelas anak IPA.
Kepala sekolah melihat wajah murid yang sungguh, tidak asing bagi penglihatanya. Mereka berlima tengah berdiri di ambang pintu kelas.
Terlebih dahulu ibu Risma memperbaiki kacamatanya yang melorot. ''Steven, mau berantem lagi kamu, Hah!'' marah kepala sekolah.
Steven hanya diam, tidak membalas ucapan kepala sekolah, namun matanya menatap tajam kearah Renal.
Lalu kemudian kepala sekolah melirik Agas. ''Kamu juga, Agas. Bukanya kamu di kelas IPS. Kenapa ada di kelas IPA, Hah!'' ocehnya kepada Agas.
''Kalian berlima ini, mengadakan rapat sama anak ips atau apa!''
''Lagi bersaing, bu.'' Kini Renal yang angkat bicara.
__ADS_1
Membuat Mentari dan ketiganya melirik Renal, dengan alis berkerut.
''Bersaing apa Renal?'' tanya kepala sekolah.
Renal terseyum kearah kepala sekolah. ‘’Bersaing buat dapetin ketua kelas IPA,'' jawab Renal dengan santai. ‘’Sebenarnya saya ingin bersaing dengan Steven, Agas dan Alvaro. Namun saya memilih mundur, karna saya tau, saingan saya ada Alvaro. Tentunya dia akan menang.'' Jelas Renal, ada sedikit tersirat singgungan kecil untuk Steven dan Agas.
Mentari menggelengkan kepalanya, setiap perkataan Renal yang keluar dari mulutnya, selalu saja ngawur.
‘’Persaingan? Maksud lo?'' tanya Agas dengan nasa suara naik beberapa oktaf.
''Yah, persaingan buat dapetin, Mentari,'' balas Renal.
''Gue yang bakalan dapetin, Mentari!'' ucap Steven sehingga Agas langsung melirik cowok itu dengan tatapan tajam.
‘’Jangan pernah macam-macam!'' desis Agas.
Steven dan Agas saling bertatapan dengan sengit. ''Laura aja bisa gue rebut dari, loh. Apa lagi kalau cuman Mentari,'' ucap Steven dengan menekan kata ‘Cuman' membuat Agas mengepalkan tanganya.
‘’Nggak bakalan gue biarin lo rebut milik gue!''
''Ngomong apa kalian ini!''
''Agas dan Steven, kamu balik ke kelas kamu!''
''Sekarang! Tanpa bantahan!'' ucap Kepala sekolah.
''Agas,'' panggil kepala sekolah.
Langkah kaki milik Agas terhenti. ''Jangan berantem. Awas kalau kamu berantem lagi sama Steven!'' ancam kepala sekolah.
Agas hanya mengangguk kecil, lalu melanjutkan langkah kakinya.
‘’Kenapa malah bengong, Mentari.'' Mentari langsung tersadar dari lamunanya.
Ucapan Steven tadi, mampu membuat otaknya menjadi dejavu.
''Maaf, bu.'' Mentari langsung kembali ke tempat duduknya.
''Ngapain kalian berdua masih di situ? Mau jadi satpam, Hah!'' gerundel bu Risma.
''Nggak bu. Yakali cowok setampan Renal dan Alvaro mau jadi satpam,'' balas Renal, lalu menarik tangan Alvaro untuk menuju kursi mereka.
Kepala sekolah menarik nafasnya panjang. ''Sabar, Risma. Tidak lama lagi, mereka akan lulus dan akan pergi dari sekolah ini,'' menolognya pada dirinya, sendiri lalu pergi meninggalkan kelas IPA.
Dia sengaja keliling kelas, untuk melihat apakah ada murid-murid ada yang nongkrong depan kelas, karna guru-guru hari ini telat masuk.
Dia sempat terkejut, saat melihat kelas ipa. Ada tiga brandalan SMA yang sedang berkumpul di depan ambang pintu. Dan ditambah lagi dengan kehadiran Renal.
__ADS_1
Risma baru tau, jika Renal merupakan utusan dari Frans, untuk memantau apa saja yang di lakukan Alvaro di sekolah.
Saat mengetahui hal itu, kepala sekolah memijit pelipisnya. Karna tanggung jawab Mentari di kelas semakin banyak, apa lagi dengan di tambahnya Renal di kelas IPA.
Mentari masih bengong sendiri.
''Apa benar Steven suka sama gue?'' gumamnya seraya memejamkan matanya.
Jika itu terjadi, maka Agas tidak akan tinggal diam. Jika Mentari akan di rebut oleh orang lain, apa lagi jika cowok itu adalah Steven.
‘’Tenang Mentari, mungkin aja Steven bilang kayak gitu. Cuman buat manas-manasin Agas doang.'' Jauh di dalam lubuk hatinya, Mentari berharap jika Steven tidak benar-benar menyukai dirinya.
Dia tidak ingin semakin pusing, cukup Agas yang menbuatnya berpikir keras mengenai perasaanya.
🦋
''Gas,'' panggil Laura, menghampiri Agas yang sedang memasukkan peralatan bukunya kedalam tas, karna bel pulang sekolah sudah berbunyi.
Agas tidak melirik Laura, dia langsung meninggalkan gadis itu di dalam kelas. Laura tidak tinggal diam, dia mengikuti Agas dari belakang.
''Gas, antar gue pulang,'' ucap Laura, dia mengikuti Agas sampai parkiran, dimana Agas sedang menyimpan motor sport merah miliknya.
''Lo siapa nyuruh gue antar lo pulang?'' tanya balik Agas, dengan nasa suara tidak suka.
''Mentari!'' panggil Agas, seraya melambaikan tanganya, kearah Mentari yang sedang berpisah dengan Dado dan Tamara, karna mereka pulang naik mobil.
Mentari tersenyum, lalu berjalan menuju kearah Agas. Mentari baru melihat, jika ada Laura di sini.
Laura mengapalkan tanganya, melihat Mentari di sini.
‘’Dasar gatal!'' Laura langsung mendorong tubuh Mentari.
''Laura!'' geram Agas.
Untung saja seseroang menangkap tubuh Mentari, jika tidak maka gadis itu akan jatuh kebawah tanah di saksikan oleh banyak orang.
‘’Makasih,'' ucap Mentari kepada Steven.
''Sama-sama,'' balas cowok itu.
Agas langsung menarik tangan Mentari, agar jauh dari sosok Steven. Apa lagi saat dia tahu, jika Steven menginginkan Mentari juga.
Steven hanya tersenyum remeh kearah Agas.
''Buat apa lo nolongin cewek kayak dia!'' mrah Laura kepada Steven.
‘’Karna gue suka sama dia,'' jelas Steven membuat Laura semakin membenci Mentari.
__ADS_1
Ucapan Steven membuat Mentari menggelengkan kepalanya. Nggak…Nggak boleh kalau Steven benar-benar suka sama gue!