Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Perhatian, Agas


__ADS_3

Alvaro menarik nafasnya panjang, sepertinya gadis dihadapannya ternyata belum mengingat perihal tas yang ditinggalkan oleh Alvaro.


"Lo 'kan yang bawa tas gue didalam kelas." Alvaro mencoba menjelaskannya kepada Mentari membuat Mentari langsung paham tas apa yang dimaksud cowok dingin dihadapannya ini.


"Sorry gue lupa....Tas lo ada dirumah gue. Pulang sekolah gue bakalan bawain kerumah lo," kata Mentari kepada Alvaro membuat cowok berwatak dingin itu menatapnya.


"Memangnya lo tau rumah gue dimana?" tanya Alvaro membuat Mentari menggelengkan kepalanya secara kakuh. Pasalnya dia tidak tau dimana rumah Alvaro dan dia berkata ingin membawakan tas Alvaro kerumahnya.


"Gue tungguin lo disini." Alvaro kembali duduk dikursi yang dia duduki tadi.


"Maksud lo mau nungguin gue pulang sekolah?" Mentari memperjelas apa yang dimaksud Alvaro. Takut-takut jika dia salah mengartikan perkataan Alvaro lagi.


"Yah."


"Gue pulang setengah jam lagi." Mentari berkata sembari melirik jam dipergelangan tangannya.


Setelah berbincang-bincang sedikit dengan Alvaro. Gadis itu langsung pergi meninggalkan Alvaro didekat gerbang sekolah.


Sementara Alvaro menatap punggung gadis itu yang sudah menjauh. Gadis yang hampor tiga tahun ini mengusiknya karna dirinya sebagai ketua kelas.


"Dari mana?" Langkah kaki Mentari langsung terhenti saat melihat Agas berjalan dari arah depannya.


"Seharusnya gue yang tanya, lo dari mana aja?" Mentari memutar bola matanya malas. Karna saat Agas membawa Laura pergi cowok itu tidak menampakkan batang hidungnya lagi.


Agas tertawa kecil. "Sorry."


Mentari mengangguk kecil dengan perkataan Agas.


"Lo nggak ngapa-ngapain, Laura 'Kan, Gas?" tanya Mentari kepada Agas membuat cowok itu menggelengkan kepalanya dan dibalas helaan nafas legah oleh Mentari.


"Emangnya lo pikir gue ngapain, Laura?" tanya Agas sembari menaikkan alisnya sebelah.


Mentari menggelengkan kepalanya. "Nggak mikir apa-apa," jawabnya


"Nggak belajar?" tanya Agas dan dibalas gelengan kepala oleh Mentari.


"Kayaknya ada rapat," kata Mentari dan dibalas anggukan kepala oleh Agas.


"Pulang sekolah nanti gue antar."


"Gue balik sama, Alvaro." Tentu saja jawaban Mentari membuat kening Agas berkerut.


"Alvaro?" beo Agas dan dibalas anggukan kepala oleh Mentari. Setau Agas, Alvaro masih menjalankan masa scorsingnya.


"Alvaro ada diluar nungguin gue. Mau pulang bareng, soalnya tas Alvaro gue bawa kerumah. Saat di scorsing Alvaro lupa bawa tasnya pulang." Mentari menjelaskan kepada Agas dan dibalas anggukan kecil oleh Agas.


"Entar malam jadi nonton?" tanya Agas kepada Mentari.

__ADS_1


Saat ini mereka berada dikoridor sekolah berbincang-bincang ringan.


"Jadi kok. Lo jemput gue aja."


"Ok.....Entar malam gue jemput," final Agas dan dibalas acungan jempol oleh Mentari.


Mereka berudua berjalan beriringan dengan santai.


Bell pulang sekolah berbunyi sehingga Mentari keluar dari kelasnya bersamaan dengan kelas sebelah.


"Gas!" panggil Mentari sehingga Agas melirik kearah gadis tersebut.


"Gue pulang duluan, yah," kata Mentari.


"Hati-hati, Tar," kata Agas dan dibalas anggukan kepala oleh Mentari.


Mentari langsung pergi meninggalkan Agas.


"Jangan lupa entar malam, Tar!" teriak Agas sebelum gadis itu menghilang dari pandangannya.


"Iya Gas.....Lo jemput gue aja!" balas teriak Mentari sembari melambaikan tangannya kearah Agas.


Mentari telah sampai didepan pagar, sehingga dia bisa melihat sosok cowok tampan sedang menunggunya didepan gerbang sekolah.


