
Mentari dan kedua sahabat barunya itu kembali duduk ditempatnya yang tadi, Mentari mencari keberadaan Agas yang belum juga kembali.
Mentari yakin, Agas membahas mengenai lukisan tadi karna Laura telah melukis wajahnya. Tapi, menurut Mentari tidak apa-apa 'kan, tapi lain lagi jika sosok Agas.
Agas jika sudah membenci seseorang dia tidak ingin orang itu melakukan sesuatu hal tanpa seizinnya, dia tidak mau segala sesuatu yang menyangkut tentangnya diikuti oleh orang yang dia benci.
Agas sangat membenci Laura, karna kejadian saat itu. Dimana Laura meninggalkan Agas masih dengan sayang-sayangnya membuat Agas saat itu kacau.
Jelas saja saat itu Agas kacau berpacaran dengan Laura sejak SMP dan meninggalkan dirinya dengan kata Bosan
Saat Laura meninggalkan dirinya, disitulah Agas sangat membenci gadis itu. Cinta bisa berubah menjadi benci, tergantung dari kita yang ingin memposisikanya seperti apa.
"Agas udah ada?" tanya Tamara mengunyah kentang goreng yang berada diatas meja.
Sementara seluruh peserta melukis sudah pergi dari panggung, sepertinya pengumuman pemenang malam ini tidak lama lagi di umumkan.
Mentari juga penasaran, apakah cowok yang menggunakan topeng tersebut masih mempertahankan posisinya atau tersingkirkan dengan kedatangan Bulan.
Karna Bulan juga sangat pandai melukis apalagi gadis itu dari kelas seni. Kabar berita tentang Bulan yang sangat mahir dalam melukis sudah terdengar oleh seluruh SMA Bina Marta.
"Belum," jawab Mentari, karna dia belum melihat batang hidung Agas disini.
"Gue susul Agas dulu, yah," pamit Mentari kepada kedua sahabatnya.
"Mau kita temenin?" tawar Dado dan dibalas anggukan kepala oleh Tamara.
Mentari menggelengkan kepalanya. "Nggak usah," kata gadis itu lalu benar-benar pergi.
"Lo percaya nggak sih kalau Mentari belum punya perasaan sama Agas?" tanya Dado.
"Kayaknya sih gitu."
"Tapi yah, Tam. Masa iya belum punya perasaan padahal mereka selalu sama-sama udah lama lagi," kata Dado lagi.
"Mana gue tau, coba lo tanya tempe," kata Tamara membuat Dado menggerutu dengan balasan Tamara itu.
Mentari berjalan kearah toilet, karna Dado tadi mengatakan jika Agas dan Laura berjalan kearah toilet jadi Mentari berinisiatif mencari keberadaan Agas ditoilet.
__ADS_1
Matanya sibuk mencari keberadaan Agas hingga menubruk tubuh seseorang.
"Awkh!" pekik Mentari karna menubruk tubuh kekar seseorang. Untung saja tangan kekar tersebut menahan tubuh Mentari sehingga gadis cantik itu tidak terjatuh.
Matanya dan mata cowok itu saling bertatapan dengan posisinya masih belum terubah, dengan tangan kekar tersebut menyanggah tubuh milik Mentari agar tidak terjatuh.
Mata tajam cowok bertopeng itu membuat Mentari tidak ingin melepaskan tatapannya dari cowok tersebut, karna dia tidak merasa asing dengan mata tajam tersebut, seperti seringkali dia melihatnya.
Padahal ini pertama kalinya dia berdekatan dengan cowok yang menggunakan topeng tersebut itupun dalam keadaan tidak sengaja.
Cowok bertopeng tersebut menatap manik mata Mentari, sehingga mereka berdua saling bertatapan seperti tidak ada yang ingin melepaskan kontak mata tersebut.
Mentari memposisikan dirinya agar tidak sedekat ini, membuat jantungnya tidak baik-baik saja.
Cowok bertopeng tersebut langsung pergi meninggalkan Mentari. "Makasih," kata Mentari sehingga membuat langkah kaki cowok itu terhenti.
Dia membalikkan badannya sehingga matanya kembali beradu pada mata Mentari dibalik topengnya, Mentari yakin cowok itu sangat dingin.
