
Pukul tujuh malam, Mentari meregangkan otot-otot tubuhnya. Membantu orang tuanya sehabis pulang sekolah sampai sekarang membuatnya capek. Bagaimana dengan ibunya yang bekerja setiap malam demi membiayai sekolah dan juga kebutuhannya.
Pengunjung kedai semakin ramainya, membuat Mentari enggan untuk meninggalkan orang tuanya sendiri disini. Karna pengunjung makin ramai!
"Mah," panggil Mentari saat Runi mencuci gelas, sementara dia membersihkan meja tempatnya meracik Coffe pesanan pengunjung.
Runi melirik putrinya itu. "Kalau mau pergi udah pergi aja, Tar. Nggak usah mikirin mama disini. Mamah bisa ngerjain semuanya," kata Runi sembari tersenyum membuat Mentari semakin tidak enak meninggalkan Runi, saat melihat senyuman tulus orang tuanya itu.
"Tapi Mah...."
"Kamu nggak kasihan lihat, Agas? Dia rela nungguin kamu, loh," kata Runi menyimpan gelas ditempatnya.
Runi tau, jika putrinya itu tidak tega meninggalkan dirinya bekerja disini. Namun Runi juga kasihan jika putrinya itu tidak ikut menonton perlombaan malam ini.
Mentari melirik Agas yang tengah minum teh, karna dia tidak menyukai Coffe.
"Yaudah," kata Mentari lesuh dan dibalas senyuman hangat sang mamah.
"Gas!" panggil Mentari sehingga Agas melirik Mentari. "Pulang yuk. Gue mau mandi baru pergi nonton," lanjutnya dan dibalas anggukan kepala semangat oleh Agas.
Runi berjalan ke kasir karna pengunjung kedai sudah ingin membayar. Hingga tiba saatnya Alvaro membayar pesanannya.
"Berapa?" tanya cowok itu dingin, singkat, padat nan jelas sembari mengeluarkan uang seratus dari dompetnya.
Runi tersenyum melihat sikap Alvaro, sosok cowok itu mengingatkannya kepada suaminya.
"45," jawab Runi dan diberikan Alvaro uang seratus.
"Saya simpan lebihnya." Alvaro Langsung pergi meninggalkan kasir tanpa menunggu balasan Runi membuatnya menggelengkan kepalanya.
Benar-benar seperti sikap mu, Mas. Batin Runi mengingat suaminya yang telah pergi meninggalkan mereka.
Agas memasangkan Mentari helm untuk segera mengantar gadis itu untuk pulang kerumahnya.
"Tambah cantik aja," puji Agas membuat Mentari menggelengkan kepalanya. Pujian dari Agas sudah tidak asing lagi bagi telinga Mentari.
Agas langsung meninggalkan kedai sederhana milik Runi, sementara Alvaro yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua hanya memasang raut wajah datar.
Entah mengapa dia ingin melihat itu semua, padahal dia orangnya sangat masa bodoh terhadap sesuatu, termasuk mengenai perempuan.
Alvaro melangkahkan kakinya keluar lalu memasang helm fullfecnya. Dia menyalakan mesin motornya untuk segera pergi. Tujuannya dengan Mentari sama, yaitu ingin menonton perlombaan melukis.
Hanya saja, Mentari sebagai penonton sementara Alvaro ingin mengikuti sesuatu.
__ADS_1
Alvaro singgah disalah salah satu butik membuat pemilik butik tersebut menyambut Alvaro dengan senyuman hangat.
"Udah siap?" tanya perempuan dengan usianya sekitar 40 tahun.
Alvaro melirik wanita itu yang masih nampak cantik diusianya yang sudah tidak mudah lagi.
Alvaro mengangguk kecil membuat wanita itu langsung tersenyum. Dia berjalan kearah lemari mengambil setelah tuxedo berwarna navi untuk Alvaro.
"Kamu ganti didalam," kata wanita itu dan dibalas anggukan kepala oleh Alvaro.
Sekitar sepuluh menit, akhirnya Alvaro keluar dari ruangan ganti.
Wanita tersebut menatap Alvaro yang mengenakan setelan tuxedo berwarna navi. Dia tersenyum kearah Alvaro yang memasang wajah mimik datar.
"Tampan sejak dini," menolog wanita tersebut melihat ketampanan milik Alvaro.
Alvaro duduk dikursi dengan wanita pemilik butik tersebut menyisir rambutnya dengan senyuman.
"Kamu nggak takut, jika papah kamu tau kamu ikutan?" tanya pemilik batik tersebut sembari memberikan minyak rambut untuk rambut hitam legam milik Alvaro.
