
Alvaro masuk ke dalam mansion, seperti biasa maid berjejeran dan menundukkan kepalanya saat Alvaro masuk kedalam mansion.
''Wow!'' pekik Renal melihat pelayan di mansion ini menyambut Alvaro begitu istimewa.
Cowok itu terkekeh melihat para maid berjejeran menyambut kedatangan Alvaro.
''Hidup lo enak juga, ya, sebagai anak orang kaya,'' celetuk Renal berjalan beriringan dengan Alvaro.
''Emangnya lo nggak kaya?'' ketus Alvaro.
Karna cowok yang baru dia kenal itu berkata layaknya dia hanya seorang upik abu saja.
''Nyokap sama bokap gue kaya, tapi nggak sekaya bokap lo,'' jawab Renal dan tidak dibalas oleh Alvaro lagi.
''Eh...Lo mau kemana?'' Renal menarik jaket Alvaro karna cowok itu ingin menaiki tangga untuk ke lantai atas.
Alvaro menghembuskan nafasnya berat.
''Gue mau tidur,'' jawab Alvaro dengan dingin.
''Lo nggak dengar apa kata bapak yang tadi, kalau di meja makan terhidang makanan untuk lo!''
‘’Untuk gue juga, karna gue juga di suruh makan,'' lanjutnya seraya tersenyum kecil.
Alvaro membalikkan badanya, sehingga wajahnya yang dingin nan datar itu bertemu dengan wajah Renal yang lucu.
''Gue nggak lapar, kalau lo mau makan lo makan aja. Meja makan ada di pembelokan sebelah sana,'' tunjuk Alvaro membuat Renal melihat kearah yang di tunjuk oleh Al.
''Nggak bisa gitu lah, Al. Masa iya gue sebagai tamu makan sendiri? Nggak di temenin sama yang punya rumah?''
Alvaro menghembuskan nafas berat, Renal yang baru dia kenal ternyata cerewet.
''Nggak boleh tolak makanan lo, Al,makanan itu rejeki'' lanjut Renal menaik nurunkan alisnya.
Alvaro memutar arah, sehingga langkah kakinya tidak menuju tangga.
''Lo mau kemana?'' tanya Renal lagi mengikut Alvaro.
''Makan.''
Renal tentunya tersenyum bahagia melihat Alvaro berjalan menuju makan.
Renal kembali terkagum dengan para maid yang bekerja di mansion rumah Alvaro. Bagaiamana tidak, saat mereka melihat Alvaro berjalan ke meja makan mereka langsung dengan sigap membuka penutup makanan yang diatas meja.
Sementara maid lainya menggeser kursi untuk Alvaro. Bukan hanya Alvaro saja, Renal juga di perlakukan seperti itu oleh maid.
__ADS_1
Renal kembali menggelengkan kepalanya. ''Mereka bekerja seperti kerja dengan pangeran saja,'' gumam Renal. Alvaro mendengar gumam dari Renal, namun dia hanya abai saja.
Mereka berdua makan, sekali-kali Renal tertawa kecil melihat Alvaro. Bagaimana tidak, jika cowok itu makan dengan lahap, padahal dia mengatakan tidak ingin makan.
Setelah beberap menit makan, Renal dan Alvaro meninggalkan meja makan. Mereka berdua menaiki tangga.
''Kenapa nggak naik lift aja sih, Al?'' keluh Renal karna Alvaro naik tangga sehingga dia juga naik tangga.
‘’Kenapa lo malah ngikut naik tangga sama gue?'' terang Alvaro membuat Renal hanya tertawa saja.
''Loh...Ini mansion lo, Al. Kok pintu kamar lo pake handel pintu biasa? Nggak pake pintu kayak kamar sebelah?'' tanya Renal.
Pasalnya, hanya kamar Alvaro saja yang mengenakan handel pintu, sementara pintu ruangan dan kamar lainya menggunakan pasword untuk masuk.
Sementara kamar Alvaro? Dia menggunakan kunci kamar saja.
''Ada alasan tersendiri,'' gumam Alvaro tersenyum kecut mengingat mengapa dia lebih memilih pintu kamar seperti ini.
''Lo tidur di kamar sebelah,'' tunjuk Alvaro di kamar bersebelahan dengan kamar lukisanya.
