
Bell sekolah belum juga berbunyi sehingga guru yang mengajar pada pagi hari ini, belum masuk ke kelas, sehingga dia belum melihat kelas MIPA nampak ramai.
Banyak dari kelas sebelah mengintip dari celah jendela melihat Laura sedang memberikan wejangan pedas untuk Mentari, meskipun ini bukan salah Mentari.
Mereka bertanya-tanya ada apa didalam kelas MIPA 1 ini, yang nampak ramai. Apa lagi terlihat Laura dari kelas IPS sedang berada dalam kelas MIPA. Dari belakang aja mereka sudah kenal jika gadis itu ada Laura dari warna rambutnya.
"Ini sepenuhnya bukan salah gue." Mentari berkata tegas kepada Laura. Laura tidak mendengarkan apa yang dikatakan Mentari. Baginya, ketua kelas lah yang bertanggung jawab atas semua ini.
"Jelas-jelas ini semua salah lo!" Laura menunjuk Mentari dengan jari telunjuknya.
Mentari menatap gadis dihadapannya, yang sedang menatapnya penuh dengan kebencian.
Mentari tidak ingin mencari masalah, apa lagi mencari masalah dengan kalangan diatas seperti Laura ini.
Laura menurunkan jari telunjuknya lalu menatap Mentari. "Kalau lo nggak becus jadi ketua kelas, lebih baik lo undurin diri."
"Enak banget tuh mulut nyuruh Mentari berhenti jadi ketua kelas!" Sahut salah satu teman sekelas Mentari yang tidak suka dengan kata-kata yang barusan Laura keluarkan.
Dengan susah payah mereka membujuk Mentari untuk jadi ketua kelas, dengan gampangnya Laura mengatakan kata pengunduran diri.
"Gue nggak bicara sama lo, Yah!" sungut Laura kepada cowok berkacamata yang menimpali percakapannya dengan Mentari.
Cowok berkacamata itu bernama Dado menghentakkan kakinya. "Kita dalam kelas ini susah payah bujuk Mentari jadi ketua kelas. Dan lo datang dengan seenak jidat lo nyuruh Mentari ngundurin diri. Lo sehat?"
"Diam lo culun!" Lagi dan lagi Laura mengatai cowok berkacamata tebal itu.
"Lo yang di_" Perkataan Dado langsung tercekat di tenggorokannya saat Mentari memberikan kode kepada dirinya. Mentari tidak mau jika masalah ini bertambah besar.
"Ngeri juga yah, jadi ketua kelas." Bisik salah satu murid yang menonton melalui celah jendela kelas.
"Iya juga yah. Gue jadi takut buat jadi ketua kelas," timpal salah satu teman dekatnya yang sedang menonton Laura.
Mentari menarik nafasnya panjang, bagaimanapun dia harus menyelesaikan masalah ini dengan Laura dengan kepala dingin jika tidak mau masalah ini berlanjut.
__ADS_1
"Gue minta maaf." Kata maaf langsung lolos dari mulut Mentari terhadap gadis dihadapannya. "Gue minta maaf atas kesalahan teman sekelas gue karna udah ngehajar Steven." Lanjutanya dengan suara rendah dan pastinya sopan.
"Enak banget lo yah, Minta maaf. Lo nggak tau sakit yang diderita Steven dirumah sakit!" raung Laura.
"Mau lo apa?" Mentari tidak tau apa yang diinginkan gadis dihadapannya ini. Sementara teman sekelasnya sedari tadi memperhatikan Mentari dan juga Laura.
Terutama Dado yang tidak akan setuju jika Mentari mengundurkan diri hanya karna perintah Laura.
"Gue mau lo ngundurin jadi ketua kelas yang nggak becus!"
Tentu saja perkataan Laura membuat teman sekelas Mentari berbisik mengatai Laura gila. Memangnya Laura itu siapa dengan enaknya menyuruh Mentari mengundurkan diri jadi ketua kelas.
Mentari menarik nafasnya panjang, rupanya gadis dihadapannya ini sangat keras kepala. Padahal dirinya sudah minta maaf atas kesalahan yang diperbuat oleh Alvaro. Mentari dan Laura saling bertatapan. "Kalau gue ngundurin diri, apa lo mau gantiin gue jadi ketua kelas MIPA? Secara lo ank IPS."
