Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Matahari ku


__ADS_3

Mentari berjalan dengan cepat hingga ditengah kerumunan banyak orang yang sedang melakukan dansa, dia menabrak seseorang yang sedang berdansa karna saking buru-burunya.


Itu semua tidak luput dari penglihatan Alvaro melihat bagaimana gadis itu berjalan dengan menerobos orang yang tengah berdansa.


Setelah berhasil keluar dari kerumunan orang berdansa, Mentari langsung berjalan cepat kearah kamar mandi. Dia pernah berkata kepada dirinya sendiri, jika dia tidak berpacaran karna dia tidak melakukan ciuman sama seperti orang pacaran lainnya.


Dan sekarang, dia di cium dengan orang asing tanpa dia ketahui siapa namanya, bagaimana wajahnya dan mereka berdua tidak mempunyai hubungan sama sekali.


Ini yang Mentari hindari, dia tidak pernah berpacaran semenjak dia dewasa karna dia tidak mau dicium atau berciuman dengan orang yang bernamakan pacar.


Agas langsung meninggalkan Tamara saat melihat Mentari berjalan dengan cepat kearah kamar mandi.


Tamara menghentakkan kakinya karna ditinggal begitu saja oleh Agas, dia langsung juga pergi mencari keberadaan cowok yang menggunakan topeng yang menjadi partner pertamanya saat berdansa.


Agas menyusul Mentari ke kamar mandi, sementara Mentari langsung menutup pintu kamar mandi tanpa dia ketahui Agas sedang mengejarnya.


Mentari menyalakan kran air lalu menggosok bibirnya yang dicium oleh orang asing tadi. Dia menggosoknya begitu keras menggunakan air.


"Jahat!" kata gadis itu sembari menggosok bibirnya begitu keras.


Dia menitihkan air matanya, dia sudah menjaga dirinya agar tidak berpacaran hanya karna ingin mengindari akan hal ini yang biasa dilakukan oleh orang-berpacaran.


Mentari menitihkan air matanya masih dengan menggosok bibirnya hingga bibir gadis itu memerah.


"Nggak ngerti banget sih. Kalau nggak semua orang itu mau dicium!" oceh gadis itu sembari menangis didalam kamar mandi.


Selama ini dia menjaga semuanya, namun malam ini sosok cowok bertopeng mencium dirinya, padahal cowok itu baru saja dia kenal.


Sementara Agas, dia sudah mengenal Agas cukup lama namun cowok itu tidak pernah lancang kepadanya.


Mentari menatap dirinya didepan cermin, matanya sedikit sembab karna menangis karna perihal singkat tadi.

__ADS_1


Mungkin jika seseorang yang sudah terbiasa dicium, mungkin saja dia tidak mempermasalahkn hal ini, mungkin saja dia menganggapnya tidak penting sama sekali.


Tapi beda lagi dengan Mentari, yang sudah teguh dengan prinsipnya yang telah direnggut oleh cowok yang tidak dia kenal.


Sementara Agas menunggu didepan pintu kamar mandi, dia tidak mendengarkan apa yang Mentari katakan karna kran air yang sedang mengalir.


Mentari membasuhi wajahnya, rasanya dia tidak ingin bertemu dengan cowok itu, dia malu, dia marah kepada cowok itu yang sudah berani menciumnya tanpa beban.


Mentari harap, dia tidak pernah bertemu dengan cowok itu lagi. Setelah membasuhi wajahnya dia mematikan kran air lalu merapikan dresnya.


Mentari langsung membuka pintu kamar mandi dan disuguhkan wajah tampan milik Agas.


"Tar," panggil Agas melihat mata gadis itu memerah, tanda dia sudah menangis. "Lo kenapa?" tanya Agas khawatir kepada Mentari.


Mentari menggelengkan kepalanya membuat Agas menatapnya dengan dalam-dalam.


"Tatap mata gue, Tar," perintah Agas, Mentari tidak berani menatap mata Agas. Apa lagi dia sudah tau bagaimana wajah cowok itu saat marah.


"Bilang sama gue, siapa yang nyakitin lo?" tanya Agas menatap manik mata Mentari begitu dalam.