"Dia tidak berhak," hanya kata itu saja dikeluarkan oleh Alvaro membuat pemilik batik tersebut menggelengkan kepalanya.
"Tentu saja dia punya hak," katanya kepada Alvaro. "Dia orang tua kamu, dia yang memelihara kamu sedari kecil, semenjak mamah kamu pergi meninggalkan kamu," lanjutnya menatap wajah tampan milik Alvaro dicermin.
Terdengar helaan nafas berat keluar dari mulut Alvaro.
"Dia nggak dukung apa yang Alvaro sukai," kata Alvaro mengingat jika hobinya itu ditantang oleh papahnya sendiri.
Alvaro juga tidak tau, jika papahnya melarangnya untuk melukis buat apa dia menjadi salah satu donatur terbesar lomba melukis?
Dia mendukung anak muda sekarang untuk selalu berkarya, sementara dirinya tidak sama sekali. Bahkan sangat ditantang oleh Frans.
Pemilik butik tersebut tidak membalas perkataan Alvaro lagi, jika menyangkut hal seperti ini dia tidak bisa memberikan saran kepada Alvaro.
"Sudah selesai." Alvaro menatap wajahnya dicermin. Wajah datarnya sendiri, bahkan Alvaro sangat heran kepada dirinya sendiri yang tidak mudah tersenyum, tertawa selucu apapun itu.
"Makasih," kata Alvaro membuat pemilik butik tersebut mengangguk kecil.
Alvaro keluar dari butik tersebut dengan pemilik butik itu berada diambang pintu. Alvaro menyalakan mesin motornya lalu melirik pemilik butik tersebut yang sedang menatapnya.
Alvaro mematikan mesin motornya. "Kau tidak ingin menonton?" tanya Alvaro membuat pemilik butik tersebut menatap Alvaro.
"Kau suka acara seperti ini 'kan? Kau sendiri yang mengatakan," lanjutnya membuat pemilik butik tersebut tertawa kecil mendengar perkataan Alvaro.
__ADS_1
"Bagaimana bisa saya pergi? Sementara kamu menggunakan motor besar," kata pemilik butik tersebut melihat motor besar milik Alvaro.
Alvaro menarik nafasnya panjang.
"Saya bukan anak muda lagi yang harus bepergian menggunakan motor besar seperti itu," katanya lagi membuat Alvaro turun dari motor yang dia duduki.
"Kunci mobil," kata Alvaro membuat pemilik butik tersebut tersenyum kearah Alvaro.
Pemilik butik tersebut bernama Dilla, dia langsung memberikan kunci kepada Alvaro.
"Saya siap-siap dulu," kata Dila dan dibalas anggukan kepala oleh Alvaro.
"Mobilnya ada dibelakang," kata Dila sebelum benar-benar pergi.
Setelah dua puluh menit menunggu, akhirnya Dila keluar menggunakan dres panjang tak lupa pula dia menggunakan masker membuat Alvaro mengerutkan keningnya dalam-dalam.
"Kita naik mobil, tidak ada debuh dijalan," kata Alvaro membuat Dila tersenyum dari balik maskernya.
"Saya sedang flu, jadi saya mengenakan masker," balas Dila.
"Saya tidak melihat kalau kau sedang sakit? Wajahmu bahkan cerah," kata Alvaro lagi.
"Jika memang kau sakit, seharunya kau tidak pergi," lanjut Alvaro membuat Dila menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu dipusingkan, sejak kapan kamu bertanya panjang kali lebar seperti ini?" tanya Dila dengan lembut membuat Alvaro terdiam.
Benar kata Dila, seharusnya dia tidak perlu mengurus ini semuanya.
Dila masuk kedalam mobil dengan Alvaro yang menyetir.
Sementara Agas dan Mentari telah sampai ditempat acara yang dilaksanakan disalah satu hotel terbesar di Jakarta.
"Tamara!" panggil Mentari kepada gadis yang terkenal tomboy dikelasnya.
Gadis bernama Tamara membalikan badannya melihat kearah Mentari.
"Hai, Tar," sapa balik Tamara. Semenjak kejadian saat itu, dimana Laura melabrak Mentari disitulah Mentari, Tamara dan Dado menjadi akrab.
"Lo suka acara kayak gini juga?" tanya Mentari dan dibalas anggukan kepalanya oleh Tamara.
"Gue suka," balas Tamara kepada Mentari.
Sementara Agas tengah memarkiran motornya.
__ADS_1