Tangan milik Laura terkepal, bukan jawaban yang seperti ini yang ingin dia dengarkan. Tangan milik Laura terangkat untuk memberikan Mentari sebuah pelajaran.
"Lo!" Tangan milik Laura ditahan oleh seseorang sehingga tangannya itu tidak menampar wajah milik Mentari karna seseorang menahan tangannya sehingga tangannya hanya melayang di udara.
Sementara Mentari hanya memejamkan matanya untuk merasakan tamparan untuk pertama kalinya.
"Kasar banget tuh cewek, sampai mau main nampar aja!" sungut salah satu penonton dari luar kelas yang melihat dengan mata kepalanya Laura ingin menampar Mentari.
Namun seseorang dengan cepat menahan tangan Laura. Andai saja seseorang itu tidak datang tepat waktu, sudah dipastikan pipih milik Mentari akan memar mendapatkan tamparan dari Laura.
Laura melirik kearah kanannya, gunah melihat siapa yang menahan tangannya. Cowok itu menatap tajam Laura dengan tangan Laura masih setia dia pegang begitu erat, sudah dipastikan tangan gadis itu memerah.
"Untung aja pacar Mentari datang tepat waktu," menolog Dado melihat Agas masih memegang pergelangan tangan Laura yang hampir saja menampar wajah milik Mentari.
"Agas," gumam Mentari melihat siapa didekatnya. Agas menatap Mentari lalu menghempaskan tangan Laura begitu kasar.
"Awh!" gadis itu mengaduh sakit karna Aga menghempaskan tangannya begitu kasar.
"Lo nggak apa-apa 'kan?" tanya Agas kepada Mentari sehingga dia membelakangi Laura yang sedang mengelus tangannya dengan wajah merah padam.
__ADS_1
Mentari menggelengkan kepalanya kuat. "Gue nggak apa-apa," jawab Mentari membuat Agas bernafas legah.
"Sosweet banget sih mereka!"
"Pasangan serasi di SMA Bina Marta!"
"Gemes deh lihat coupel yang satu ini!"
Dan berbagai teriakan lagi yang didengarkan oleh Mentari dan juga Agas dari teman sekelasnya maupun dari kelas sebelah.
"Sama-sama tampan dan cantik!"
"Cowoknya datang tepat waktu. Bikin gue BAPERRRR!"
"Makasih, Gas," kata Mentari.
Agas menganggukkan kepalanya. "Gue nggak bakalan maafin diri gue, kalau terjadi apa-apa dengan lo, Tar"
"CIEEE!"
Suara sorakan untuk Mentari dan Agas membuat Mentari tersenyum kikuk. Sepertinya mereka semakin yakin jika Mentari dan Agas berpacaran.
Agas melirik Laura, dengan cepat Agas menarik tangan Laura keluar dari kelas MIPA 1.
"Lo mau bawa gue kemana!" Berontak Laura saat Agas menarik tangannya keluar dari kelas sehingga murid-murid membukakan Agas dan Laura jalan.
Sementara Mentari yang melihat itu ingin berteriak namun dia urungkan. Biarkan ini menjadi urusan Agas karna sebagai ketua kelas IPS.
Mentari mendudukkan bokongnya dikursi, guna memenangkan pikirannya mengenai masalah ini.
Sementara teman sekelas Mentari bernama Dado sudah mengusir anak kelas sebelah untuk pergi dari jendela kelas. Takut-takut jika salah satu guru mencyduk mereka dan Mentari bakalan dihadapkan dengan kepala sekolah SMA Bina Marta.
"Mata pelajaran hari ini gurunya masuk nggak?" tanya gadis berambut sedikit berantakan bernama Tamara. "Kalau nggak, gue maraton Drakor," sambungnya.
__ADS_1
"Tunggu lima menit lagi, kalau guru nggak masuk gue bakalan kekantor buat tanyain," jawab Mentari dan dibalas anggukan kepala oleh Tamara. Sudah satu menit bunyi bell, namun guru yang mengajar pagi ini belum juga menampilkan batang hidungnya.