Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Perintah ibu Silva


__ADS_3

Agas masuk kedalam kelasnya. Dia melihat sekeliling kelasnya tidak ada Steven, kemana dia? Agas tidak ingin ambil pusing, dia berjalan ke tempat duduknya seraya menunggu guru mapel untuk masuk kedalam kelas.


Ting


Ponsel milik agas berbunyi, didalam saku baju sekolahnya. Dia mengambil ponselnya dan tersenyum melihat pesan itu dari Mentari.


“Gas, Sorry. Kita nggak makan bareng tadi. Soalnya aku ada urusan.”


Agas tersenyum simpul membaca pesan dari Mentari. Tanganya bergerak membalas pesan Mentari, namun pesan Mentari terlebih dahulu masuk kembali.


“Gas, lo udah makan kan?”


Tidak bisa di sembunyikan, Agas kembali tersenyum membaca pesan sederhana dari Mentari.


“Gue udah makan, Tar.”


Ting


Mentari membuka pesan wa dari Agas.


“Kalau lo udah makan belum?”


Tangan lentik milik Mentari bergerak membalas pesan Agas. “Udah, Gas.”


“Gas, entar pulang sekolah bareng yah.”

__ADS_1


Tring


Agas kembali tersenyum saat Mentari mengajaknya pulang bareng. Sedetik kemudian, senyumnya luntur. Dia memegang sudut bibirnya yang masih pedih bekas baku hanyam dengan Steven kemarin.


Jika dia pulang bersama Mentari, sudah di pastikan gadis itu akan menginterogasi dirinya berkelahi dengan siapa lagi. Dan yang pastinya, Mentari akan kecewa kepada dirinya karna dia berantem lagi.


Namun jika dia menolak, sama saja dia membuang kesempatan yang diberikan oleh Mentari.


Mentari yang sedari tadi menunggu balasan chat Agas merasa tidak enak. Sudah centang biru namun Agas belum juga membalasnya.


Mentari kembali mengetik pesan. “Kalau nggak bisa, nggak apa-apa Gas.”


Pesan Mentari langsung dilihat oleh Agas.


“Nggak, Tar, kita bakalan pulang bareng. Lo tau nggak, gue senang saat lo ngajakin gue pulang bareng,” jujur Agas membuat Mentari tersenyum bahagia.


“Gas, gue off dulu. Guru yang ngajar udah masuk.”


“Dadah Agas.”


“Sampai jumpa di parkiran.”


Pesan dari Mentari membuat sudut bibir Agas yang terluka tersenyum. Jika dulu dia mencintai Laura begitu dalam, kini dia pastikan jika dia mencintai Mentari lebih dalam lagi. Baginya, cintanya kepada Laura dulu tidak ada apa-apanya di bandingkan cintanya sekarang kepada Mentari.


“Gue nggak salah mencintai lo dari dulu, Tar,” gumam Agas lalu memasukkan ponselnya kedalam saku seragamnya.

__ADS_1


Guru yang mengajar di kelas IPS telah masuk, sehingga murid-murid langsung mengeluarkan pulpen dan juga bukunya.


Tidak lama itu, Steven menyusul. Dia sempat melirik Agas sejenak lalu duduk ditempat duduknya.


Kursinya dengan Agas bersebelahan.


Guru yang mengajar hari ini. Merupakan wali kelas IPS yang bername tag Silva.


“Agas, Steven,” panggil ibu Silva.


“Iya bu,” sahutnya bersamaan.


“Kalian berdua berantem?” terang ibu Silva melihat luka mereka.


Agas dan Steven hanya diam saja.


Seluruh tatapan didalam kelas langsung tertuju pada Agas dan Steven. Benar saja, jika wajah mereka berdua dan sudut bibirnya sama-sama luka.


“Kalian ini.”


“Kamu Steven, satu minggu yang lalu kamu berkelahi dengan Alvaro dan sekarang kamu berkelahi dengan Agas lagi.”


“Dan kamu juga Agas, kamu sudah berkelahi dengan Alvaro dan sekarang bersama Steven lagi.”


“Kamu ketua kelas, Agas. Seharusnya kamu harus memberikan contoh yang baik kepada teman kelas mu. Apakah berkelahi merupakan contoh yang baik dari ketua kelas untuk teman kelasnya?”

__ADS_1


Agas menggelengkan kepalnya.


“Kalian berdua saling minta maaf.”


__ADS_2