
Huft
Hembusan nafas berat keluar dari mulut Alvaro saat membuka kaca helmnya. Dia melihat pagar yang menjulang tinggi ke atas.
Setelah pulang dari kedai Runi, dia kembali ke mansion.
Pak Farhat yang melihat motor sport Alvaro tidak masuk ke dalam mansion langsung angkat bicara. ''Kenapa tidak masuk, nak?'' tanya pak Farhat.
Bukanya menjawab, Alvaro malah balik bertanya. ''Dimana bapak membuang lukisan Alvaro?'' papar Alvaro membuat pak Farhat terdiam.
Alvaro tidak mendengar jelas apa kata Frans saat itu, apakah dia menyuruh pak Farhat membuang lukisannya atau membakarnya hingga menjadi abu.
Dia menatap mata tajam Alvaro, sama seperti mata papahnya sendiri.
''Sebenarnya...perintah papah Alvaro tidak saya jalankan,'' jujur pak Farhat membuat Alvaro menaikkan alisnya sebelah.
Alvaro menunggu lanjutan ucapan pak Farhat.'' Lukisan tuan Al, bapak simpan di rumah bapak.''
Jawaban dari pak Farhat tentu saja membuat Alvaro terdiam, dia pikir lukisannya itu sudah di buang atau di bakar.
__ADS_1
''Bapak sangat menyayangkan lukisan tuan Alvaro yang sangat bagus, harus di bakar,'' lanjutnya lagi. ''Maka dari itu, saya menyimpan lukisan tuan Al di rumah saya.''
Pak Farhat tersenyum kearah Alvaro.
Alvaro tersenyum tipis hingga nyaris tak terlihat.
''Simpan saja lukisan itu di rumah bapak, jika waktunya tiba saya akan mengambilnya,'' ucap Alvaro dengan suara datar lalu memasang helmnya.
Dia menyalakan mesin motor sport miliknya, lalu masuk kedalam mansion. Jujur saja, mansion bagaikan neraka menurut Alvaro jika di dalamnya ada Frans, sang papah.
Alvaro turun dari motornya, pintu utama di buka oleh para maid mansion. Mereka berjejeran menundukkan kepala saat Alvaro datang.
''Tuan, Al!'' panggil suara koki yang bekerja di rumah ini.
Panggilan tersebut tidak membuat langkah Alvaro berhenti. Siapa dia yang harus Alvaro dengarkan?
Namun, perkataan koki tersebut mampu membuat langkah Alvaro berhenti saat ini juga.
''Tuan Frans sedang keluar kota, dia meminta kepada saya untuk mengawasi segala kegiatan tuan, Al!''
__ADS_1
Tara, Koki wanita itu berusia 50 tahun lebih, dia koki perempuan tertua di sini. Hanya dia saja yang berani memanggil Alvaro.
''Tidak perlu!'' singkat dan jelas.
Alvaro melangkahkan kakinya menuju lift untuk segera masuk kedalam kamarnya. Kepergian Frans keluar kota akan membuat Alvaro leluasa di mansion maupun di luar.
''Kalau perlu, papah setiap minggu keluar kota saja,'' gumam Alvaro menyimpan tasnya di sofa lalu membaringkan tubuh atletisnya diatas kasur mewahnya.
Kamar yang bernuansa abu-abu Alvaro sangat polos, hanya ada foto masa kecilnya di pajang di dinding kamar dan gantungan baju serta jam di dinding.
Ingin sekali rasanya Alvaro memajang hasil lukisanya di kamarnya ini, hanya saja dia sadar. Jika itu tidak mungkin selama Frans melarangnya berhubungan dengan kuas.
Drt...
Ponsel milik Alvaro berdering, rupanya yang menelfon dirinya adalah Frans. Baru saja dia merasakan ketenangan sosok iblis dengan sebutan papah itu menelfon dirinya.
Dengan malas, Alvaro menekan tombol hijau.
''Kamu jangan macam-macam selama papah di luar kota, Al. Papah di sini selama satu bulan. Kamu harus ingat, banyak mata-mata papah yang mengawasi mu di luar sana!''
__ADS_1
''Ya.'' Hanya kata ini saja yang dia ucapkan, lalu dia mematikan telfonya tanpa menunggu Frans.