Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Lukisan, Laura


__ADS_3

Sementara Mentari fokus kepada cowok yang menggunakan topeng, bola matanya sangat tidak asing untuk dilihat oleh Mentari. Dia seperti selalu bertatapan dengan bola mata tersebut.


Pembawa acara malam ini jalan-jalan melihat lukisan para peserta malam ini yang sudah tiga puluh menit memulai melukis.


Pembawa acara tersebut menggelengkan kepalanya, saking cantiknya seluruh lukisan para peserta malam ini.


"Sepertinya malam ini bakalan menjadi perlombaan yang sangat sengit," kata pembawa acara tersebut. Ada empat jenis lukisan yang dia lihat tadi sangat menarik dimatanya.


Steven kembali melirik lukisan milik Laura yang sudah melukis rambutnya. Steven tersenyum simpul saat melihat bentuk lukisan tersebut. Wajah seseorang yang tidak asing bagi Steven lagi.


"Buat apa kamu lukis wajah cowok lain, kalau aku sebagai pacar kamu ada disini, Lau," kata Steven membuat Laura berdecih kearah Steven.


"Ingat yah, kita udah nggak punya hubungan," Laura berkata dengan penuh penekanan membuat Steven tidak menghiraukan perkataan Laura.


"Kamu nggak lihat, lukisan aku ada wajah kamu sama wajah gue," kata Steven sehingga Laura melirik kearah lukisan Steven. Benar saja, cowok itu membuat lukisan wajah Laura yang tengah tersenyum serta wajah Steven yang tertawa.


Tak dipungkiri, lukisan milik Steven membuat Laura menyukainya. Apa lagi mereka berdua mempunyai hobi yang sama, yaitu suka seni lukis meski mereka bukan dari kelas seni.


"Gue nggak peduli," kata Laura lalu fokus kembali pada lukisannya yang sedikit lagi akan segera selesai.


"Tapi gue yang peduli, Lau," balas Steven yang tidak digubris oleh Laura lagi.


Sementara Bulan tengah sibuk memperbaiki lukisannya, dia menggambar sebuah rumah yang sedikit suram seperti rumah yang tidak berpenghuni, memang kenyataannya seperti itu.


Dia fokus apa saja yang perlu dia benahi untuk lukisannya, dia memberikan bunga-bunga disampingnya dengan berwana hitam dan juga merah.


Membuat lukisan gadis itu nampak seram.

__ADS_1


Sementara Vita tengah sibuk melukis pemandangan pegunungan serta rumah warga yang terbuat dari jerami serta tumbuhan-tumbuhan dipinggirnya seperti sayur-sayuran, Lombok dan juga buah-buahan.


Sementara Alvaro tengah menggambar sebuah bangunan. Lebih tepatnya lagi dia menggambar sebuah sekolah yang sangat elegan seperti nyata saja lukisan yang dia buat.


Dia melukis sekolah tersebut, tak lupa pula dia melukis murid-murid yang berlalu lalang didekat sekolah membuat lukisannya seperti hidup saja.


Sementara yang lainnya juga sibuk melukis untuk memenangkan perlombaan, meski dia tidak yakin karna mendapatkan peserta tambahan bulan ini yaitu sosok gadis bernama Vita dan Bulan.


Laura melihat kearah depan, dimana para orang-orang sedang menonton lalu matanya tertuju kepada Agas yang tengah bercanda riah dengan Mentari membuatnya semakin memanas melihat kedekatan mereka berdua.


"Lo harus kembali sama gue, Gas," gumam Laura menekan pensilnya diatas kanvas melihat kedekatan Mentari dan juga Agas.


"Sisa tiga menit lagi waktu tersisa!" kata pembawa acara tersebut agar seluruh peserta segera menyelesaikan lukisannya karna sebentar lagi akan selesai.


Apa lagi bukan hanya acara melukis malam ini, dimana ini pertama kalinya dalam lomba melukis diadakan dansa bersama didalam hotel ini, tempat dimana perlombaan dilangsungkan setelah acara melukis telah usai.


"Waktunya telah habis!"