"Bilang sama gue, Tar. Siapa yang buat lo nangis kayak gini," tuntut Agas karna geram terhadap seseorang yang sudah membuat mataharinya menangis seperti ini.


Mentari menggelengkan kepalanya dengan posisinya masih bertatapan dengan Agas. "Nggak ada yang nyakitin gue."


"Bohong," dengan cepat Agas berkata seperti itu karna Mentari mengatakan jika tidak ada yang menyakiti dirinya. Jika tidak ada yang menyakitinya mengapa dia menangis. "Kalau nggak ada yang nyakitin lo. Lo nggak bakalan nangis kayak gini sampai mata lo memerah, Tar!"


Mentari langsung memeluk Agas dengan erat sembari air matanya jatuh begitu saja, perlakuan Agas membuatnya terenyuh seperti ini.


Agas pernah mengatakan kepadanya, jika ada yang menyakitinya Agas akan memberikan pelajaran kepada orang itu hingga dia jerah karna telah mengusik orang yang dia sayangi.


Mentari memeluk Agas, jika biasanya Agas bahagia diperlukan seperti ini dengan Mentari berbeda dengan sekarang ini karena mataharinya sedang menangis.

__ADS_1


Agas tidak membalas pelukan Mentari, sementara pelukan Mentari masih erat kepadanya.


Sementara Alvaro yang bersembunyi mendengar seluruh percakapan antara Mentari dan juga Agas. Alvaro berpikir, jika Mentari menangis karna dia telah menciumnya.


Sampai berharganya sampai gadis itu menangis hanya karna ciuman singkat tersebut yang dilakukan olehnya.


"Bilang sama gue, Tar. Siapa yang udah buat lo nangis kayak gini," kata Agas lagi membuat Mentari menggelengkan kepalanya dengan masih memeluk Agas.


"Nggak ada yang nyakitin gue, Gas," kata Mentari melepaskan pelukannya lalu memegang tangan Agas.


"Percaya sama gue, nggak ada yang berani nyakitin gue karna adanya lo di sisi gue," kata Mentari menghapus air matanya kasar.


"Bilang sama gue, Tar. Gue nyesel tukaran tadi andai gue tau kayak gini gue nggak bakalan lepasin lo," kata Agas merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Mentari.


"Lo nggak salah, Gas. Gue aja yang cengeng," kata Mentari.


"Gue udah kenal lo Tar, bukan dua atau tiga hari. Jadi lo nggak bisa bohong, lo itu cewek tangguh yang gue kenal, lo nggak mudah nangis," kata Agas kepada Mentari membuat Mentari tersenyum simpul kearah Agas.


"Percaya sama gue, nggak ada yang nyakitin gue," kata Mentari berusaha menyakinkan Agas.


Agas menarik nafasnya panjang, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mentari namun dia tidak bisa memaksa gadis dihadapannya untuk mengatakannya.


"Kalau ada yang nyakitin lo, bilang sama gue. Gue nggak mau matahari gue sedih karna orang yang nyakitin dia. Gue mau lihat lo tersenyum nggak mendung kayak gini. Kalau ada yang nyakitin lo, gue pastiin orang itu bakalan hancur dalam tangan gue," kata Agas serius membuat Mentari menitihkan air matanya.


Dia sangat terharu dengan Agas, begitu baiknya cowok itu kepada dirinya sampai dia ingin menunggu sampai Mentari siap untuk dia miliki.


Agas menghapus air mata Mentari. "Gue janji, gue nggak bakalan buat lo netesin air mata berharga lo ini hanya karna gara-gara gue. Kalaupun nantinya lo nangis karena gue, gue pastiin gue nggak bakalan pernah muncul dalam hidup lo karena dengan beraninya gue buat matahari gue nangis."


"Gas," panggil Mentari, dia merasa Agas tidak patut mengucapakan kata itu.


"Apa lagi jika orang lain buat lo nangis, gue pastiin dia nggak bakalan berani muncul didepan lo, lagi," kata Agas membuat Mentari refleks memeluk Agas.

__ADS_1


Sementara Alvaro yang melihat dan mendengar semuanya tersenyum tipis.


__ADS_2