Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Alvaro curhat pada Mentari


__ADS_3

Seperti biasa, Alvaro akan duduk di kursi pojok, meja nomor tiga.


Mentari sedang meracik coffe macchiato untuk Alvaro.


''Yang pesan coffe macchiato teman kamu yang Bulan atau Alvaro?'' tanya Runi saat melihat anaknya sedang membuat coffe macchiato.


Pelanggan yang sering memesan coffe macchiato hanya dua orang saja. Yaitu Bulan dan Alvaro.


''Alvaro, Ma,'' jawab Mentari membuat Runi mengangguk paham.


''Agas mana?'' tanya Runi. ''Kamu nggak pulang bareng Agas, Tar?'' Runi menggeser kursi seraya mendudukkan dirinya di kursi.


Dia sudah mengantar pesanan pelanggannya di meja tadi.


''Mentari pulang bareng sama Alvaro, Ma.'' Ada sedikit rasa menggeliat.


Bagaimana tidak, jika Mentari biasa curhat mengenai Alvaro kepada Runi. Karena cowok itu selalu mengusahakan dirinya di sekolah.


Dan sekarang dia mengatakan, jika dirinya pulang bareng dengan Alvaro. Runi hanya tertawa kecil seraya menggelengkan kepalanya.


Drt...


Ponsel milik Alvaro bergetar, dia melirik ponselnya. Rupanya yang menelponnya adalah Renal.


Cowok itu sendiri yang menyimpan nomornya di ponsel milik Alvaro, entah bagaimana bisa cowok itu mengambil ponselnya.


''Alvaro! Lo dimana hah! Gue capek nungguin Lo di mansion Lo ini!'' kesal Renal dengan suara keras, membuat Alvaro langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.


''Bukan mansion gue,'' ralat Alvaro dengan dingin. ''Tapi mansion milik Frans,'' lanjutnya membuat Renal di seberang berdecak kesal.


''Iya-iya! Sekarang lo bilang, lo dimana?'' tanya Renal.


''Cafe,'' jawabnya dengan singkat.


''Buruan share lock, enak aja lo nongkrong nggak ajak-ajak gue, Al. Lo nggak tau kalau gue ini utusan papa lo!''


Tidak ingin mendengar ocehan Renal lebih lama lagi, dia langsung mematikan telfonnya lalu kemudian men share lock lokasi cafe yang dia tempati sekarang.


Renal langsung pergi dari mansion megah milik tuan Frans dan anak semata wayangnya itu.


Renal tak habis pikir dengan Alvaro, dia tinggal nurut aja kemauan Frans maka hidupnya akan tenang.

__ADS_1


Mendengar apa yang di katakan Frans kepada Renal, jika Alvaro itu pembangkang. Tidak ingin mendengar ucapan papa Frans, sehingga Frans selalu marah kepadanya.


Renal langsung melajukan motornya untuk segera menghampiri Alvaro.


Setelah coffe macchiato pesanan Alvaro sudah jadi, gadis itu langsung membawa coffe macchiato Alvaro.


Mentari meletakkan coffe itu diatas meja milik Alvaro, sehingga Alvaro melirik Mentari.


Alvaro tiba-tiba saja mengingat ucapan Renal saat mereka di kelas.


Apa gue udah mulai suka sama Mentari?


Mentari dan Alvaro saling bertatapan, seakan-akan mereka berdua tidak ingin melepaskan tatapannya.


''Lo bisa duduk di sini?'' tanya Alvaro membuat Mentari menaikkan alisnya sebelah.


''Maksud Lo?''


''Temenin gue duduk di sini sambil nunggu Renal,'' jelas cowok itu membuat Mentari mengangguk kakuh.


Haruskah dia berdekatan dengan Alvaro?


Apa lagi pesanan semua pelanggan sudah di antarkan, jadi tidak ada alasan bagi Mentari untuk menolak Alvaro.


''Gue bisa,'' balas Mentari, lalu duduk berhadapan dengan Alvaro.


Mentari serasa ingin membeku di dekat Alvaro, bagaimana tidak jika cowok itu menampilkan wajah dingin ya.


Apa lagi mereka berdua tidak mengucapkan sepatah katapun..


''Kalau lulus sekolah, mau lanjut dimana Lo kuliahnya?'' tanya Alvaro seraya menyesap coffe buatannya.


