Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Gadis yang kasar


__ADS_3

Mentari berjalan dikoridor sekolah, dia melirik kanan dan kirinya dengan buku tebal berada dipeluknya. Dia melihat Agas berada diambang pintu dengan tangannya dia masukkan disaku celananya bersandar didekat pintu menunggu Mentari.


Sementara Mentari yang melihat Agas menggelengkan kepalanya, kebiasaan Agas setiap pagi mampu membuat Mentari terharu sekaligus merasa ngakak dengan Agas.


Agas menyunggingkan senyum tipisnya saat melihat Mentari berjalan menuju kelas dengan buku tebal dalam dekapannya.


"Pagi, Tar," sapa Agas menghampiri Mentari dengan senyuman melekat diwajahnya yang tampan.


"Pagi juga, Gas," balas Mentari membuat hati Agas menghangat.


Beginilah Agas, setiap kesekolah dia harus lebih dulu sampai ketimbang Mentari. Alasannya cuman satu, agar dia bisa mengucapakan selamat pagi untuk Mentari lebih dulu.


Bahkan guru-guru SMA Bina Marta pun ikut hanyut dengan perubahan yang dimiliki oleh Agas, semenanjak dia mengenal Mentari dia berubah. Tidak seperti dulu!


Mentari berjalan beriringan dengan Agas, meski mereka tidak satu kelas lagi semenjak kejadian itu membuat Mentari semakin yakin jika Agas itu baik, hanya saja alur yang membuatnya nakal saat itu.


Mentari juga belum tau, siapa yang melaporkan Agas dan Alvaro saat itu berantem. Sehingga kepala sekolah berinisiatif memindahkan Agas ke Kelas IPA. Mengapa bukan Alvaro saja dipindahkan dikelas IPS? Jawabannya cukup simpel, karna adanya Steven dikelas IPS sehingga bukan Alvaro yang dipindahkan dikelas IPS.


"Gue duluan yah, Tar. Mau ngecek kelas," pamit Agas setelah mengantar Mentari kedalam kelas. Itulah yang dilakukan Agas setiap pagi membuat Mentari senyum-senyum sendiri dengan tingkah yang dimiliki Agas.


"Iya, Gas," jawab Mentari.


"Jangan lupa, jam istirahat gue kesini lagi, buat makan dikantin." Agas langsung hilang dibalik pintu kelas MIPA membuat Mentari menggelengkan kepalanya.


Seluruh murid-murid kelas MIPA 1 telah masuk kedalam kelas. Mentari bersyukur teman sekelasnya pagi ini tidak membuat aneh-aneh.


Mentari melirik kearah bangku milik Alvaro yang sedari kemarin sudah kosong karna dia discorsing semenanjak kejadian dimana dia berantem dengan Steven dikantin membuat dia dilarikan kerumah sakit.


Syukur-Syukur Alvaro tidak dikeluarkan dari sekolah membuat Mentari bernafas legah. Rasanya sangat kasian jika sudah kelas 3 dan ingin dikeluarkan.


Mentari lupa jika dia belum mengembalikan tas milik Alvaro, dan jangan lupa juga. Jika Alvaro belum membayar Coffe yang dipesan dikedai Coffe orang tua Mentari. Karna saat itu Alvaro membawa ATM sementara kedai milik orang tua Mentari bukan kedai Coffe seperti diluaran sana.

__ADS_1


"Ketua kelas kalian mana!"


Suara menggelar dari luar membuat Mentari terkejut dan melihat kearah pintu. Bukan hanya Mentari saja, bahkan teman sekelas Mentari yang belajar langsung mengelus dadanya saking terkejutnya, mendengar suara tersebut.


Laura!


Mentari tidak pernah berurusan dengan gadis yang masuk kedalam kelasnya dengan rok yang sangat pendek, serta rambutnya yang dia berikan warna biru. Wajah gadis itu terlihat murkah saat melihat Mentari duduk dengan entengnya.


Mentari tidak tau mengapa Laura mencari dirinnya seperti ini, padahal mereka tidak pernah bertutur sapa meskipun mereka sering berpapasan. Itu karna Laura yang selalu sinis kepada Mentari membuat Mentari jadi tersenyum masam jika melemparkan senyuman kepada gadis cantik itu yang dibalas dengan sinis.