"Lain kali kalau jalan jangan lihat kesana-kemari."
Cowok tersebut langsung pergi, lalu masuk kedalam kamar mandi.
Dia menyalakan kran air lalu membuka topengnya membasuhi seluruh wajahnya, nafasnya naik turun didalam kamar mandi. Dia menatap wajahnya yang tampan nan dingin didepan cermin lalu menyandarkan kepalanya di di dinding kamar mandi.
Juara ketiga jatuh kepada Laura
Juara kedua jatuh kepada Steven
Juara pertama jatuh kepada Bulan
Kata-kata tersebut terngiang-ngiang dalam pikiran Alvaro, dia yakin ada yang tidak beres dengan penjurian kali ini, bisa-bisanya dia turun tiga langkah dari tahun lalu.
Posisinya digantikan oleh sosok gadis baru bernama, Bulan. Tidak masalah bagi Alvaro namanya juga perlombaan, namun yang membuat Alvaro tidak terima penilaian juri yang sangat curang.
Dia yakin papahnya dibalik semua ini!
"Gue yakin, papah pasti udah tau. Kalau selama ini gue yang ikutan menggunakan topeng," menolog Alvaro masih memejamkan matanya di dinding kamar mandi.
__ADS_1
Pengumuman pemenang tadi membuat Alvaro tidak menyangka, jika papahnya tega melakukan ini semua kepadanya. Dia sangat yakin, jika orang tuanya sengaja melakukan ini semuanya.
Tok....Tok
Alvaro membuka matanya dengan perlahan-lahan saat ada yang mengetuk pintu kamar mandi.
"Ini saya," sahut seseorang yang mengetuk pintu kamar mandi.
Alvaro langsung membuka pintu kamar mandi, matanya menelusuri kesana-kemari takut jika ada yang melihatnya tidak menggunakan topeng. Setelah dia merasakan cukup aman, dia keluar dari kamar mandi.
Dia melihat Dila yang sedang memakai maskernya menatapnya dengan senduh.
"Kamu hebat," kata Dila sembari tersenyum dari balik maskernya. "Biarpun kamu tidak masuk tiga besar, kamu tetap hebat dimata saya," lanjut Dila kepada Alvaro.
"Alvaro yakin, ini semua ulah papah, Frans. Dia pasti udah tau kalau yang selama ini yang menggunakan topeng perlombaan adalah Al," kata Alvaro membuat Dila terdiam. Dia tau, sungguh sangat tau jika Frans sangat melarang putranya itu berhubungan dengan seni lukis.
"Al nggak tau, kenapa papah Frans sangat tidak suka kalau Alvaro melukis. Padahal Al udah bilang sama dia kalau seni bagaian dari hidup Al," kata Alvaro lirih membuat hati Dila terenyuh melihat Alvaro.
Dila langsung membawa Alvaro dalam dekapannya, dia menangis memeluk Alvaro bahkan dia tidak tau harus berkata seperti apa lagi kepada Alvaro.
"Saya yakin, papah kamu suatu saat bakalan dukung kamu dalam seni melukis," kata Dila membuat Alvaro menggelengkan kepalanya.
"Papah Frans itu keras kepala. Dia nggak bakalan dukung apa yang Alvaro mau," kata Alvaro membuat Dila menggelengkan kepalanya.
"Saya yakin, suatu saat dia akan mendukung kamu. Kamu harus tau, hubungan antara anak lebih kuat daripada rasa egois," kata Dila menatap mata Alvaro memberikan keyakinan kepada Alvaro.
"Bun!"
Alvaro dan Dila langsung terdiam mendengar suara seorang gadis tengah berjalan kesini, Alvaro langsung masuk kembali kedalam kamar mandi, takut jika orang itu melihat dirinya tidak menggunakan topeng.
Dia tidak mau jika seseorang tau, jika dirinya adalah Alvaro Tanujaya.
"Bunda."
Dila langsung melihat kearah gadis yang menggunakan gaun berwarna pink berjalan kearahnya dengan gaunya menyapu lantai. Dia sangat cantik sama seperti dirinya.
"Bunda bilang nggak bisa datang, kok bunda ada disini?" tanya gadis itu setelah berhasil mendekati Dila.
__ADS_1