Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Singkat, padat dan jelas


__ADS_3

"Siapa?" tanya Vita memastikan karna Bulan hanya mengatakan nama kelasnya tidak dengan namanya.


"Aku juga nggak tau siapa," bohong Bulan kepada Vita. Dia akan menceritakan dengan Vita namun dia ingin lebih lanjut terlebih dahulu baru dia ceritakan kepada Vita, sahabat barunya di SMA Bina Marta ini.


"Bagaimana bisa lo tau kalau itu anak IPS. Sedangkan namanya lo aja nggak tau," sosor Vita kepada Bulan.


"Yah, aku nggak tau Vit, namanya siapa. Kamu 'kan tau aku belum ada seminggu sekolah disini." Bulan membelah dirinnya.


"Apa yang lo bilang emang benar. Tapi pertanyaannya, bagaimana bisa lo tau itu anak IPS? Bisa ajakan dia anak MIPA," sosor Vita kepada Bulan membuat gadis itu terdiam sembari memikirkan alasan apa yang akan dia berikan.


"Aku tau karna bajunya dia keluarin. Udah ngelanggar aturan sekolah. Biasanya 'kan yang suka kayak gitu anak IPS." Untung saja alasan itu langsung terbesit dalam pikiran Bulan.


Padahal Agas yang dia lihat tadi berpenampilan rapih, bajunya dia masukkan kedalam celana sekolanya serta dasi tertatah rapih serta Atribut sekolah yang lengkap.


Kecuali Laura yang sudah melanggar, bahkan sangat parah. Mungkin saja OSIS tidak ada sehingga gadis itu menggunakan cat rambut.


Vita memutar bola matanya malas kearah Bulan. "Bulan sayang, nggak semuanya anak IPS itu bandel. Dan nggak semuanya anak MIPA itu taat aturan sekolah. Lo lihat sendirikan Kak Alvaro anak Kelas MIPA yang selalu buat masalah," kata Vita yang memang benar.


Kata-kata Vita membuat Bulan tersenyum karna apa yang dikatakan Vita memang benar adanya. Tidak selamanya anak IPS yang selalu buat masalah dan tidak selamanya anak MIPA taat akan aturan sekolah, contohnya saja Alvaro anak MIPA 1.


***


Sedari tadi Mentari mengaduk minumnya dikantin seorang diri. Sementara Agas? Mentari tidak tau kemana cowok itu membawa Laura. Mentari harap Agas tidak melakukan tindakan yang lebih kepada Laura.


Huft


Ting.....


Hembusan nafas berat keluar dari mulut Mentari bersamaan dengan suara handponenya bergetar menandakan adanya pesan masuk.


Mentari melirik handponenya yang dia letakkan diatas meja kantin.


Mentari menyeritkan alisnya karna yang mengirimkan dirinya pesan adalah nomor yang tidak dia kenal. Lebih tepatnya lagi nomor yang mengirimkannya pesan tidak tersimpan di handphonenya.


"Buruan ke gerbang sekolah!"

__ADS_1


Nomor yang mengirimkan Mentari pesan menyuruhnya untuk buruan ke gerbang sekolah. Perasaan Mentari tidak mempunyai janjian kepada seseorang.


Mentari hanya mengabaikan isi pesan tersebut, karna dia pikir orang itu mungkin saja salah nomor.


Alvaro yang sedari tadi menunggu Mentari menarik nafasnya dalam-dalam karna sudah sepuluh menit dia mengirimkan pesan tersebut, namun gadis itu belum juga memunculkan batang hidungnya.


Dia mengecek handphonya kembali, dia melihat pesan yang dia kirimkan telah dibaca oleh Mentari dan gadis itu tidak membalasnya dan juga belum menampakkan batang hidungnya.


Tanya kekar Alvaro kembali mengetik pesan untuk dia kirim.


Mentari yang ingin beranjak dari kursi kantin yang dia duduki terhenti seketika karna sepertinya handponenya kembali bergetar menandakan adanya pesan masuk.


Mentari melihat nomor yang sepuluh menit yang lalu mengirimkannya pesan kini mengirimkannya kembali pesan.


"Ini nggak mungkin salah nomor," menolog gadis itu membaca pesan yang dikirim oleh nomor baru tersebut.