Sehingga saat itu juga, Mentari sudah tidak memberikan senyuman lagi jika tidak sengaja berpapasan dengan Laura.


"Kelas lo tuh disebelah. Nggak usah sok jago lo dikelas ini!"


Sahut salah satu teman sekelas Mentari yang sedang bermain game yang merasa terusik saat mendengar suara Laura.


"Diam lo!" Laura balik membentak membuat Mentari terkejut dengan sentakan gadis itu.


Cowok yang bermain game paling pojok berdiri dari tempat duduknya menatap Laura dengan tatapan tidak sukanya.


"Betul, tuh!"


Teman sekelasnya bersuara setuju dengan apa yang dikatakan oleh teman sekelasnya bernama Aril, cowok yang terkenal suka bermain game dipojokan.


"Mau buat masalah, terus ketua kelas kita yang disalahin lagi?" salah satu teman sekelasnya lagi menyahut dan dibetulkan oleh yang lainnya.


Seorang gadis dengan rambut yang dia ikat sedikit berantakan mengangkat suara yang sedari tadi hanya menonton drama korea di handponenya.


"Nggak usah nambah masalah lo dikelas ini. Ketua kelas kita nggak bisa ngurusin kelas sebelah. Ngurusin kelas MIPA aja yang kadang bandel, udah cukup buat dia sebagai ketua kelas!''


Perkataan gadis dengan rambut yang dia ikat sedikit berantakan dibalas setuju oleh teman sekelasnya.

__ADS_1


"Jadi lo nggak usah buat masalah dikelas MIPA. Cukup anak MIPA yang buat repot ketua kelas nggak usah anak kelas sebelah!''


Prok.... Prok....Prok


Suara tepuk tangan menggemah didalam kelas atas perkataan gadis yang terkenal dengan gayanya yang tomboi,suka nonton drama Korea di handponenya, serta handset melekat ditelingnya. Dia kembali duduk di kursinya memasang handsetnya lalu kembali melanjutkan drama korea yang dia tonton yang sempat tertunda.


Gadis itu bernama Tamara, cewek yang terkenal bodoh amat dalam kelas. Namun tidak ada angin tidak ada hujan gadis itu bersuara.


Tangan Laura terkepal kuat, niatnya ingin mencari Mentari namun teman kelas Mentari malah mengatai-ngatainya.


Laura berusaha tidak emosi untuk kedua teman sekelas Mentari yang mengatai dirinnya, yang bernama Aril dan juga Tamara. Karna tujuannya hanya Mentari.


"Mau ngapain cari gue?" tanya Mentari berdiri dari kursinya. Dia hanya mendengarkan keluh yang dikeluarkan oleh teman sekelasnya tadi. Yang ada benarnya juga.


Laura menatap Mentari dengan tatapan penuh kebencian, Mentari tau jika tatapan yang diberikan oleh Laura tatapan kebencian terlihat dari sorot mata gadis berambut biru itu. Itu bukan Mentari lagi, tapi urusan OSIS akan hal ini.


Laura mendekati Mentari membuat teman sekelasnya tegang melihat Laura mendekati Mentari. Gadis bernama Laura itu terkenal dengan kebandelannya yang suka melanggar aturan sekolah.


Sedangkan Aril dan Tamara sudah asik dengan handponenya dengan memasang handsetnya dengan baik-baik ditelingnya.


"Lo becus nggak sih jadi ketua kelas!"


Teman sekelas Mentari langsung menutup mulutnya saat Laura mendorong Mentari. Untung saja gadis itu bisa menyeimbangkan tubuhnya sehingga dia tidak jatuh dilantai.


Mentari juga kaget mendapatkan serangan mendadak dari Laura. Ternyata gadis itu sangat kasar.


"Kasar amat tuh cewek!"


Mentari memperbaiki dirinya, dia masih tidak tau mengapa Laura mengatakan ini kepadanya.


"Gara-gara ulah teman sekelas lo buat Steven masuk rumah sakit!"

__ADS_1


Mentari menyeritkan alisnya, ada hubungan apa Laura dengan Steven? Padahal tidak ada kabar jika mereka berpacaran, jika kabar itu ada sudah dipastikan akan meroket kepenjuru SMA Bina Marta.


Teman sekelas Mentari, nampak heran mempertanyakan ada hubungan apa Laura dengan Steven. Apa mereka berpacaran secara diam-diam?


__ADS_2