"Yuk!" aja gadis itu sehingga Alvaro mendongakkan kepalanya kearah gadis itu, lalu berdiri dari kursi yang dia duduki.


"Lo jangan bawa motor kencang-kencang, Al," peringat Mentari setelah dia berhasil memasang helm yang diberikan oleh Alvaro.


Sosok cowok dingin itu hanya diam saja.


Mentari tentu saja memberikan peringatan kepada Alvaro. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana Alvaro bawa motor saat mengantarnya pulang saat di kedai itu.


"Gue pegang punggung lo, Yah. Soalnya motor lo tinggi," Mentari lalu memegang pundak Alvaro untuk naik keatas motor.


"Mentari!"


Alvaro dan Mentari langsung melirik kearah asal suara tersebut. Alvaro baru saja ingin menjalankan motornya namun suara yang memanggil Mentari membuatnya terjedah.


Agas!


Yah, cowok yang memanggil Mentari adalah sosok cowok bernama Agas. Agas langsung menghampiri Mentari.


"Buat nutupin," kata Agas memberikan jaket kepada Mentari. Tentu saja Mentari langsung melihat kearah asal yang ditujukan oleh Agas.


"Makasih, Gas," kata Mentari sembari tersenyum hangat lalu menutupi bagian pahanya dengan jaket, yang diberikan oleh Agas.


Agas menganggukkan kepalanya sembari membalas senyuman dari Mentari. "Kalau udah sampai rumah kabarin." Tangan Agas bergerak mengusap rambut Mentari.

__ADS_1


Itu semua tidak luput dari penglihatan Alvaro, dia melihatnya dari balik kaca spion motornya.


"Iya, Gas."


Agas lalu melirik Alvaro sehingga kedua cowok tampan itu saling bertatapan. Mata tajam milik Alvaro dilihat melalui helm fullfacenya sangatlah candu.


Kedua cowok tampan SMA Bina Marta yang sangat digandrungi oleh murid -murid cantik.


Tangan Agas bergerak menepuk pundak Alvaro. "Hati-hati lo bawa motor. Lo harus ingat bukan cuman diri lo yang lo bawa, tapi ada Mentari," kata Agas dengan tegas lalu pergi meninggalkan Alvaro dan juga Mentari.


Alvaro langsung menjalankan motornya. Perkataan Agas tadi membuatnya seakan-akan ingin membuat Mentari dalam keadaan gawat.


Sementara Mentari tersenyum, mengingat perkataan Agas tadi membuatnya sangat berharga. Perhatian seperti itu sungguh membuat Mentari sangat berharga dimata Agas.


Tapi entah Mengapa perasaan Mentari tidak lebih dari sahabat kepada Agas. Dia sudah menganggap cowok itu sahabatnya yang tersayang. Mentari tidak tau, bagaimana kedepan-nya. Apakah dia bisa menerima dan mencintai Agas atau tidak.


Cowok itu sudah baik kepadanya, menjaganya seperti ratu saja.


Alvaro hanya mengemudikan motornya sesantai mungkin. Bukan karna dia mengikuti perkataan Agas, dia hanya ingin santai membawa motor sembari berpikir bagaimana agar dia bisa keluar sebentar malam. Tanpa adanya drama antara dirinya dan juga orang tuanya.


Tidak butuh waktu lama, motor milik Alvaro telah sampai didepan rumah minimalis.


"Lo nggak masuk dulu?" tanya Mentari sembari melepaskan helmnya dan memberikannya kepada Alvaro.


"Gue tunggu disini," kata cowok itu dingin.


"Oh, ok...."


Mentari langsung masuk kedalam rumahnya untuk mengambil tas milik Alvaro, yang saat itu dia bawa pulang karna Alvaro melupakan tasnya saat di scorsing.


Ceklek.....


Mentari langsung membuka pintu kamarnya untuk segera mengambilkan tas milik Alvaro. Setelah dia mengambil tas milik Alvaro Mentari langsung keluar dari rumahnya.


Dia melihat Alvaro sedang melihatnya dengan tas mahal berada ditangannya.


"Nih, tas lo," kata Mentari menyerahkan tasnya kepada Alvaro.


Deg


Entah mengapa saat tangan Alvaro tangannya saat mengambil tas membuat jantung Mentari berdetak.


Tangan milik Alvaro dan Mentari masih saling bersentuhan sehingga mereka berdua saling bertatapan.


PIP


Suara klokson motor yang tiba-tiba membuat Mentari terkejut

__ADS_1


__ADS_2