"Gue tunggu didepan gerbang sekolah. Gue Alvaro. Buruan lo kesini.",


Deg


Perasaan Mentari tidak janjian dengan sosok Alvaro, namun mengapa cowok dingin itu mengajaknya bertemu?


Hampir tiga tahun lamanya menjadi teman sekelas Alvaro, Mentari tidak memiliki nomor cowok itu. Namun sekarang Alvaro mengirimkannya pesan.


Mentari memasukkan handponenya didalam saku bajunya. Dia berjalan keluar kantin untuk segera menemui Alvaro.


Dikoridor sekolah Mentari hartanya-tanya. Ada apa dengan Alvaro yang ingin mengajaknya bertemu.


"Ada perlu apa Alvaro nyuruh gue kedepan gerbang sekolah." Mentari masih sibuk memikirkan apa yang ingin Alvaro sampaikan hingga cowok itu mencari dirinya.


Mentari memikirkan, apa kah dia pernah berbuat janji dengan Alvaro.


Dalam hitungan ketiga Mentari menepuk jidatnya. Dia baru ingat jika Alvaro saat itu belum membayar Coffe macchiato yang dia pesan dikedainya saat itu, karna Alvaro tidak membawa yang tidak tunai.


"Bisa aja 'kan dia kasi ke mama," menolog Mentari berjalan dengan cepat dikoridor sekolah untuk segera sampai didepan gerbang.

__ADS_1


Dia baru tau tujuan cowok itu menemuinya.


Mentari telah sampai di gerbang sekolah, dia langsung melihat Alvaro yang sedang menunggu dirinya sembari duduk dekat kursi gerbang sekolah.


"Al!" panggil Mentari sehingga membuat Alvaro melihat keasal suara. Dia melihat gadis itu berjalan menghampirinya.


Alvaro langsung berdiri dari kursi yang dia duduki. Ini yang tidak dia sukakan menunggu. hampir setengah jam Alvaro menunggu Mentari dan baru saja gadis itu menampakkan dirinya.


"Buat apa sih lo repot-repot kesini. Lo bisa aja kasi yang Coffe nya ke mama gue. Nggak usah repot-repot nyamperin gue kesini." Mentari langsung mengeluarkan kata-katanya setelah berhadapan dengan Alvaro.


Seperti biasa, cowok itu menggunakan hodie berwarna hitam polos serta celana hitam yang dia kenakan.


Sementara Alvaro menyeritkan alisnya mendengarkan penuturan dari gadis dihadapannya.


"Maksud lo?" tanya Alvaro dengan menaikkan alisnya sebelah dan jangan lupa wajahanya yang khas dingin dipadukan dengan sorot matanya yang tajam membuatnya semakin disegani jika seseorang melihat wajahnya.


"Lo kesini mau bayar Coffe yang waktu malam itu lo belum bayarkan?" Mentari berkata sembari melihat Alvaro yang juga menatapnya.


Alvaro menarik nafasnya panjang, ternyata gadis pikir dia kesini mau bayar uang Coffe waktu malam itu. Padahal Alvaro sudah membayarnya kepada mama Menteri.


"Al, lo kesini buat bayar itu 'kan?"


"Nggak." Singkat, padat dan jelas jawaban yang diberikan Alvaro membuat Mentari kikuk. Dia pikir Alvaro kesini buat membayar Coffe yang malam itu.


Ternyata dia salah. Seharusnya Mentari pikir dulu, tidak memungkinkan jika Alvaro membuang waktunya kesini hanya untuk membayar Coffe tersebut.


"Coffe malam itu udah gue bayar sama mama lo," lanjutnya membuat Mentari menjadi malu. Ternyata cowok itu sudah membayarnya dan dia pikir yang tidak-tidak!


"Terus lo ngajakin gue kesini buat apa?" Tanya Mentari penasaran.


"Tas."


"Ha?" Mentari tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Alvaro. Satu kata saja yang dikeluarkan cowok itu. Yaitu kata tas. Mana mengerti Mentari.


"Maksud lo apa sih Al. Tas apa?" tanya Mentari membuat Alvaro menarik nafasnya panjang. Ternyata gadis itu pelupa. Bagaimana bisa dia menjadi ketua kelas selama itu jika kejadian dua hari yang lalu tidak dia ingat.

__ADS_1


__ADS_2