Juri malam ini ada sekitar tiga orang, sudah termasuk Frans, dan juga papah Bulan bernama Akbar serta pembawa acara malam ini yang menggantikan juri yang malam ini berhalangan untuk datang.


Mentari tersenyum bangga kepada seluruh peserta malam ini, andai saja dia pandai melukis seperti mereka yang berada diatas, dia akan bangga kepada dirinya sendiri.


Melihat bakat mereka membuat Mentari bertanya-tanya apakah mereka pandai melukis sejak lahir? Jujur saja, Mentari sangat suka seseorang yang terjun dalam dunia kesenian.


Andaikan saja dia pandai melukis, dia pastikan dia tidak akan berada dikelas MIPA, sudah pastinya dia berada dikelas seni yang berpenghuni hanya beberapa murid saja.


Mentari sangat kagum kepada gadis yang sudah melabraknya itu bernama Laura yang pandai melukis dari kelas IPS. Nama Laura pastinya sudah tidak asing lagi di SMA Bina Marta.

__ADS_1


Apa lagi Steven yang sudah terkenal mahir dalam dunia seni melukis dari kelas IPS. Bahkan, dari kelas IPA tidak ada yang pandai melukis, begitu yang dipikirkan oleh Mentari, karna belum pernah ada anak MIPA ikutan lomba melukis seperti ini.


Entahlah, andaikan Mentari berada diposisi Laura dan juga Steven dia akan mengambil kelas seni lukis ketimbang kelas IPS. Namun, itu kembali pada diri sendiri, karna kita yang akan menjalankan semuanya.


Seluruh peserta malam ini berdiri dan menghadap ke depan kepada seluruh penonton.


"Kita wawancara gadis yang menggunakan dres berwarna hitam terlebih dahulu," kata host tersebut berjalan kearah Laura yang menggunakan dres berwarna hitam yang sangat pas untuk kulitnya yang putih.


"Bisa memperkenalkan diri dan juga asal sekolah," kata host tersebut memberikan mice kepada Laura. Gadis itu mengambil mice yang diberikan oleh host tersebut.


"Selamat malam, perkenalkan nama saya Laura dari sekolah SMA Bina Marta kelas IPS!" Laura memperkenalkan nama dan juga asal sekolahnya tak lupa memperkenalkan nama kelasnya sehingga mendapatkan tepukan meriah oleh para orang-orang dalam ruangan ini, Mentari tak kalah semangatnya memberikan tepuk tangan untuk Laura.


Sementara Agas hanya diam saja tanpa berniat untuk memberikan tepuk tangan kepada Laura.


"Kalau boleh tau, kamu melukis apa?" tanya host tersebut sehingga dua orang berbadan kekar naik keatas panggung membawa lukisan milik Laura.


"Saya melukis wajah seseorang," kata Laura dengan lantang sehingga kembali menciptakan tepuk tangan. Mereka semua penasaran, wajah siapa yang dilukis oleh Laura terutama teman satu sekolahnya yang penasaran.


"Wow!" host tersebut takjub dengan apa yang dikatakan oleh Laura, jika dia melukis wajah seseorang.


"Apakah kamu saja melukis wajah seseorang itu, apa orang itu spesial dalam kehidupan kamu?" tanya host tersebut membuat Laura mengangguk tanda setuju.


memang kenyataannya seperti itu, dia melukis wajah seseorang itu karena dia bagian dalam kehidupannya.


"Kita bisa lihat lukisan yang dibuat oleh Laura!" kata host tersebut sehingga lukisan milik Laura langsung menghadap kedepan kearah parah penonton.


Semuanya langsung terkejut melihat wajah seseorang dalam lukisan Laura, meski hanya sebuah lukisan namun lukisan milik Laura nampak hidup mereka bisa dengan jelas melihat jika berada dalam lukisan tersebut adalah sosok Agas yamg yang dekat dengan Mentari.

__ADS_1


Bahkan Mentari mematung seketika melihat wajah yang dilukis oleh Laura, wajah Agas yang tersenyum membuat hati Mentari terhenyuh.


Sementara Agas yang melihat wajahnya yang dilukis oleh Laura mengepalkan kedua tangannya sembari menatap tajam Laura diatas panggung.


__ADS_2