''Cuman di sini, di Jakarta. Gue punya impian mau kuliah di luar negeri, tapi mimpi gue kubur karena gue mengerti kerjaan orang tua gue,'' jelas Mentari membuat Alvaro mengangguk kecil.


''Kalau lo sendiri mau lanjut dimana?'' tanya Mentari membuat Alvaro tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


''Gue nggak lanjut,'' jawab Alvaro membuat Mentari tersenyum tipis..


Dia tidak perlu menanyakan kenapa Alvaro tidak lanjut kuliah, karena dia berpikir mungkin orang tua Alvaro tidak mampu membiayai kuliah anaknya.


Meski di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Mentari tidak yakin jika Alvaro hanya anak supir.

__ADS_1


''Gue nggak lanjut karena lulus sekolah nanti, gue bakalan urus perusahaan papa gue.''


Deg


. Perusahaan?


Alvaro yang melihat wajah terkejut Mentari membuatnya tertawa untuk pertama kalinya. Mentari terpaku dengan tawa milik Alvaro yang membuatnya semakin tampan.


''Orang-orang taunya gue anak supir, semenjak gue masuk kantor karena berantem sama Steven. Yang datang saat itu adalah supir di mansion, dia bukan orang tua gue,'' lanjut Alvaro.


''Namanya pak Farhat, dia orang yang selalu ngajakin gue main sejak gue kecil, karna papa gue saat itu sibuk urus bisnisnya yang kecil saat itu, berkat ambisinya dia menjadi pebisnis yang berpengaruh di kota ini,'' kata Alvaro seraya menyesap coffe macchiato yang di buatkan Mentari untuknya.


Entahlah, mengapa Alvaro langsung main curhat aja dengan gadis di hadapannya ini, padahal mereka berdua tidak pernah sedekat ini.


Udah gue duga.


''Terus mama lo kemana?'' tanya Mentari dengan rasa penasaran.


Dia ingin tahu, sejauh mana sosok cowok yang terkenal dingin, irit bicara ini menyimpan masalah dengan sendiri.


Sehingga terciptalah sosok Alvaro yang seperti ini karna masalah yang dia pendam.


Alvaro hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Mentari membuat gadis itu merasa bersalah. Mungkin saja Alvaro tidak ingin mengatakan sesuatu yang di pertanyakan oleh Mentari.


''Sorry,'' maaf Mentari kepada Alvaro. ''Nggak perlu lu jawab,'' lanjutnya kepada Alvaro.


Alvaro tersenyum tipis. ''Mama ninggalin gue saat gue masih kecil. Entahlah alasnya apa, masih nampak abu-abu buat guee,'' Alvaro menjawab pertanyaan Mentari.


Mentari sampai melihat Alvaro yang nampak berbeda, dia berbagi cerita dengan ketua kelas yang selalu dia susahkan di dalam kelas.


''Sampai sekarang, gue nggak tau gimana lekuk wajah wanita yang melahirkan gue di dunia ini. Gue mau lihat wajah wanita yang udah lahirin gue. Sejujurnya, gue merindukan mama gue sendiri,'' curhatannya membuat Mentari terdiam.


Mentari tidak menyangka, jika Alvaro mempunyai masalah kelit seperti ini mengenai keluarganya.


Bisa Mentari simpulkan, jika cowok di hadapannya kekurangan kasih sayang. Benar yah kata orang, percuma saja hidup bergelimang harta, jika batin tersiksa di sertai kekurangan kasih sayang.


Dila yang tidak sengaja mendengar obrolan Alvaro dan Mentari, meremas ujung bajunya. Rasanya sangat sakit melihat anaknya curhat mengenai dirinya.


''Al, kamu udah lihat mama, nak. Mama akan berusaha biar selalu ada buat kamu dan keluarga baru mama,'' guman Dila seraya mengusap air matanya dengan kasar.


Dia langsung pergi dari sana, sebenarnya dia ingin menemui Alvaro sesuai dengan janjinya saat itu.

__ADS_1


Jika dia pulang berlibur, maka dia akan menemui anak itu untuk berbagi keluh kesah mengenai Frans yang merupakan mantan suaminya sendiri.


Yah, Dila adalah mama Alvaro. Tidak ada orang -orang yang mengetahui soal ini.


__ADS_2