
Mentari menatap Agas dan Steven bergantian, cowok itu kembali beradu jotos, untung saja ini bukan lingkungan sekolah.
Tapi pengujung pada kabur, mana mereka belum membayar makanan yang mereka pesan.
''Gas,'' panggil Mentari, sementara cowok itu menundukkan kepalanya karna merasa bersalah kepada Mentari.
‘’Sorry, Tar,'' ucap Agas seraya bertatapan dengan wajah milik Mentari.
Mentari melihat luka cowok itu lumayan parah.
''Nanti gue ganti semua,'' lanjut cowok kepada Mentari.
''Obatin luka lo, di meja kasir ada kotak obat,'' ujar Mentari membuat Agas menggelengkan kepalanya.
''Luka gue yang ini, nggak sesakit saat lihat lo pegangan tangan dengan dia.'' Agas melirik Alvaro membuat cowok itu hanya menampikan wajah dinginya saja.
Dia tidak berminat membalas ucapan Agas.
''Nggak sengaja,'' ucap Mentari membuat Agas masih belum mengalihkan pandanganya dari Alvaro.
Sementara Steven sedang mengerutuki dirinya, dia baru tau jika wanita yang dia bentak adalah ibunya Mentari.
''Tar, obatin luka gue,'' ucap Agas membuat Steven, langsung mendelik kearah Agas.
''Manja banget lo. Kalau Mentari obatin luka lo, Mentari juga harus obatin luka gue!'' desis Steven kepada Agas membuat kedua cowok tampan itu beradu pandang kembali.
''Kalau lo yang nggak ngomong kasar sama tante Runi, gue nggak bakalan kotorin tangan gue buat mukul lo!'' beber Agas membuat Steven terdiam.
__ADS_1
Mentari yang mendengar percekcokan Agas dan Steven menarik nafasnya panjang.
Jangan sampai mereka nambahin beban gue.
Mentari berjalan mengambil kotak P3k, jika dia membiarkan luka kedua cowok itu tanpa di obati, bisa-bisa akan infeksi.
Alvaro menatap Agas dan Steven secara bergantian dengan wajah dinginya.
''Yang diam bakalan jadi pemenangnya,'' ucap Alvaro dengan dingin.
Agas dan Steven mengepalkan tanganya, sehingga urat-urat tangan kedua cowok itu terlihat jelas.
''Diam menghanyutkan,'' lanjut Alvaro dengan senyuman tipis yang nyaris tak terlihat.
Alvaro berjalan menuju meja tempatnya tadi, dia ingin kembali menikmati coffe macchiato meski tanpa Mentari lagi.
Karna dia tau, gadis itu akan mengurus Steven dan Agas.
Mentari datang membawa kotak obat, sementara kedua cowok itu sudah duduk. Sementara Alvaro sudah kembali di tempat duduknya menikmati coffe macchiato miliknya.
Mentari meletakkan kotak obat itu diatas meja.
''Tar, jangan dekat-dekat sama Alvaro.'' Terdengar nada cemburu keluar dari mulut Agas.
''Lo juga, nggak usah dekat-dekat sama, Mentari!'' raung Steven membuat Agas melirik cowok itu lalu kembali menatap Mentari.
''Obatin luka kalian, gue mau beresin ini dulu.'' Mentari pamit kepada kedua cowok itu.
__ADS_1
Di dalam cafe hanya ada merek berempat, yaitu Steven, Agas, Mentari dan Alvaro.
Drt....
Ponsel milik Agas bergetar, rupanya yang menelfon adalah maminya Tiara.
''Halo, Mi,'' sapa Agas setelah menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya.
‘’Pulang, Gas. Mami ada di rumah,'' balas Tiara di ujung Telfon membuat Agas mengerutkan keningnya.
''Bukanya Mami di malang?'' tanya Agas, karna maminya kemarin dulu sudah ke malang.
''Pulang aja dulu,'' perintah Tiara membuat Agas langsung mengiyakan permintaan maminya itu.
Agas berdiri dari kursi yang dia duduki, lalu menghampiri Mentari yang sedang mencuci piring di dalam.
''Tar,'' panggil Agas membuat gadis itu langsung meliriknya.
''Gas, itu lukanya belum lo obatin,'' ucap Mentari membuat Agas tersenyum tipis.
''Mami nyuruh gue pulang, mami balik lagi deh dari malang. Nanti lukanya di rumah baru gue obatin,'' ucap Agas membuat Mentari mengangguk mengiyakan ucapan Agas.
''Salam sama tante, Tiara,'' ucap Mentari membuat Agas sengaja mengeraskan suaranya, karna Alvaro dan Steven sedang memperhatikan mereka.
''Bakalan gue salamin sama calon mama mertua, Tar,'' ucap Agas sehingga Alvaro dan Steven mendengarnya dengan jelas.
Mereka tahu, jika Agas sengaja membesarkan suaranya agar mereka berdu tahu. Mereka sadar, jika Mentari dan Agas sudah sangat dekat, itu berarti mereka berdua akan sedikit sulit.
__ADS_1
Namun tetap saja, mereka akan bersaing untuk mendapatkan Mentari.
Mentari hanya tertawa kecil mendengar ucapan Agas. Cowok itu pamit kepada Mentari dengan senyum kemenangan melewati Alvaro dan Steven.