''Gue mau tidur sam—''
Brak…
Alvaro dengan cepat menutup pintu kamarnya membuat Renal memegang dadanya yang nyaris copot.
''123456!''
Setelah menjawab, Renal berjalan menuju kamar yang di tunjuk oleh Alvaro tadi.
***
Pukul 06:00pagi...
Mentari berjalan menuju kedai milik orang tuanya. Bagaiamana tidak, jika pertemuannya dengan Alvaro yang tidak sengaja semalam di jalan trotoar membuatnya harus pagi-pagi ke kedai untuk membuatkan Alvaro coffe macchiato untuk dibawakan ke sekolah.
Sebelum jam 07:00 pagi Mentari sudah harus berada di sekolah, karna jam 07:30 bell sekolah akan berbunyi.
Mentari mengambil kunci di kantong bajunya, lalu mulai membuka gembok kedai milik Runi.
Mentari menyimpan tasnya di diatas meja, lalu dia berjalan menuju dapur untuk segera membuatkan coffe macchiato pesanan Alvaro semalam di jalan trotoar.
Mentari mulai meracik coffe macchiato dengan lihai, lalu kemudian coffe itu dia masukkan kedalam botol tupperware.
Setelah sepuluh menit membuat coffe, Mentari memasukkan botol itu kedalam tasnya. Mentari kembali mengunci kedai lalu menyimpan kunci tersebut di bawah pot bunga.
__ADS_1
Karna jam 10 nanti, Runi akan kesini dan membuka kedai miliknya. Semalam, pamflet untuk mencari Karyawan sudah jadi. Sisa Runi yang akan menempelnya di depan kedai nanti.
Mentari sudah di tunggu tukang ojek, gadis berambut sebahu itu langsung memasang helmnya dan mulai nak ke atas motor.
Tok...Tok...Tok
Renal mengetuk pintu kamar Alvaro, tentu saja ketukan pintu dari luar menbuatnya terusik. Alvaro bergeming dari tidurnya.
Dia menduga, jika bukan Tara yang mengetuk pintu, sudah pasti itu Renal.
Sebelumnya tidak ada yang berani mengetuk pintu kamarnya keculi Tara, namun ketukan kali ini begitu keras membuat tidurnya terusik.
''Al! Bangun woi, udah pagi! Lo nggak mau ke sekolah? Udah mau jam tujuh nih!'' teriak Renal seraya mengetuk pintu kamar Alvaro.
Alvaro mengacak rambutnya lalu turun diatas tempat tidurnya.
Ceklek.
Alvaro sudah melihat Renal bersandar di tembok. Mulut Alvaro sedikit terbuka melihat penampilan Renal saat ini.
Kenapa cowok itu begitu gercep?
Renal sudah mengenakan atribut sekolah, baju sekolah yang dia kenakan baju sekolah SMA Bina Marta.
''Buruan mandi, baru berangkat sekolah bareng. Bukan malah bengong. Apa lo nunggu hantu buat masuk kedalam tubuh lo?''
Alvaro menatap datara Renal, bahkan cowok itu lebih cerewet ketimbang Mentari.
''Gue mandi dulu,'' ucap Alvaro menutup pintu kamarnya.
''Jangan lama, Al! Udah hampir telat nih!'' teriak Renal.
Waktu yang di habiskan Alvaro untuk mandi dan mengenakan baju sekolah sekitar tiga puluh menit.
Alvaro kembali menbuka pintu kamar, dia sudah tidak melihat Renal di depan pintu kamarnya. Dia turun tangga dengan tas sekolah yang dia sampirkan di lenganya.
Tas sekolahnya nampak ringan, karna cowok itu hanya membawa satu buku dan satu pulpen.
Alvaro melihat Renal sedang sarapan di meja makan, seraya cengengesan Kearah para maid. Dia seperti menonton patun yang setia berdiri menunggunya selesai makan.
Alvaro yang melihat tingkah Renal menggelengkan kepalanya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Renal dari meja makan melihat Alvaro menuruni tangga langsung menggeser kursinya lalu beranjak dari meja makan.
''Lo mandi kayak cewe aja, Al! Lama bener lo gerak. Gue mesti bangunin lo jam 06:00 bukan jam 06:30,'' sahut Renal.
__ADS_1
''Itu paling cepat gue lakuin, karna lo berisik!'' dingin Alvaro kepada Renal.